
Untung saja, kali ini amarah Hanna cepat mereda.
"Jam berapa kita ke acara itu?" Tanya Hanna di sela sela sarapan di pagi menjelang siang itu.
"Jam 8, dadan yang cantik ya." Ujar Rey.
"Untuk apa? Apa kau akan menjual ku?" Tebak Hanna sambil terkekeh.
"Sussttt... Bicara mu!" Rey langsung memasang wajah seriusnya.
"Aku hanya bercanda, Pak Rey." Hanna masih terkekeh.
"Tapi aku tidak suka." Dengan tatapan tajamnya.
"Iya iya baiklah.." Hanna manggut manggut.
*
"Hanna.. Cepat! Kita sudah hampir terlambat." Imbuh Rey, sambil terus melirik ke arah jam tangannya sambil menunggu Hanna di depan pintu kamar.
"Sebentar, hampir selesai." Teriak Hanna dari dalam kamar.
Setelah beberapa saat, Hanna keluar dari dalam kamar. "Bukankah katamu aku harus berdandan yang cantik."
"Tampa berdandan pun kau sudah terlihat cantik."
"Ch..." Hanna terus berjalan melewati Rey. "Ayo cepat, bukankah katamu kita sudah hampir terlambat." Ucap Hanna, yang menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Rey yang masih berdiri di tempat semula.
*
Mereka pun melaju, ke acara yang dimaksud Rey.
"Kenapa malah pesta pernikahan?" Tanya Hanna kemudian, ketika mereka memasuki gedung itu.
Rey hanya terkekeh tanpa menjelaskan apapun.
"Aku ke toilet sebentar." Bisik Hanna, lalu melepaskan tangan Rey yang sedari tadi menggenggam tangannya.
"Jangan terlalu lama." Balas Rey.
Hanna pun mengubah haluannya, menuju ke toilet.
"Rey.." Panggil Tante Lalita yang juga menghadiri pesta pernikahan itu. Ia baru sampai, dan dengan sengaja membawa calon mantunya ikut serta ke acara itu. Karna ia tahu, Rey pasti akan menghadiri pesta pernikahan itu juga. Jadi ini kesempatannya memperkenalkan mereka, dan sekaligus ingin mengutarakan niatnya untuk menjodohkan mereka.
"Ma.." Rey menoleh, lalu menghentikan langkahnya. Menunggu Tante Lalita yang sedang berjalan ke arahnya.
Setelah keduanya berkenalan, mereka pun duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Setelah beberapa saat berlalu, Rey tampak gelisah karena Hanna belum juga kembali. Ia terus saja menoleh ke belakang.
"Ma, Rey tinggal sebentar." Imbuh Rey, setelahnya langsung beranjak dari sana.
"Lara, sebentar ya." Tante Lalita memutuskan untuk mengikuti Rey. Ia ingin mengutarakan niatannya yang ingin menjodohkan Rey dengan Lara.
"Rey, tunggu sebentar." Panggil Tante Lalita lalu mempercepat langkahnya.
"Ada apa, Ma." Tanya Rey, yang sudah berhenti disana.
"Ada yang ingin Mama bicarakan." Tante Lalita menghampiri Rey. "Bagaimana menurutmu, Lara." Tanya Tante Lalita langsung.
Rey terkekeh. "Apa maksudnya itu?" Seakan Rey sudah tahu maksud dari pertanyaan itu.
"Bukankah dia sangat cocok denganmu. Wajahnya cantik dan juga berprilaku sangat lembut."
"Ma .."
"Rey, pokoknya kali ini Mama tidak mau tahu. Kali ini kau harus mendengarkan Mama dan mengikuti kemauan Mama. Kau harus menikah dengan Lara tahun ini juga."
Kebetulan sekali, Hanna baru saja menghampiri mereka. Dan tanpa sengaja mendengar obrolan itu.
"Ma.." Ucap Hanna. Membuat Tante Lalita dengan cepat menoleh ke arah sumber suara dan langsung terbelalak.
"Ha-hanna.." Tante Lalita terbata. Seakan antara percaya atau tidak, bahwa saat ini Hanna berdiri di hadapannya.
"Kenapa lama sekali!" Protes Rey pada Hanna. "Ayo, acaranya sudah hampir di mulai." Imbuh Rey sambil meraih kedua tangan wanita itu dan membawa mereka kembali ke dalam aula pernikahan.
Mereka kembali duduk di tempat semula. Hanna melempar senyuman terbaiknya ke arah gadis yang sedang duduk disana dan langsung menoleh ke arah Rey saat mereka duduk disana.
"Maaf, Lara. Sudah membuatmu menunggu." Ucap Tante Lalita pelan, tapi masih terdengar jelas oleh Hanna. Hanna, kembali menoleh sekali lagi ke arah Lara. Ia teringat dengan perkataan yang tadi diucapkan Tante Lalita tentang perjodohan itu.
"Jadi dengan gadis itu?" Batin Hanna.
MC pun mulai membuka acara pernikahan itu.
Semua tamu undangan menempati tempat yang sudah disediakan.
Next >>>