
Rey, tanpa basa basi. Langsung membahas inti dari pertemuan itu.
"Tidak perlu terburu-buru Pak Rey." Sela sang klien. Sambil memberi aba-aba pada seorang pelayan untuk menuangkan Rey minuman.
"Tidak terimakasih, saya harus mengemudi nanti." Tolak Rey sopan.
"Baiklah, kalau begitu digantikan oleh sekertarismu saja. Jika tidak, aku akan merasa tersinggung." Pungkasnya, seperti ancaman. Dengan raut wajah tersenyum tapi sedikit menakutkan.
Hanna dengan ragu-ragu menerima gelas pemberian si klien itu. Walaupun Rey sudah menatapnya tajam, untuk mengisyaratkan agar Hanna juga menolaknya. Namun, Hanna tak punya keberanian seperti Rey yang bisa menolak dengan mudah. Apa lagi ia tahu, seberapa penting kliennya itu kali ini untuk perusahaan.
Hanna minum, minuman itu dalam satu tegukan.
"Sepertinya kau peminum yang hebat." Sarkas si klien sambil menyeringai.
Hingga gelas ke tiga. Sedangkan Rey, sudah mengusap wajahnya kasar saking geramnya.
"Maaf, aku permisi ke toilet sebentar." Ucap Hanna kemudian. Membuat Rey meghela nafas lega.
"Akhirnya gadis ini tahu cara menyelamatkan diri." Gumam Rey.
Rey tak ingin membuang kesempatan dan semakin mengulur waktu, ia langsung mengambil kesempatan untuk cepat membuat si klien menandatangani kontrak.
"Tapi ada satu syarat." Ujar si klien yang baru saja hendak menandatangani kontrak, namun kembali menghentikannya seketika.
"Tentu, Anda bisa mengajukan syarat apapun. Aku akan berusaha menyanggupinya." Imbuh Rey percaya diri.
Si klien terkekeh puas. "Aku sangat suka anak muda sepertimu." Ucap si klien. "Aku akan menggunakan modelku sendiri." Lanjut si klien sambil menandatangani kontrak.
Sedikit sudut bibir Rey terangkat. "Tentu!" Ucap Rey. "Itu persyaratan yang sangat mudah." Batin Rey.
Didalam toilet, tepatnya didepan wastafel. Hanna berulang kali menyirami wajahnya dengan air. Mencoba mengembalikan kesadarannya dari pengaruh alkohol.
"Itu tak akan berguna sama sekali!" Imbuh seseorang. Membuat Hanna menghentikan aktivitasnya, lalu mengarahkan wajahnya ke sumber suara.
Gadis itu tersenyum menyeringai. Gadis yang tak lain adalah Myesa!
Hanna hanya terbujur di tempat ia berdiri. "Lama tak bertemu!" Ujar Myesa dengan tatapan tajamnya. "Aku cukup lama menunggumu memberikan informasi tentang Rey. Tapi kau justru membuat waktuku terbuang percuma!" Lanjut Myesa.
"Tidak ada informasi yang bisa aku berikan. Kau kekasihnya, tentu saja kau bisa langsung bertanya padanya tentang apa yang ia lakukan." Ucap Hanna kemudian.
"Baguslah jika kau tahu kalau aku pacarnya. Jadi tolong jaga sedikit jarak di antara kalian! Bukan apa, aku hanya tidak ingin kau salah paham dengan kebaikan Rey. Mungkin kau tidak tahu, dia memang sebaik itu. Bukan hanya padamu! Selain kau harus banyak tahu tentang Rey, kau juga harus tahu diri!" Pungkas Myesa.
Kalimat itu seakan menampar Hanna dengan keras, kembali tersadar dengan posisinya. Benar yang dikatakan Myesa. Hanna seharusnya tahu diri, posisinya hanya sebagai pengganti. Hanna seakan begitu menikmati dan menjiwai perannya selama ini.
Pandangan Hanna teralihkan ke arah jari manis Myesa, yang sedang mencuci tangannya. Dia memang dengan sengaja ingin menampakkan cincin itu pada Hanna.
Myesa, sebenarnya sudah tahu tentang pernikahan antara Rey dan Hanna. Tapi masih pura-pura bodoh dihadapan Rey. Seakan ia benar-benar polos. Myesa, punya caranya tersendiri bagaimana akhirnya ia bisa mengetahuinya.
Berawal dari sikap Rey yang mulai berubah, Myesa tidak sebodoh itu. Yang hanya tinggal diam begitu saja. Ia mulai mencari informasi, apa yang terjadi di hari pernikahannya itu. Myesa mendapatkan informasi dari MUA yang merias Hanna hari itu.
Dari situlah, Myesa mulai kembali menyusun rencananya. Untuk kembali mendapatkan Rey dan menyingkirkan Hanna posisinya.
"Rey sudah menceritakan semuanya padaku. Terimakasih kau sudah bersedia membantu menggantikan aku hari itu. Rey, benar-benar menyesal sudah merepotkanmu, sungguh! Kau tahu, katanya dia merasa tidak enak jika harus meminta kembali cincin pernikahan kami dari mu. Sepertinya kau sangat menyukainya! Dasar Rey, dia memang sebaik itu. Bayangkan saja, dia memintaku untuk merelakan cincin itu dan menggantikannya dengan yang baru." Ucap Myesa penuh dusta.
Hanna mendidih mendengar itu. Ia gepal tangannya dengan geram. Andai saja bisa, ia ingin melepaskan cincin itu dengan segara dan melemparkannya ke arah gadis itu. Tapi, akan sia-sia jika Hanna mencoba melepaskannya di hadapan gadis itu sekarang. Karena Hanna tahu, cincin itu tidak akan bisa ia lepas dengan mudah. Ia bahkan selalu mencoba melepaskannya disetiap waktu luangnya, tapi tetap tak berhasil.
Tentu bukan hanya karena cincin itu Hanna menjadi sangat marah. Tetapi sepertinya Rey mulai mengekspos dirinya kepada orang-orang. Awalnya keluarga besarnya, kini Myesa! Lalu setelah ini, pada siapa lagi ia akan memberitahukan rahasia pernikahan itu.
"Tidak apa-apa, anggap saja itu hadiah ucapan terimakasih dari aku dan Rey." Lanjut Myesa, setelah itu berlenggang pergi.
"Sepertinya aku benar-benar sudah salah mengartikan kebaikanmu selama ini, Rey!" Hanna membatin.
Setelah menghela nafas dalam. Hanna keluar dari toilet. Sudah ia putuskan, emosinya tidak akan mempengaruhi apapun. Ia akan tetap harus bekerja seperti biasa. Dan hanya perlu menjaga jarak seperti ucapan Myesa.
Langkah Hanna perlahan terhenti, ketika melihat disana sudah ada Myesa tepat disamping Rey. Mereka mengobrol dengan santai. Seakan menambah kebenaran dari apa yang diucapkan Myesa! Perasaan Rey pada Myesa tak pernah berubah.
"Hanna, cepat kemari." Panggil Myesa tampak ramah.
"Sejak kapan kalian menjadi dekat?" Tanya Rey penasaran.
"Kau tak tahu? Kami sudah dekat bahkan dihari pertama bertemu." Imbuh Myesa sambil terkekeh.
Hanna, mencoba menguatkan perasaannya. Ia kembali duduk dan bergabung bersama mereka.
"Oh iya Rey, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan. Ayo ikut aku." Ajak Myesa sedikit memaksa dengan menarik tangan Rey, agar beranjak dari duduknya.
"Tapi-" Imbuh Rey, namun tak punya pilihan lain, selain harus ikut.
"Mereka terlihat sangat serasi." Imbuh klien itu berkomentar diiringi kekehannya. "Bukan begitu Nona, Hanna." Imbuhnya meminta pendapat Hanna.
"Emm.. Iya." Jawab Hanna sekenanya. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gelas terakhir." Imbuh si klien akhirnya, sambil menyodorkan segelas minuman lagi.
Hanna menghela nafas dalam. "Kau benar! Aku membutuhkan alkohol, untuk saat ini."
Hanna menerima gelas itu lalu menegukknya. "Bisa tambahkan segelas lagi?" Sambil menyodorkan gelas itu ke arah si klien.
Sedangkan si klien menyeringai puas. Ia menuangkan lagi minuman ke gelas Hanna. Padahal sebenarnya, itu sama sekali tak perlu, karena hanya satu gelas kecil saja, sudah cukup membuat Hanna melayang.
Hanna mulai merasa gerah dan kepanasan. Ia mencoba mengipas-ngipaskan dirinya dengan tangannya. Tapi itu sama sekali tak bekerja, ia masih merasa semakin gerah dan kepanasan. Akhirnya, Hanna memutuskan membuka hoodie nya. Hanya tersisa tanktop crop yang memperlihatkan lekukan tubuh dan perutnya yang mulus dengan jelas. Sayangnya Hanna masih juga merasa kepanasan. Entah obat apa yang sudah dimasukan oleh si klien kedalam minuman Hanna. Hingga bisa membuat Hanna kehilangan akal sehatnya seperti itu.
Sedangkan si klien, terus memperhatikan Hanna dengan mata nakalnya. Ia mulai melancarkan aksinya, mencoba untuk merangkul Hanna.
"Maaf, sepertinya aku harus membawa sekertarisku pulang sekarang." Walaupun kemarahannya sudah begitu memuncak, saat melihat apa yang terjadi. Tapi Rey sebisa mungkin mencoba menahan emosinya. Lagi dan lagi, semua itu karena mengingat betapa pentingnya kerja sama diantara mereka.
Rey dengan cepat langsung menutupi tubuh Hanna dengan jas miliknya. Lalu membawa Hanna keluar dari sana dengan segera.
"Apa yang sedang kau lakukan!" Pekik Hanna sambil mendorong tubuh Rey dengan kasar.
"Apa kau gila! Bisa-bisanya kau menerima minuman yang diberikan olehnya." Pekik Rey tak kalah emosi.
Hanna justru terkekeh.
Rey langsung kembali memegang tubuh Hanna yang sama sekali tak memiliki keseimbangan itu. Namun, Hanna dengan cepat kembali menepisnya.
Lalu berjalan menjauh dengan lunglai.
"Kau mau kemana?" Tanya Rey masih dalam keadaan emosi.
"Bukan urusanmu!" Jawab Hanna, tak perduli.
Next >>>