My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Rehat Total


Rey, dengan lesu kembali ke kamar rawat Hanna. Setelah mendengar penjelasan Dokter itu panjang lebar, Rey jadi lemas seketika.


Saat akan masuk kedalang kamar rawat hanna, Rey berpas-pasan dengan seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu "Pasien baru saja diberikan obat anti nyeri. Dan itu biasanya akan membuat ia tertidur." Ujar sang perawat.


"Apa dia sudah siuman tadi?" Tanya Rey, memastikan.


"Sudah, pasien sudah siuman dan sekarang sedang berada dalam pengaruh obat." Perawat itu berlalu pergi setelahnya.


Rey perlahan menutup pintu kamar rawat Hanna. Sebisa mungkin tanpa bersuara, ia tidak ingin mengganggu tidur Hanna.


*


Kabar tentang Hanna mengalami pendarahan tersebar hingga ke telinga Raffael.


"Apa katamu barusan?" Tanya Raffael memastikan. Kepada beberapa karyawan yang sedang membicarakan hal itu.


"Hanna, Pak. Dia mengalami pendarahan dan dilarikan kerumah sakit." Imbuh salah seorang karyawan.


"Kau tahu dia dirumah sakit mana sekarang?" Tanya Raffael yang mulai panik.


"Tidak, Pak Rey yang membawanya kerumah sakit tadi." Ujar yang lainnya.


Raffael, dengan cepat langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia menghubungi Rey sambil berjalan keluar dari perusahaan.


*


"Apa yang terjadi?" Tanya Raffael pada Rey. Keduanya kini sedang berada didepan kamar rawat Hanna.


Rey menjelaskan secara singkat tentang apa yang dialami Hanna saat ini.


"Lalu, kapan hasil pemeriksaan lanjutannya akan keluar?" Raffael kembali bertanya.


"Mungkin dalam waktu dua hari ini." Ujar Rey. "Apa kau memiliki nomor kontak keluarganya? Sepertinya mereka harus tahu tentang kondisinya." Lanjut Rey.


"Biar aku yang mengurus Hanna." Imbuh Raffael. Yang langsung mendapatkan tatapan dari Rey. Apa maksudnya kata-kata itu. Jika begitu, Rey pun bisa melakukannya.


Dari ucapan Raffael itu, dapat Rey simpulkan bahwa Hanna tak memiliki siapapun.


*


Hanna mendapatkan penanganan khusus dari pihak rumah sakit, sesuai dengan perintah Rey. Walaupun hasil dari pemeriksaan lanjutannya mengatakan kondisi Hanna masih tidak membahayakan.


"Apa aku boleh pulang hari ini?" Tanya Hanna pada Rey yang sedang bersantai sambil rebahan di atas sofa yang berada tak jauh dari ranjang Hanna.


"Tidak! Kau harus istirahat beberapa hari lagi sampai benar-benar pulih." Imbuh Rey, dengan mata terpejam.


Rey, terjaga sepanjang malam untuk menyusun materi rapat. Lalu pagi-pagi sekali berangkat ke kantor untuk menghadiri rapat. Siangnya, ia harus bertemu dengan beberapa klien. Jadi wajar saja, jika kini ia ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang terasa penat.


"Lalu bagaimana dengan pemotretannya?" Tanya Hanna. Karena pemotretan itu akan berlangsung besok. "Aku benar-benar sudah sembuh, Rey. Sungguh!" Hanna berusaha meyakin Rey bahwa dia sudah baik-baik saja sekarang. Namun sepertinya itu sia-sia.


"Aku akan mengurus pemotretannya. Kau tidak perlu khawatir." Ujar Rey dengan suara yang semakin berat. Sepertinya ia benar-benar sudah sangat mengantuk.


Hanna yang menyadari itu, tak lagi melanjutkan perdebatan. Ia memilih diam, agar Rey bisa beristirahat. Yang bisa Hanna lakukan saat ini hanya menghela nafas dalam. Ini adalah percobaan yang entah keberapa kalinya, tapi masih juga tetap gagal membujuk Rey.


Tunggu! Lalu dimana Raffael? Kenapa tak pernah nampak batang hidungnya setelah hari itu.


Tenang! Semua ulah Rey. Ia meminta Raffael menggantikannya untuk menghandle pemotretan. Itu perintah, dan Raffael tak punya kuasa untuk menolaknya walaupun mereka bersahabat sekalipun.


Kesibukan Raffael menghandle pemotren yang hanya tinggal beberapa hari lagi, membuat ia benar-benar sibuk. Bahkan tak punya waktu untuk datang menjenguk Hanna.


Tapi paling tidak, ia lega. Ketika tahu kondisi Hanna baik-baik saja. Dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


*


Hanna kembali bekerja setelah satu minggu beristirah total di rumah sakit.


Tentu, Lora orang yang paling heboh menyambut kedatangan Hanna kembali.


"Aku sangat khawatir ketika tahu kau pingsan di ruang rapat." Imbuh Lora, ketika keduanya sedang bertemu di rooftop seperti biasa.


"Aku tahu, pasti semua orang menggosipi aku, karena pendarahan bukan?" Tebak Hanna sambil terkekeh.


Lora mengangguk pelan, mengiyakan tebakan Hanna itu.


"Tapi entah mengapa gosip itu hilang seketika kurang dari 24 jam. Semua chat di obrolan grup tentangmu terhapus dan tak ada satu orang pun yang membicarakan itu lagi." Dengan ekspresi bingungnya. Lora seakan sedang berfikir keras dengan apa yang terjadi saat itu. Selama 5 tahun ia bekerja dan sudah menjadi ratu gosip selama 3 tahun, Lora belum pernah menemukan kejadian seperti itu.


"Memangnya apa yang mereka katakan tentang aku kali ini?" Tanya Hanna sedikit penasaran.


"Kau pasti sudah bisa menebaknya." Pungkas Lora, seakan tak ingin lagi membahas hal itu.


"Tapi aku ingin tahu. Mungkin berbeda dengan apa yang aku pikirkan." Rengek Hanna, sambil merangkul lengan Lora untuk merayunya.


Lora menghela nafas, sambil menatap netra Hanna. "Mereka bilang selama ini kau adalah simpanan seseorang. Lalu kau hamil, dan memang dengan sengaja menggugurkan kandunganmu." Ujar Lora.


Alih-alih marah, Hanna justru terkekeh. "Mereka sangat pandai mengarang cerita." Imbuh Hanna, sambil menatap ke arah ufuk nan jauh disana. Hanna tak mengerti, mengapa orang-orang sangat suka membicarakan tentang dirinya.


"Kau tidak marah mendengar perkataan buruk tentangmu seperti itu?" Tanya Lora.


Hanna menoleh ke arah gadis yang tampaknya sangat perduli pada dirinya itu. "Tidak! Itu bahkan belum seberapa. Aku pernah menjadi bahan gosip yang lebih buruk dari itu." Hanna menghela nafas dalam. Seakan sekilas memori lama kembali terlintas didalam ingatannya. Memori yang sudah sejak lama ingin dikubur dalam-dalam oleh Hanna. Walaupun nyatanya, sekeras apapun Hanna mencoba, memori itu tetap akan muncul. Lagi dan lagi! "Sepertinya waktu kita sudah habis, sudah waktunya kembali bekerja." Imbuh Hanna, seiring bangkit dari duduknya. Ia tak ingin terus larut dalam kesedihannya.


Keduanya, berjalan berbarengan untuk kembali ke aktivitas masing-masing.


*


Hari demi hari berlalu, kedekatan antara Hanna dan Rey semakin nyata terlihat. Rey, sudah tak sungkan sungkan menunjukan rasa perhatiannya pada Hanna. Pun begitu dengan Hanna yang semakin dibuat nyaman oleh Rey.


"Kenapa dia ajak bertemu di tempat seperti ini?" Tanya Hanna, saat Rey baru saja memakirkan mobilnya di parkiran.


"Entah.." Jawab Rey diiringi dengan kekehannya.


Pasalnya kali ini, ada seorang klien yang mengajak Rey bertemu di tempat yang tak lazim. Yaitu sebuah Bar!


"Kau tidak lupa membawa kontraknya bukan?" Tanya Rey memastikan.


"Tentu." Jawab Hanna, sambil mengiringi langkah Rey.


Keduanya disambut oleh seorang pengawal dan langsung menuntun Rey dan Hanna ke meja dimana klien itu berada.


Hanna melihatnya dengan sedikit aneh, dia lebih terlihat seperti seorang mafia.


Next >>>