My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Pertemuan Yang Tak Terduga


_______London_______


06.15 Waktu setempat. Rey mendarat di Lodon, ia langsung menuju ke apartemennya. Setelah istirahat sebentar, ia bangun lalu bersiap untuk ke grand opening cabang Zillow Group.


*


08.30 Waktu setempat. Hanna, dengan terburu buru langsung melajukan mobilnya menuju ke perusahaan tempat ia bekerja. Menjabat sebagai Marketing Advisor selama dua tahun ini, membuat kehidupan Hanna berubah total. Dengan penghasilan tinggi, kini ia hidup dengan sangat berkecukupan.


"Maaf, Pak. Saya terlambat." Ucap Hanna, sembari mengatur nafasnya yang ngos ngosan. Karena dengan terburu buru menemui atasannya yang sudah menunggunya.


"Memangnya kapan kau pernah tidak terlambat, Hanna." Imbuh sang atasan yang sudah berusia paruh baya itu sambil terkekeh. "Ayo.." Lanjutnya kemudian.


Hanna menganguk, tentu saja dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Ia pun mengikuti Atasannya, yang berjalan menuju ke mobil. Merekapun melaju ke suatu tempat.


Pagi pagi sekali, Hanna menerima pesan dari atasannya. Ia ingin mengajak Hanna untuk menghadiri grand opening perusahaan cabang milik sahabatnya. Pemberitahuan dadakan itulah, yang akhirnya membuat Hanna menjadi terburu buru.


Hanna, duduk disamping atasannya. Dan kembali mengatur nafasnya.


Bisa dikatakan, Hanna salah satu orang yang cukup berpengaruh di perusaahan itu. Dan menjadi kesayangan atasannya bahkan sudah di anggap seperti anak sendiri.


*


Sesampainya disana, gedung itu sudah di padati oleh para reporter dan wartawan yang akan meliput grand opening perusahaan besar itu.


Kedatang mereka langsung di sambut oleh pemilik perusahaan yang tak lain adalah, Rey!


"Om.." Sapa Rey, dan berniat akan menghampiri Om Aiden, Atasan Hanna yang biasa di sapa dengan panggilan Ai. Tapi seperdetik kemudian. Pandangannya langsung teralihkan ke arah Hanna, yang sedang berjalan disamping Om Ai menuju ke arahnya. Langkahnya terhenti, ekspresinya berubah.


Pun dengan Hanna, yang tak kalah tercengangnya saat mengetahui bahwa ia sedang menghadiri grand opening perusahaan Rey. Langkahnya pun melambat.


"Selamat ya, Rey." Ucap Om Ai sambil menjulurkan tangannya ke arah Rey.


"O-oh.. Iya Om, Terimakasih." Imbuh Rey, yang sempat tercengang beberapa saat. Lalu membalas jabatan tangan Om Ai.


"Ohya, perkenalkan. Ini Hanna! Marketing Advisor di perusahaan Om." Om Ai memperkenalkan Hanna, yang baru saja berdiri disampingnya.


Rey langsung menjulurkan tangannya ke arah Hanna. "Rey.." Ucapnya memperkenalkan diri. Sedangkan tatapannya, menatap tajam kedalam netra Hanna.


"Hanna.." Balas Hanna, ikut berjabat tangan dengan Rey.


"Ayo silahkan masuk Om." Ucap Rey mempersilahkan Om Ai untuk masuk kedalam Ruang Aula.


Om Ai mengangguk sambil tersenyum, setelah itu mulai mengambil langkah untuk masuk. Sedangkan Hanna, yang baru saja akan mengikuti langkah Om Ai langsung di hentikan oleh Rey.


Rey meraih tangan Hanna, lalu langsung membawanya menjauh dari sana. Tanpa sepengetahuan Om Ai yang sudah berjalan terlebih dulu masuk kedalam Aula.


"Apa yang kau lakukan, Rey!" Pekik Hanna, lalu menarik tangannya dengan paksa agar terlepas dari genggaman Rey.


Setelah terlepas, Rey yang masih hanya diam. Kembali meraih tangan Hanna, dan membawanya hingga sampai keruangannya.


Rey baru melepaskan tangan Hanna, setelah mengunci pintu ruang kerjanya itu.


Rey, benar benar tidak menyangka akhirnya ia kembali di pertemukan dengan Hanna. Dengan cara yang tak pernah terduga.


Rey sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Hanna setelah 3 tahun lamanya menanti.


"Akhirnya, aku menemukanmu!" Ucap Rey, dengan raut wajah berbinar.


Sedangkan Hanna, hanya menyeringai kecut. "Bisa kau buka pintu itu? Aku ingin keluar sekarang!" Ucap Hanna datar. Sambil melirik ke arah kunci yang saat ini sedang di genggam oleh Rey.


Rey sudah yakin, Hanna pasti akan melarikan diri lagi jika ia tidak mengunci pintu itu.


Alih alih menuruti permintaan Hanna yang menyuruhnya untuk membukakan pintu itu, Rey justru memasukkan kunci itu kedalam saku celananya.


"Kita harus bicara!" Ucapnya, lalu melangkah mendekati Hanna.


"Aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi di antara kita." Hanna, masih tampak dingin.


"Mana mungkin? Ada banyak sekali hal yang harus kita bicarakan." Ucap Rey, yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Hanna. Menatap lekat wajah cantik Hanna yang masih sama persis seperti 3 tahun lalu. Bahkan jantung Rey masih berdebar ketika menatap bola mata indah dan bibir ranum Hanna.


"Baiklah, kalau begitu apa yang ingin kau bicarakan?" Sarkas Hanna, lalu melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku tidak punya banyak waktu." Lanjutnya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Rey akhirnya.


"Baik, bahkan sangat baik. Aku rasa kau bisa lihat sendiri sekarang." Sahut Hanna, masih dengan nada juteknya.


"Bagaimana dengan anak kita?" Lirih Rey.


Hanna menyeringai tipis, wajah cantiknya tampak dengan jelas menunjukkan emosi dan amarahnya.


"Untuk apa bertanya jika dulu kau membuangnya!"


Rey mengernyitkan keningnya. "Membuangnya?" Rey terkekeh. "Kau yang memutuskan untuk memisahkan aku dengan anakku." Sarkasnya kemudian.


"Aku?" Diiringi dengan senyuman sinisnya. "Baiklah, jika kau memang berfikir begitu. Fikirlah sesuka mu!"


Tok!Tok!


"Pak, acaranya akan segera dimulai." Ucap seseorang dari balik pintu ruangan itu.


Membuat Hanna dan Rey terdiam akhirnya.


"Aku akan segera kesana sekarang." Imbuh Rey kemudian.


"Baik, Pak." Sahut pria itu. Lalu pergi dari depan ruangan Rey.


"Masih ada banyak sekali hal yang perlu kita bicarakan." Ucap Rey pada Hanna, lalu membuka kunci pintu ruang kerjanya.


Next>>>