
Hanna dan Rey saling tatap tatapan, benarkah Tante Lalita setuju begitu saja. Bukankah seharusnya ia marah besar dengan kejadian ini?
*
Lara mengurung diri didalam kamar, setelah kejadian itu ia tak lagi mau keluar. Ia merasa sangat kecewa.
Tante Lalita, secara pribadi datang ke kediaman Lara. Meminta maaf sebesar besar pada kedua orang tua Lara, terlebih pada Lara.
Disaat itu, Tante Lalita mendapatkan cacian dan makian dari Ayahnya Lara yang sangat kecewa.
Tante Lalita menerimanya, amarah dan semua luapan emosi mereka.
"Bagaimana?" Tanya Om Surya saat istrinya kembali pulang kekediaman.
"Mereka sangat marah." Imbuh Tante Lalita, lalu ikut duduk bersama suaminya di balkon lantai dua.
"Dan Mama bisa menghadapi amarah mereka?" Om Surya memastikan, awalnya ia sudah menawarkan diri untuk ikut minta maaf pada keluar Lara. Tapi Tante Lalita bersikeras untuk pergi sendiri.
"Tentu saja. Itu bukan apa apa." Lanjut Tante Lalita.
Om Surya terkekeh. "Kau memang wanita hebat." Pujinya.
Tante Lalita menghela nafas.
"Jadi kau benar benar setuju, Rey kembali dengan Hanna?" Lanjut Om Surya.
"Tentu, akhirnya aku tidak perlu lagi menangis sepanjang malam dan menyesali keputusanku." Ucap Tante Lalita, lalu tersenyum tipis.
Ternyata, setelah memaksa Rey menikah dengan Lara. Tante Lalita terus saja di hantui rasa bersalah. Melihat tatapan Hanna dihari ia mengabaikannya sewaktu di apartemen Rey, benar benar membuat hatinya terenyuh. Ia tidak sanggup menatap mata Hanna. Ia merasa sangat bersalah telah merebut paksa Rey dari Hanna.
Tapi ia juga tidak bisa lagi membatalkan perjodohan itu. Bak seakan makan buah simalakama. Tante Lalita berada di dua ujung pisau yang sama sama bisa menyakiti salah satu dari mereka.
Hingga akhirnya, Rey berulah di hari itu. Dan itu menjadi akhir dari keputusannya.
*
Hanna dan Rey, benar benar disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka.
Memilih gaun, Wo hingga MUA. Dan yang paling penting cincin pernikan.
"Aku masih menyimpan cincin pernikahan kita dulu." Imbuh Rey, ketika Hanna mengajaknya untuk pergi beli cincin pernikahan.
Rey jadi tertawa ketika melihat Hanna justru jadi ngambek, hanya perihal cincin itu.
"Baiklah, baiklah.. Ayo kita beli cincin pernikahnnya sekarang."
"Tidak mau, pergi saja sendiri." Hanna menjadi sensi. Lalu beranjak dari sana dan mengurung diri dikamar.
3 jam berlalu..
"Hanna, bisa keluar sebentar. Kita kedatangan tamu." Ujar Rey, yang akhirnya memaksa Hanna untuk keluar dari kamar.
Mata Hanna langsung terbelalak dan membulat sempurna, ketika di atas meja ruang tamu itu sudah di penuhi dengan kotak yang berisi cincin permata dengan berbagai model.
"Rey, apa yang kau lakukan?" Ucap Hanna sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Bukankah kau tidak mau pergi untuk membeli cincinnya, jadi aku pindahkan tokonya kerumah." Ujar Rey, lalu menuntun Hanna untuk duduk di sofa.
"Silahkan di pilih Nona, yang mana yang Anda suka." Imbuh si pegawai toko yang juga di boyong kerumah lengkap dengan seragam dan sarung tangannya. Ia, bak seakan sedang melayani Hanna didalam toko.
Hanna, masih tak bisa berhenti terkekeh. Bisa bisanya Rey melakukan hal segila itu.
"Coba yang ini.." Tunjuk Hanna, pada salah satu cincin.
Dan ukurannya sangat pas dijari Hanna.
"Pas sekali di jari Anda, Nona. Dan terlihat sangat cocok untuk Anda." Ujar si pegawai.
"Kalau yang ini bagaiman?" Tunjuk Hanna, ke cincin yang lainnya.
Pegawai itu kembali mengambil cincin yang lainnya dan menyerahkannya pada Hanna.
Lagi lagi, cincin itu juga terlihat sangat cocok di jari manis Hanna.
"Bagaimana ini, aku suka semuanya." Imbuh Hanna setelah hampir mencoba semua cincin yang berada disana.
"Kalau begitu beli saja semuanya." Ujar Rey santai. "Kau kan punya sepuluh jari, jadi satu cincin satu jari." Lanjutnya sambil terkekeh.
Sebuah cubitan langsung mendarat di kulit perutnya, atas ocehannya yang di anggap tak lucu. Tapi justru membuat si pegawai terkekeh.
Next >>>