My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Siapa Yang Paling Menyedihkan


"Apa yang ingin kau masak?" Tanya Rey yang kini sudah berdiri disamping Hanna.


"Malam ini aku ingin makan seafood." Imbuh Hanna, sambil mengeluarkan satu persatu bahan dari kulkas.


"Apa kau sedang ngidam?" Tanya Rey asal. Sambil membantu Hanna membersihkan beberapa udang, cumi, dan teman temannya yang lain.


"Ch.. Tahu apa kau tentang ngidam!"


"Kenapa kau dulu tidak pernah ngidam? Bukankah biasanya orang hamil itu akan ngidam." Rey tampak benar benar penasaran dengan itu.


"Kau saja yang tidak tahu." Jawab Hanna datar.


"Bagaimana mungkin aku bisa tahu, kalau kau tak memberitahukannya." Protes Rey.


"Mana sempat aku memberitahukannya padamu, ketika kau begitu sibuk menghabiskan waktu dengan Myesa."


Mendengar kalimat itu, tangan Rey yang sedang mengupas kulit udang langsung terhenti, lalu menoleh ke arah Hanna.


Benarkah? Apa saat itu ia benar benar begitu sibuk dengan MYesa hingga lupa kalau Hanna juga membutuhkan dirinya.


"Maafkan aku.." Lirih Rey akhirnya.


Hanna terkekeh. "Kata maafmu sudah terlambat. Aku tidak membutuhkannya lagi sekarang."


Kalimat itu, semakin membuat Rey merasa bersalah. Mungkinkah itu yang akhirnya membuat Hanna memilih untuk bercerai? Pikirnya menerka nerka.


"Jadi .." Ucap Rey menggantung, lalu melangkah mendekati Hanna yang sedang memanaskan wajan untuk memasak seafood yang sudah dibersihkan dan dibumbui. "Karena itu kau memilih bercerai denganku?" Tanya Rey akhirnya.


Hanna langsung menoleh dengan cepat. "Apa maksudnya? Bukankah kau yang menceraikanku!" Imbuh Hanna dengan sudut bibirnya sedikit terangkat.


"Aku tidak pernah menceraikanmu!" Rey dengan wajah seriusnya, tampak kebingungan.


Hanna, langsung mematikan kompor. Kali ini, ia harus berbicara dengan serius untuk membahas dan memperjelas semuanya.


Ia menarik pergelangan Rey, lalu membawanya ke ruang tengah dan duduk disana.


"Malam itu, ada wanita yang mengaku sebagai pengacaramu. Ia menemuiku di acara amal dan menyerahkan surat cerai yang sudah kau tanda tangani." Hanna menceritakan apa yang terjadi.


Rey tampak terkejut. "Aku tidak pernah menandatangani surat cerai itu. Aku justru berfikir kau yang sudah dengan sengaja menyelipkan surat itu di antara berkas yang harus aku tanda tangani." Imbuh Rey akhirnya.


Hanna terkekeh. "Jadi ada yang dengan sengaja melakukan itu."


Hanna hanya terdiam. Ia mencoba memikirkan siapa yang berkemungkinan melakukan itu, tapi juga tidak ingin asal menebak.


"Sudahlah, lagi pula itu sudah berlalu dan terjadi." Imbuh Hanna akhirnya, lalu kembali beranjak dari duduknya.


"Mana bisa begitu? Itu benar benar merugikan kita!" Protes Rey yang tak terima. Lalu melangkah mengikuti Hanna yang sudah kembali ke dapur dan kembali melanjutkan memasaknya.


Rey, hanya berdiri sambil memperhatikan Hanna yang tampak tak ingin lagi memikirkan hal yang sudah berlalu itu.


Kenyataannya, tak ada yang bisa di ubah.


Rey melangkah, lalu memeluk Hanna dari beakang.


"Rey, apa yang kau lakukan." Ucap Hanna yang sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Rey saat ini.


"Seandainya tak ada yang menjebak kit, apa kita masih suami istri hingga sekarang?" Tanyanya sambil membenamkan wajahnya di pundak Hanna.


"I don't know.." Hanna tak dapat memastikan itu, karena perasaan manusia sangat rentan dengan perubahan. Ia bisa berubah kapan saja.


"Seharusnya kau tidak mempercayai itu begitu saja saat itu, seharusnya kau tanya langsung padaku terlebih dulu." Lirih Rey.


"Jadi maksudmu, itu semua salahku?" Protes Hanna.


"Tidak! Dia yang telah menjebak kita yang bersalah. Dan aku akan membuatnya bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan." Pungkas Rey.


Hanna justru terkekeh.


"Kenapa kau malah tertawa?" Rey mengalihkan pandangannya ke arah wajah Hanna.


"Tidak, aku tidak tertawa. Tapi hanya menyeringai. Mengingat malam itu aku sangat menyedihkan, dan sedangkan kau.. Begitu menikmati malammu dengan Myesa." Imbuh Hanna.


"Siapa bilang aku begitu menikmati malam itu?"


"Aku melihat sendiri, foto kalian yang tertawa dengan raut wajah bahagia." Hanna menambahkan.


"Foto?" Rey mengernyitkan keningnya. Mengapa foto itu bisa sampai diketahui oleh Hanna?


"Bisa kau lepaskan pelukanmu sekarang? Atau masakanku akan hangus!" Pungkas Hanna, sambil melepaskan tangan Rey yang sedang melingkar di perutnya.


Next >>>