
"Kenapa kau pergi begitu saja?" Protes Myesa. Lalu duduk tepat disamping Rey.
Rey langsung bergeser untuk memberi jarak diantara mereka. Sikap itu, justru membuat Myesa mengernyitkan keningnya.
"Kenapa? Ada apa ini?" Myesa meminta penjelasan pada Rey atas sikapnya yang sedikit aneh.
"Mye, ada yang ingin aku katakan padamu." Imbuh Rey, sepertinya ia sudah siap untuk menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Myesa.
Linangan air mata Myesa langsung tergedang dipelupuk matanya. Itu memang jurus andalannya. Myesa hanya diam, tanpa bertanya 'Apa?' sepertinya ia sudah bisa menebak, apa yang akan di katakan Rey.
"Sebenarnya dihari pernikahan kita-"
"Cukup, Rey." Sela Myesa cepat. "Aku sudah tahu semuanya!" Lanjut Myesa.
Penyataan itu membuat Rey terkejut. "Kau tahu? Jadi selama ini?" Rey tampak bingung.
"Ya, aku tahu kau jadikan Hanna sebagai penggantiku saat itu. Dan aku mengerti, aku tidak akan mempermasalahkan itu. Aku akui itu juga karena kesalahan yang telah aku perbuat." Ujar Myesa sambil menggengam tangan Rey.
Rey terkekeh tak percaya. "Jadi selama ini kau bersandiwara dihadapanku?" Tanya Rey.
"Seperti yang kau dan Hanna lakukan!" Jawab Myesa cepat.
Rey, menatap tajam netra Myesa.
"Bukankah kau menyuruhku untuk menunggu, dan berjanji padaku untuk membujuk Papa dan Mamamu. Untuk akhirnya bisa kembali menerimaku. Aku menunggu itu, aku menuruti keinginanmu, Rey!" Lanjut Myesa lengkap dengan isakannya. "Aku tahu, hubungan kalian hanya untuk sementara, aku yakin pada akhirnya kau akan menjadi milikku seutuhnya bukan." Myesa semakin bergebu-gebu.
"Aku minta maaf!" Ujar Rey dengan tatapan penuh arti.
Myesa menggeleng cepat. "Tidak! Jangan ucapkan kata itu Rey!" Seakan mengerti maksud dari perkataan itu. Bahwa kata maaf itu menyiratkan sesuatu yang menyakitkan.
"Hanna hamil anakku, Mye." Ucap Rey sambil menunduk.
Myesa menganga tak percaya. "Apa katamu?" Tanya Myesa untuk memastikan.
"Hubungan kita benar-benar tak ada harapan." Lanjut Rey.
"Tidak! Kecuali kau ingin melihat aku mati dihadapanmu." Dengan penuh penekanan. Myesa selalu menjadikan itu untuk mengancam Rey.
"Mye, jangan konyol! Apa kau gila? Kau bisa menemukan pria yang lebih baik dariku, Mye." Ucap Rey. Sepertinya ia percaya begitu saja dengan omong kosong gadis itu.
"Tidak jika bukan kau orangnya. Aku hanya ingin hidup bersamamu, Rey. Lalu apa artinya aku hidup jika tidak bisa memilikimu." Myesa bersikekeh.
Disaat yang bersamaan, Hanna tiba didepan ruang kerja Rey. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ketika samar-samar terdengar suara percakapan dari dalam sana.
"Lalu, bagaimana kau bisa yakin jika itu anakmu?" Tanya Myesa akhirnya.
Rey langsung mengalihkan pandangannya ke arah Myesa. "Aku sangat sadar saat melakukannya, dan Hanna juga masih perawat saat itu!"
"Bisa saja dia juga melakukannya dengan pria lain setelah itu!" Myesa mulai menghasut dan menggoyahkan Rey. "Gadis itu tinggal seorang diri di luar sana Rey, Kau tidak pernah tahu dengan siapa dan apa saja yang ia lakukan diluar sana. Mungkin saja dia depresi setelah kejadian malam itu dan menyerahkan tubuhnya kepada siapa saja pada akhirnya. Kau ingat, malam kita double date saja dia sangat intim dengan Raffael." Tambah Myesa, seakan belum puas jika belum membuat Rey benar-benar goyah.
Rey terdiam seribu bahasa. Seakan ia kehabisan kata-kata. Atau mungkin dia juga berfikir jika yang di katakan Myesa ada benarnya.
Diluar ruangan itu, Hanna masih menunggu jawaban apa yang akan diberikan Rey. Apa pendapat dia tentang yang dikatakan Myesa. Dengan perasaan yang mulai bergemuruh, Hanna benar-benar tidak sabar. Seakan ia ingin masuk dan menghadang mereka berdua, lalu bertanya langsung pada Rey, apakah dia juga sependapat dengan Myesa?
"Hanna, kau sedang apa?" Tanya Bu Mirna, yang datang karena ada berkas yang harus ditandatangani oleh Rey.
Hanna menoleh dengan cepat. "Tidak ada." Jawabnya, Setelah itu langsung menjauh dari pintu ruang kerja Rey, lalu kembali ke meja kerjanya dengan gugup.
"Ini berkas yang harus di tandatangani Pak Presdir." Sambil menyerahkan beberapa berkas pada Hanna.
"Apa Anda butuh sekarang juga?" Tanya Hanna hati-hati.
"Apa dia sedang sibuk?" Bu Mirna balas bertanya.
Bu Mirna mengangguk paham. "Baiklah, aku serahkan padamu. Aku butuh berkas ini besok sore." Ujar Bu Mirna menekankan,
"Baik, akan aku letakkan di meja Anda besok pagi." Imbuh Hanna.
"Tidak perlu seperti itu, hubungi saja jika sudah ditandatangani. Aku akan ambil sendiri. Jabatanmu lebih tinggi dari pada aku sekarang." Ucap Bu Mirna, dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Membuat Hanna kembali memastikan penglihatannya. Apakah dia salah lihat atau tidak. Karena selama ini, Hanna tidak pernah melihat wanita itu tersenyum sekalipun. Wajahnya selalu datar.
Hanna mengangguk pelan. "Baiklah." Ucap Hanna akhirnya.
Bu Mirna kembali beranjak dari sana. Sedangkan Hanna, terduduk lemas di kursinya. Kembali memikirkan percakapan antara Rey dan Myesa. Ia penasaran apa jawaban Rey akhirnya.
Hanna memilih meninggalkan meja kerjanya untuk sesaat. Karena akan terasa sangat canggung jika mereka keluar dan mendapati Hanna disana.
Lebih baik Hanna berpura-pura untuk tidak tahu saja.
*
"Lora.." Panggil Hanna dengan tatapan kosongnya.
"Em.." Jawab Lora yang kini sedang duduk disamping Hanna sambil meneguk coffe latte miliknya.
"Ini cerita tentang temanku." Imbuh Hanna.
Lora langsung menoleh. "Kau punya teman selain aku?" Tanya Lora serius.
"Tentu saja punya!" Jawab Hanna cepat.
"Hemm baiklah.. Lalu?" Lora meminta kelanjutan cerita Hanna.
"Karena suatu hal, dia menikah dengan seseorang. Tanpa cinta, dan karena terpaksa. Tapi seiring berjalannya waktu, dia merasa semakin nyaman dan merasa ada yang berbeda dengan perasaannya."
"Lalu?" Lora semakin menyimak cerita Hanna.
"Lalu.. Dia sadar, perasaannya tidak mungkin bisa diungkapkan." Lanjut Hanna, dengan tatapan masih kosong memandang coffe latte ditangannya.
"Kenapa?" Tanya Lora penasaran.
"Karena pria itu memiliki kekasih."
"Huftt.." Lora menghela nafas, lalu kembali meneguk coffe lattenya. "Berarti suruh temanmu itu untuk merelakannya. Lelaki yang sudah punya kekasih pada akhirnya hanya bisa menyakiti. Ia tidak akan pernah bisa benar-benar menjadi milik kita." Lanjut Lora.
"Tap dia hamil-"
"Kau hamil?" Sela Lora cepat dengan ekspresi terkejutnya.
"Ini cerita temanku, bukan aku!" Hanna menegaskan dengan cepat.
Lora, menatap Hanna tajam. Sepertinya ia tak percaya begitu saja. Dia bukan anak kecil yang dapat di bohongi dengan cerita seperti itu.
"Jadi itu benar-benar cerita tentang temanmu?" Lora memastikan.
"Tentu saja!" Jawab Hanna tanpa berani menatap mata Lora.
"Baiklah.." Lora mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu kembali membenarkan posisi duduknya. "Jadi dia hamil dengan pria itu?" Lora melanjutkan pertanyaannya.
"Empp.. Menurutmu apa yang harus dia lakukan?" Hanna meminta pendapat Lora.
Next >>>