My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Melekat Sempurna


'Aku sudah didepan perusahaan.' Isi pesan dari Raffael.


Setelah membaca pesan itu, Hanna bangkit dari tempat duduknya. Meraih tas selempangnya lalu memasukkan ponsel miliknya kedalam sana.


Langkahnya terhenti, lalu berbalik menghadap ruang kerja Rey. "Apa aku harus memberi tahukannya dulu?" Gumam Hanna. "Sepertinya harus." Hanna mengambil langkah, masuk kedalam ruang kerja Rey.


"Rey, aku-"


"Kau mau pulang?" Tanya Rey, setelah melihat Hanna yang sudah siap dengan tas selempangnya.


"Emp, aku akan pulang sekarang."


Rey langsung bergegas, membereskan berkas-berkas yang sedang dikerjakannya. "Sebentar." Imbuhnya, yang tampak terburu-buru.


"Aku akan pulang dengan Rafa." Lanjut Hanna, dan menghentikan tangan Rey yang sedang merapikan berkas-berkas itu. Rey, mengalihkan pandangannya ke arah Hanna.


"Kau pulang dengan Rafa?" Rey memastikan.


"Empp.." Hanna mengangguk.


Rey kembali terduduk di kursinya. "Baiklah kalau begitu." Imbuhnya pelan.


Hanna berlalu pergi, menemui Raffael yang sudah menunggunya di depan perusahaan.


"Kau lapar? Ingin singgah untuk makan malam dulu?" Tawar Raffael.


"Boleh." Hanna menyetujui.


*


Mereka berdua berakhir di sebuah restoran.


"Tadi saat mengantar berkas ke editor departemen, aku tidak sengaja mendengar ada yang mencoba menjebak Rey? Apa benar?" Hanna mencoba memastikan.


"Empp.. Kau ingat saat rapat pertama kali? Ada beberapa yang menentang keputusan Om Surya menjadikan Rey CEO perusahaan. Aku curiga, yang memalsukan data keuangan salah seorang dari mereka." Jawab Raffael sedikit bersemangat.


Hanna mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia coba membayangkan wajah-wajah para minoritas itu.


"Jadi.. Kau belum menemukan siapa dalang dari masalah itu?" Hanna memastikan.


"Empp.. Sepertinya mereka sudah merencanakan itu dengan matang, sehingga sangat sulit melacaknya." Ucap Raffael, sambil melahap makanannya.


Otak Hanna langsung bekerja, berfikir keras siapa yang berkemungkinan melakukan itu.


"Sudah sudah, jangan dipikirkan lagi. Biar aku yang urus itu. Sebaiknya kau makan saja sekarang, atau makanannya akan dingin."


Hanna menurut, ia melahap makanannya tapi pikirannya masih menerawang jauh entah kemana.


*


Rey dengan gusar menunggu Hanna yang tak juga sampai. Padahal jelas-jelas ia pulang lebih dulu tadi. Ia berulang kali ingin mencoba menghubungi Hanna, tapi gengsinya terlalu besar.


Tok!Tok!


Dengan cepat Rey langsung melangkah ke arah pintu kamarnya dan membuka pintu. Berfikir jika itu Hanna.


"Hanna masih belum pulang juga?" Tanya Tante Lalita yang untuk kedua kalinya memastikan.


"Belum, Ma." Sahut Rey dengan raut wajah gelisah yang begitu kentara.


"Kau sudah mencoba menghubunginya?"


"Mm, Rey baru saja ingin menghubunginya." Rey sedikit berbohong. Lalu pandangannya langsung teralihkan, ketika melihat Hanna baru saja menaiki tangga. "Itu dia!" Lanjut Rey.


Tante Lalita langsung menoleh ke belakang.


Sedangkan Hanna langsung tertegun, ketika kedua orang itu menatapnya secara bersamaan.


"Ma-maaf, tadi-" Hanna terbata. Ia merasa tidak enak karena sudah pulang terlambat.


Ia berdiri kikuk di hadapan kedua orang itu.


"Tidak apa-apa, hanya saja kalau bisa jangan diulangi lagi. Kalaupun kau ada keperluan diluar, ajak Rey untuk menemanimu. Rey pasti akan selalu punya waktu untuk itu. Bukankah begitu Rey?" Sambil mengalihkan pandangannya ke arah Rey.


"Empp.." Sahut Rey diiringi dengan anggukan kepalanya. Sedangkan tatapannya, seakan tajam menatap Hanna. Menunjukkan kekesalan.


Hanna hanya tersenyum canggung. "Mana mungkin Rey akan melakukan itu?" Batin Hanna.


Tante Lalita pun kembali beranjak setelah Hanna menerima lembaran USG tersebut.


"Boleh aku masuk?" Tanya Hanna pada Rey yang masih berdiri sambil bersandar di ambang pintu. Dan itu menghalangi jalan untuk masuk.


"Silahkan!" Berdiri menyamping dan memberi akses untuk Hanna masuk.


"Terimakasih." Ucap Hanna, lalu berjalan melewati Rey.


Hanna meraih sebuah buku miliknya, lalu meletakkan lembaran USG itu di antara lembaran buku itu.


"Kau tidak berniat menunjukkannya padaku?" Tanya Rey, yang entah sejak kapan tiba-tiba saja sudah berada di belakang Hanna.


Hanna kembali meletakkan buku itu di antara buku-buku lainnya. Lalu berbalik menghadap Rey.


"Apa kau tidak berniat untuk memberitahuku, bahwa kerja sama dengan Anthony Company akan tetap dilanjutkan?" Hanna justru balas bertanya.


"Rafa yang meberitahukannya padamu?"


"Jadi kau memang berniat untuk tidak memberitahukannya padaku? Selidik Hanna.


"Empp.. Dan sebaiknya kali ini kau tidak perlu ke paris." Ujar Rey.


Hanna mengernyitkan keningnya.


"Kau sedang hamil sekarang, dan kau butuh istirahat. Pekerjaan disana akan sangat berat, aku takut kau kelelahan dan berpengaruh pada bayinya." Ucap Rey menjelaskan.


Sedangkan Hanna justru terkekeh mendengar kalimat itu. "Bilang saja kau tidak ingin ada yang mengganggu mu dengan Myesa disana! Apa katamu tadi? takut aku kelelahan dan berpengaruh pada bayinya? Kau bahkan mencurigai bayi ini bukan anakmu!" Batin Hanna meronta.


"Aku tidak setuju!" Hanna mengutarakan pendapatnya.


"Kau tak punya pilihan, keputusan ada padaku." Rey bersikeras.


Hanna tersenyum getir. "Aku tidak selemah itu Rey, aku hanya sedang hamil. Bukan sedang mengidap penyakit kronis. Aku bisa melakukan pekerjaanku!" Hanna lebih bersikeras lagi.


"Sebaiknya kau mandi dan istirahat. Jangan sampai kesiangan lagi besok." Ucap Rey, lalu beranjak ke sofa dan merebahkan tubuhnya disana. Sekaligus untuk mengakhiri perdebatan antara dirinya dan Hanna.


Sedangkan Hanna, hanya berdengus kesal. Setelahnya ia pun beranjak, menuju kamar mandi dan bersiap untuk tidur.


Saat ia berbaring ditempat tidur, dengan mata yang sama sekali tak bisa terpejam. Hanna, hanya memandangi wajah lelap Rey yang berada dihadapannya. Dipisahkan dengan jarak beberapa meter, Hanna masih bisa dengan jelas memperhatikan setiap lekuk wajah tampan itu.


"Maaf jika aku akan bersikap egois, Rey." Lirih Hanna.


Ia tak tahu, keputusannya kali ini benar atau tidak. Ia hanya ingin membantu Tante Lalita, yang sangat berharap bisa menjauhkan Myesa dari Rey.


Mungkin Tante Lalita benar, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua tak luput dari rencana Tuhan.


Begitupun dengan status Hanna yang tiba-tiba saja menjadi istri Rey.


Dan Hanna, ingin mencoba menjalani keuputusan Tuhan itu. Ia akan memperjuangkannya, mempertahankan statusnya itu.


Tuhan pasti punya rencana, mengapa pada akhirnya justru menyatukan mereka dalam hubungan suami istri.


Tak ada yang tahu, seperti apa akhirnya nanti. Tapi untuk kali ini, Hanna ingin menjadi egois sekali saja. Hanya sekali!


Hanna akhirnya terlelap, dengan pikiran yang terus menganggunya sepanjang malam.


*


Pagi ini, alarm Hanna bekerja dengan baik. Ia bangun tepat waktu.


Hanna bangkit perlahan, dengan mata yang masih terkantuk-kantuk. Mematikan alarm di ponselnya, lalu melangkah ke kamar mandi.


Setelah menutup pintu kamar mandi ia membuka piyamanya, setelahnya berjalan semakin kedalam untuk menuju tempat shower berada yang disekat dengan pintu kaca.


Dan..!


"Hanna! Apa yang kau lakukan!" Pekik Rey yang ternyata sedang menikmati guyuran air hangat dari sower tersebut.


Mata Hanna langsung terbelalak, membulat sempurna. Dengan tangan yang kewalahan menutupi kedua asetnya. Tidak! Lebih tepatnya tiga aset berharganya.


"Apa yang kau lihat?" Pekik Rey untuk kedua kalinya sambil menutup alat fitalnya dengan kedua tangannya. Saat menyadari tatapan Hanna tertuju kesana.


"Ma-maaf.. Maaf!" Hanna langsung berbalik dan hendak beranjak dari sana. Tapi karena terburu buru dan lantai licin. Hanna hilang keseimbangan.


Rey dengan cepat langsung menangkap tubuh Hanna agar tidak terjatuh ke lantai. Dan al hasil, kedua tubuh tanpa busana itu melekat sempurna.