My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Janji Untuk Merahasiakannya


Keluar dari ruang kerja Om Ai. Hanna langsung menghadang Rey. "Apa mau mu sebenarnya, Rey!"


"Aku hanya ingin tahu, mengapa anakku meninggal. Dan jika kau tetap bersikeras untuk merahasiakannya, aku akan mencari tahu nya sendiri dengan caraku!" Dengan raut wajah seriusnya. Sikapnya sangat berbeda dengan yang ditunjukkan di hadapan Om Ai sewaktu di ruangannya tadi. Kini, Rey bersikap benar benar sangat aneh. Seakan itu bukan dirinya sendiri.


"Baik! Lakukanlah sesuka mu. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada Anakmu!" Hanna membalas tatapan Rey tak kalah tajam.


Seakan, Hanna ingin memberi hukuman pada Rey. Semakin ia ingin tahu, semakin Hanna akan bersikeras untuk tidak akan pernah mengungkapkannya.


Lihat saja, siapa yang akan lebih keras!


Hanna, berdengus kesal. Lalu mengambil langkah menjauh dari Rey.


"Tidak perlu terburu-buru, kau boleh masuk kerja minggu depan." Teriak Rey, pada Hanna yang sudah berlalu agak menjauh.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Hanna. Kau harus bertanggung jawab atas meninggalnya anakku!" Gumam Rey, dengan tatapan penuh amarah. Menatap punggung Hanna yang berlalu pergi.


*


Hanna, menghempaskan dengan kesal tubuhnya ke kursi di balik meja kerjanya.


"Dulu kau bahkan tak mengharapkan anakmu Rey!" Kesal Hanna, pun dengan amarahnya.


Setelah pertemuannya dengan Rey. Hanna bak mengulang kembali memori lamanya. Tiba tiba saja ia teringat dengan Tante Lalita dan Om Surya. Juga Raffael yang sudah begitu baik padanya dulu. Tiba tiba saja ia penasaran seperti apa kabar mereka sekarang.


Benak Hanna bertanya-tanya, apa kedua orang tua Rey juga akan membenci Hanna jika tahu cucu mereka telah meninggal, dan akan menuduh Hanna seperti yang dilakukan Rey.


"Ya, aku memang berhak disalahkan." Gumam Hanna sambil menuntup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


*


Hanna, memilih mengunjungi kediaman Om Ai dan Tante Enny sebelum pulang ke kediamannya. Ia rindu dengan gadis kecil yang selama kurang lebih dua tahun ini telah menjadi pengobat rindu dirinya pada Anaknya. Lucy, gadis yang kini berumur 3 tahun itu adalah cucu Om Ai dan Tante Enny dari anak semata wayangnya Shasya.


Sha, sapaan akrab untuk Shasya. Ia berumur lebih tua 5 tahun dari Hanna. Dan juga telah menganggap Hanna lebih dari sekedar adik angkat, ada cerita dibalik ke akraban mereka berdua.


"Anakku.. Kau dimana..?" Panggil Hanna, saat memasuki kediaman megah Om Ai. Hanna meletakkan tasnya di atas sofa ruang tengah, lalu berjalan menuju ke kamar Lucy. "Anakku.. I miss you!" Lanjut Hanna, diiringi dengan kekehannya. Ketika melihat Lucy yang beru keluar dari kamarnya bersama Shasya dan langsung berlari ke arahnya.


"Congratulation..." Ucap Shasya, yang baru saja berdiri di hadapan Hanna.


"What?" Tanya Hanna, tak mengerti dengan ucapan selamat itu. Keduanya pun berjalan bersamaan menuju ruang tengah. Setelah Hanna menggendong Lucy.


"Aku dengar, kau dapat tawaran kontrak dengan gaji tinggi." Lanjut Shasya.


Hanna langsung menghela nafas. "Berita itu cepat sekali menyebarnya." Keluhnya, sambil menunjukkan wajah tak semangatnya.


"Kenapa ekspresimu seperti itu?" Shasya terkekeh heran, baru kali ini ia lihat orang yang tak semangat ketika mendapatkan tawaran pekerjaan dengan gaji selangit.


Shasya dan Hanna duduk di sofa ruang tengah. "Kau akan terkejut jika tahu yang sebenarnya, Sha!" Imbuh Hanna akhirnya.


Shasya langsung memasang wajah seriusnya. "Memangnya ada apa?" Tanya Shasya penasaran.


"Janji, kau akan merahasiakannya!" Hanna, menjulurkan kelingkingnya ke arah Shasya. Shasya langsung dengan cepat melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Hanna.


"Mommy .. Mommy .." Panggil Lucy akhirnya, membuat Hanna yang baru saja membuka mulutnya, dan berniat mengatakan rahasia itu pada Shasya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Lucy. "Iya sayang.." Jawabnya lembut.


"Can you sleep with me tonight?" (Bisakah kau tidur denganku malam ini?) Tanya Lucy sambil memeluk leher Hanna, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna.


"Hemm .." Hanna pura pura berfikir. "Of Course." Jawab Hanna akhirnya sambil tersenyum. Membuat gadis kecil itu langsung jingkrak jingkrak kegirangan. Lalu mencium pipi Hanna berulang kali.


Membuat Shasya yang melihat tingkahnya ikut terkekeh.


"So..! Apa yang ingin kau katakan tadi." Shasya kembali menagih rahasia Hanna.


"Sebenarnya-"


"Sayang.." Panggil Bram, suami Shasya. Yang baru saja pulang dari kantor.


Untuk kedua kalinya, rahasia itu kembali tertunda dikatakan Hanna.


Next>>>