My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Menyayat Hati


"Aku tak dapat pastikan itu." Jawab Hanna sembari menunduk. Yayank tersenyum tipis. Lalu juga ikut menunduk, kalimat Hanna itu secara tidak langsung mengartikan iya, bukan!


Yayank menengadahkan wajahnya ke langit-langit apartemen, lalu tersenyum tak percaya. Air mata mengalir dari sudut matanya, bagaimana bisa ia tak menyadari itu ketika Raffael dengan terang terangan selalu memuji Hanna di hadapannya.


Hanna memandang pilu ke arah Yayank, tak ada kata yang dapat di ucapkannya.


Ceklek..


Hanna langsung menoleh ke arah pintu apartemen yang baru saja terbuka. Raffael, pulang dalam keadaan berantakan.


Tatapan keduanya saling beradu, antara Raffael dan Hanna. Raffael, perlahan melangkah. Dengan jas yang ditenteng di tangannya, dasi yang longgar dan kancing kemeja yang terbuka di bagian kerah. Raffael Ikut duduk bersama Hanna dan Yayank di sofa.


Yayank menyeka air matanya sambil menoleh ke samping, ia tak sanggup menatap Raffael.


Hanna, memberi kode pada Raffael, agar ia memulai pembicaraan.


Raffael menunduk, lalu menarik nafas dalam.


"Aku minta maaf, Yank.." Lirih Raffael. "Kita memang harus berpisah." Lanjut Raffael, membuat Hanna terbelalak dan Yayank terkekeh pelan.


"Raf.." Ujar Hanna, tak mengindahkan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Raffael.


"Aku sudah pikirkan ini sejak lama, Han.. Dan aku tidak bisa lagi melanjutkan pernikahan ini. Bukan demi aku, tapi demi Yayank. Aku tahu dia pasti juga tersiksa menjalani pernikahan yang terasa hambar ini." Imbuh Raffael, penuh keyakinan.


Sedangkan Yayank, masih terdiam seribu bahasa. Ia masih menyimak, memahami dan mencoba untuk mengerti. Walau sesungguhnya, apa yang keluar dari mulut Raffael sangat menyayat hatinya. Ia ingin menepis dalih Raffael, yang mengatakan apa yang ia lakukan demi Yayank. Tidak! Itu bukan demi Yayank, sama sekali bukan demi Yayank. Begitulah yang di pikirkan Yayank. Perceraian itu hanya akan menguntungkan Raffael seorang.


"Hanna.." Imbuh Yayank akhirnya.


Membuat Hanna menoleh ke arah Yayank.


"Bisakah kau tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga kami!" Lanjut Yayank, dengan tatapan yang sulit di artikan Hanna.


Membuat Hanna sedikit menganga. Benar, tak seharusnya ia berada di tengah-tengah mereka saat ini. Tapi Hanna ingin membantu, membuat Raffael mengurungkan niatnya untuk bercerai. Ia ingin pernikahan Yayank dan Raffael bisa di selamatkan. Dan membuat semua menjadi jelas, bahwa perasaan yang di miliki Raffael padanya tidak akan bisa merubah apapun.


Maksud Hanna datang menemui mereka berdua juga untuk memperjelas dan memohon agar Raffael mengubur perasaan itu dalam dalam. Nyatanya, perasaan itu tak akan pernah terbalas hingga kapanpun! Hanna ingin mempertegas, bahwa jika Raffael masih juga tetap menyimpan rasa itu, Hanna akan mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan persahabatan mereka. Dan berjanji tidak akan pernah bertemu lagi dengan Raffael!


Tapi, sepertinya maksudnya salah di artikan Yayank.


"Maaf.." Imbuh Hanna pada Yayank, dengan tatapan tulusnya. Kemudian, Hanna kembali mengalihkan pandangannya ke arah Raffael. "Aku harap kau bisa mengambil keputusan yang bijak, Raf."


Hanna bangkit, beranjak dari ruangan itu. Sedangkan tatapan Raffael, justru mengikuti langkah Hanna hingga ia keluar dari apartemen.


"Kau masih belum puas memandanginya?" Kalimat Yayank itu membuat Raffael mengalihkan pandangannya dari pintu apartemen yang kini sudah kembali tertutup rapat.


"Kau benar benar ingin bercerai?" Yayank kembali memastikan. Dengan tatapan penuh nanar, memandangi suaminya yang bahkan tak pernah menatapnya seteduh ia menatap Hanna.


To Be Continue 🍁