
"Jangan lupakan Lucy, ketika nanti kau sudah punya anak sendiri." Imbuh Myesa, ketika mereka sedang menemani Lucy menonton kartun kesukaannya.
"Itu tidak akan pernah!" Jawab Hanna begitu yakin. Sambil memandang ke arah Lucy yang sedang begitu fokus dengan tontonannya.
*
Hanna kembali ke apartemen, agak terlambat. Karena begitu menikmati bermain dengan Lucy, ia sampai lupa waktu. Sesampainya di apartemen ternyata semua lampu masih mati, dan itu menandakan Rey belum kembali.
"Tumben sekali Rey belum pulang jam segini." Hanna melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Ia meraih ponselnya, lalu menghubungi kontak Rey.
Tapi, hingga beberapa kali tetap saja tak ada jawaban.
Hanna mengernyitkan keningnya, berjalan menuju ke kamar sambil terus menghubungi ponsel Rey.
"Surprise...." Imbuh Rey ketika Hanna masuk kedalam kamar. Lengkap dengan kue ulang tahun dan topi kerucutnya.
Ekspresi excited Hanna tampak sangat jelas.
"Rey.. Kau...!" Hanna tersenyum bahagia.
"Selamat ulang tahun sayang." Sebelah tangan Rey melingkar di pinggang Hanna dan kecupan mendarat di pipinya.
"Terimakasih.. Tapi kurang 3 jam lagi, sayang." Hanna balas mengecup pipi Rey.
"Aku ingin jadi yang pertama mengucapkannya. Make a wish!" Imbuh Rey.
Hanna langsung memejamkan matanya, lalu memanjatkan doa.
Saat akan meniup lilin.. "Please wait.." Rey menarik kue agak menjauh dari Hanna. "Aku juga ingin buat permohonan." Lanjutnya.
"Semoga Tuhan segera menggantikan anak kita." Dengan tatapan lekat memandang netra Hanna. Rey, berdoa dengan tulus.
Sebuah senyuman tipis langsung merekah di wajah Hanna.
Setelahnya, merekapun meniup lilin bersama.
"Aku pikir kau belum pulang dari kantor." Ucap Hanna ketika keduanya berjalan menuju ruang tengah.
"Tentu saja karna terlalu asik bermain dengan Lucy." Hanna mengambil piring dan garpu.
Sedangkan Rey, beranjak untuk mengeluarkan beberapa minuman kaleng dari dalam kulkas.
Keduanya pun menikmati kue ulang tahun bersama diruang tamu sambil menonton.
"Mana hadiahnya..?" Tagih Hanna.
Rey langsung terkekeh. "Kau ingin hadiah apa memangnya?"
"Jadi kau belum menyiapkan hadiah untukku?"
Rey menggeleng. Lalu menarik Hanna hingga tergeser sangat dekat dengannya.
Hanna menoleh, menatap Rey yang kini juga sedang menatapnya sangat dalam.
Rey meraih piring yang berada ditangan Hanna, meletakkannya di atas meja. Mencolek krim yang berada di atas kue itu lalu menowel hidung Hanna.
"Aaa Rey.." Rengek Hanna, ketika kini krim itu sudah melekat dihidungnya.
Rey ikut terkekeh, saat Hanna akan menghapus krim itu dari hidungnya, Rey justru menahan tangan Hanna. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna. Lalu, ******* krim itu perlahan. Pun dengan Hanna yang ikut memejamkan matanya perlahan.
Diiringi musik biola yang lembut, Rey mulai mencumbu Hanna perlahan. Tangannya mendekap Hanna erat, Pun dengan Hanna yang juga membalas dekapan itu.
Rey merebahkan Hanna di atas sofa\, perlahan membuka kanjing baju Hanna. Des*han halus yang lolos dari mulut Hanna membuat Rey semakin berg*irah.
Sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana menembus ****** Hanna. Hanna menggeliat membusungkan dadanya dengan mata terpejam. Tangannya meremas lengan Rey kuat\, seiiring dengan ritme yang semakin di percepat.
Rey menembakkan sepenuhnya ******nya kedalam ***** Hanna.
"Boleh aku jadikan ini sebagai hadiah ulang tahun untukmu?" Bisik Rey tepat di telinga Hanna yang sedang mengatur nafasnya.
Dengan mata yang masih terpejam, Hanna tersenyum tipis mendengar itu.
Next >>>