My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Izin Kembali


"Kemana perginya.." Rey merogoh ponsel dari saku celananya. Lalu langsung menghubungi kontak Hanna.


"Kau dimana?" Tanya Rey langsung, ketika panggilan itu diterima oleh Hanna.


"Aku-"


"Kembali sekarang juga!" Sela Rey, tanpa mau tahu jawaban Hanna apa.


Setelahnya, panggilan itu langsung dimatikan.


*


Myesa, merenggangkan tubuhnya. Ia tidur sangat nyenyak, bahkan sampai bangun kesiangan. Ia langsung mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Rey. Tapi yang ia temukan hanya sebuah notes yang tergeletak di atas nakas.


'Aku harus kembali lebih cepat, karena ada pekerjaan mendesak. Sarapanmu, sudah aku siapkan di meja makan.' Isi dari notes itu, membuat Myesa langsung senyum senyum sendiri. Ia lega, Rey masih perhatian padanya.


Dengan semangat, Myesa bangkit dari tempat tidur. Mandi, makan, lalu bersiap.


*


Tok!Tok!


Rey langsung bergegas untuk membukakan pintu. Tapi, pandangannya langsung terarah ke samping Hanna.


"Kau!"


"Mengapa ekspresimu seperti itu?" Tanya Raffael sambil terkekeh, lalu langsung melangkah masuk kedalam kamar hotel Rey dan duduk di sofa.


Sedangkan Hanna, hanya membalas tatapan tajam Rey ke arahnya dengan senyuman canggung.


"Jadi kalian keluar bersama?" Tanya Rey, lalu ikut duduk di sofa bersama Raffael.


Pun begitu dengan Hanna, yang juga bergabung bersama kedua pria itu di sofa.


"Rey, aku akan kembali bersama Rafa hari ini." Ujar Hanna kemudian.


Rey langsung menoleh ke arah Hanna dengan cepat.


"Atas izin siapa?" Tanyanya dengan ekspresi serius.


Hanna mengernyitkan keningnya. "Apa aku butuh izin untuk itu?"


"Lalu, menurutmu tidak?"


"Terutama Myesa." Batin Hanna.


"Jadi aku kembali dengan Rafa saja. Lagi pun, ada pekerjaan yang belum aku selesaikan di kantor." Hanna bersikeras. Setelahnya, ia bangkit. Mengambil tas nya yang diletakkan di atas nakas. "Ayo, Raf." Imbuhnya, sambil terus berjalan keluar dari kamar itu.


Raffael pun akhirnya ikut bangkit. Begitu juga dengan Rey.


"Sebentar.." Ujar Rey akhirnya, untuk menghentikan langkah Hanna. "Bisa kau tunggu dimobil dulu." Ucap Rey pada Raffael.


"Baiklah.." Raffael mengangguk. Lalu melanjutkan langkahnya, ia keluar dari kamar itu dan menunggu Hanna di mobil.


Rey mendekati Hanna, yang masih berdiri tak jauh dari pintu.


"Ada yang ingin kau bicarakan?" Hanna memastikan.


"Tentu!" Rey berdiri tepat di hadapan Hanna. "Kau tahu caranya mempergunakan ponselkan? Jadi gunakan itu dengan baik. Bawa kemanapun kau pergi, dan terima setiap panggilan dari ku!" Sarkas Rey.


Hanna justru terkekeh. "Bukankah justru kau yang tidak tahu caranya menggunakan ponsel."


"Kau ini!" Sebuah jitakan melayang di kening Hanna. "Selalu saja membatah omonganku!" Lanjut Rey.


"Auu.." Pekik Hanna sambil mengelus keningnya. "Baiklah .. baiklah! Kau hanya ingin katakan itu?"


"Jaga dirimu dan anak kita dengan baik. Aku kembali dua hari lagi."


Hanna mengangguk. "Baik, Pak Rey." Ia menurut saja. Diiringi senyuman manisnya seperti biasa.


Lalu setelahnya, sebuah kecupan mendarat dibibir ranum Hanna.


"Langsung hubungi aku, jika sudah sampai!"


Hanna yang sedang tersipu dengan pipi memerah, kembali mengangguk. "Emp!" Jawabnya, setelah itu berlalu pergi meninggalkan kamar itu dan kembali menemui Raffael di mobil.


*


Rey melepaskan kepergian Hanna, walaupun sedikit tidak merelakan Hanna kembali dengan Raffael. Sebenarnya ia ingin menahan Hanna selama dua hari lagi disana. Dan akan membawa Hanna kembali bersamanya. Tapi, ia harus menghadapi Myesa yang pasti akan berulah jika itu sampai terjadi. Maka dengan itu, akhirnya Rey dengan sangat terpaksa harus membiarkan Hanna kembali hari itu juga.


Rey menarik nafas dalam, setelah melirik ke arah buah dan makanan yang tergeletak di atas meja makan. Hanna bahkan tak tahu, seberapa semangatnya Rey menyiapkan itu semua.


Next>>>