My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Pemaksaan


Acara lelang amal itu pun dimulai, Hanna sangat menikmatinya. Semua barang yang ditunjukkan tampak unik dan indah. Semua begitu antusias menawar harga paling tinggi.


Grrtt ... Grrtt ...


Ponsel Hanna bergetar, ia melihat ke layar ponselnya. Ada panggilan dari nomor yang tak dikenal. Hanna bangkit dari duduknya, menerima panggilan itu di luar ruangan.


"Benar ini dengan Bu Hanna Jasmine?" Tanya seseorang dari sebarang telpon sana.


"Iya benar.." Jawab Hanna sopan.


"Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri dulu, saya Jessica selaku pengacara dari Pak Rey. Apa bisa kita bertemu sebentar?"


"Saya sedang berada di-"


"Ini masalah penting." Sela wanita yang mengaku pengacara Rey itu.


"Tapi-"


"Kirim saja lokasi dimana Anda sedang berada sekarang, saya akan ke sana dan menemui Anda." Wanita itu agak ngotot.


"Baiklah.." Hanna menyerah, lagipun ia agak penasaran apa yang akan dibahasnya. Mengapa tiba tiba wanita itu meminta bertemu dengan Hanna. Dan hal apa yang di anggapnya penting itu.


Hanna mematikan panggilan itu, lalu mengirimkan lokasinya pada wanita yang bernama Jessica itu. Setelahnya, ia kembali masuk kedalam ruangan sambil menunggu Jesicca tiba.


Ternyata tak butuh waktu lama, tidak sampai 30 menit. Hanna sudah menerima pesan, bahwa Jessica sudah menunggunya di lobby. Hanna, kembali bangkit dari duduknya lalu menemui Jessica di lobby gedung itu.


"Maaf sudah mengganggu waktu Anda." Imbuh Jessica, sambil berjabat tangan dengan Hanna.


"Tidak masalah." Jawab Hanna lengkap dengan senyuman ramahnya.


"Saya tidak akan mengulur waktu Anda terlalu lama. Saya langsung saja, ini berkas yang Pak Rey minta saya siapkan." Jessica, menyodorkan sebuah amplop coklat pada Hanna.


Hanna menerima amplop tersebut, lalu membukanya. Ekspresinya langsung berubah ketika melihat isi dari amplop tersebut.


"Iya, Pak Rey meminta saya untuk mengurus perceraian kalian. Beliau sudah menandatangani surat itu, dan sekarang maksud saya menemui Anda adalah untuk meminta Anda juga menandatangani surat perceraian ini." Imbuh Jessica begitu tegas.


Pandangan Hanna langsung tertuju ke halaman terakhir dan dibagian paling bawah. Benar, ada tanda tangan Rey disana. Hanna, hanya bisa menganga tanpa bisa berkomentar apapun. Jantungnya langsung bergemuruh. Bagaimana mungkin Rey bisa melakukan hal seperti itu secara sebelah pihak tanpa kompromi dulu dengannya. Lagipun, akhir akhir ini sikapnya tidak menandakan bahwa ia ingin bercerai dengan Hanna.


Kebingungan Hanna benar benar memuncak. "Lalu, kenapa dia tidak memberitahukannya padaku sendiri?" Hanna bertanya dengan suara yang mulai bergetar.


"Pak Rey tidak ingin ada kegaduhan di antara kalian berdua. Ia ingin saya yang mengurus segalanya. Setelah Anda menandatangani surat perceraian ini, Pak Rey meminta Anda meninggalkan kediaman secara diam diam agar tidak diketahui oleh kedua orang tuanya."


"Aku akan bertanya langsung padanya." Hanna meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Lalu menghubungi kontak Rey, tapi panggilan itu tak dapat tersambung karena ponsel Rey telah dengan sengaja di non aktifkan oleh Myesa, tanpa sepengetahuan Rey.


"Pak Rey sedang bersama dengan Nona Myesa." Imbuh Jessica, sambil menunjukkan foto Rey dan Myesa di layar ponselnya. Foto yang di potret oleh Myesa tadi ternyata untuk itu.


Hanna terkekeh, itu benar benar sangat kejam. Hanna tak percaya Rey bisa setega itu, tidakkah ia perduli dengan anaknya lagi?


"Ini polpennya." Imbuh Jessica sambil menyodorkan polpen pada Hanna.


Hanna menoleh ke arah Jessica, dengan tatapan nanarnya. Dan rasa sakit sesakitnya!


Ia meraih polpen dari tangan Jessica, lalu menandatangani surat perceraian itu dengan penuh emosi. Walau sekeras apapun ia berfikir, ia tetap tidak menemukan alasan yang tepat mengapa Rey bisa melakukannya. Karena menurutnya, hubungan mereka selama ini baik baik saja, Hanna bahkan tak pernah protes sekalipun walaupun Rey selalu memprioritaskan Myesa. Hanna tak pernah menuntut apapun dalam hubungan itu.


Lalu, untuk apa selama ini Rey memperlakukan Hanna dengan baik. Jika ujung ujungnya juga menceraikannya.


Hanna bangkit dari sana, dengan amplop yang berisi surat cerai itu ditangannya, ia pulang ke apartemen. Membereskan semua barang barangnya, sambil terus menyeka kasar air matanya. Hanna benar benar hancur, hatinya sakit sekali diperlakukan seperti itu. Apalagi ketika ia sudah mulai berharap dengan pernikahannya dengan Rey. Ia bahkan sampai membayangkan seperti apa nantinya keluarga kecilnya itu dengan kehadiran bayi mungil ditengah tengah mereka.


Hanna, dengan terburu buru terus mengeluarkan pakaiannya dari lemari. Lalu, tiba tiba saja cincin pernikahan yang berada di jari manisnya terlepas dengan sendirinya dan terjatuh ke lantai.


Hanna menoleh, ke arah cincin itu. Bagaimana bisa cincin itu terlepas dengan sendirinya. Padahal saat ia memaksa membukanya, cincin itu tetap tak bisa dilepaskan. Tapi sekarang..! Hanna menangis semakin menjadi, ia terduduk di pinggir tempat tidur sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Next>>>