My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Terimakasih Tuhan


Hanna tersenyum kecut. "Semua laki laki sama saja." Imbuhnya, lalu kembali mengalihkan pandangannya. Wajahnya kembali berubah menjadi kesal. Padahal awalnya, ia seakan hampir saja luluh.


Rey, langsung menoleh ke arah Hanna ketika Hanna mengoceh seorang diri di tempat duduknya. "Emp, baik yank. Nanti aku kirimkan." Ucap Rey, setelahnya kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.


"Apa yang kau ocehkan?" Tanya Rey, yang sepertinya benar benar tidak tahu mengapa mood Hanna menjadi berubah lagi, dan wajahnya tampak berubah ke mode kesal lagi.


"Tidak ada, cepat jalan. Aku sudah sangat mengantuk." Hanna merebahkan sandaran jok, lalu memilih pura pura tidur.


Rey, akhirnya melajukan mobil. Menuju ke apartemennya.


Sesampainya disana, ia dengan sengaja tidak membangunkan Hanna yang ternyata benar benar tertidur akhirnya. Cukup lama, ia hanya memperhatikan wajah Hanna yang tampak lelap dalam tidur.


Seakan ingin mengobati rasa rindunya, Rey memandang lekat wajah itu, mata, hidung, dan bibir ranum Hanna. Yang mengingatkan ia di mana dulu wajah itu terlalu tersenyum dan tampak ceria. Sedangkan kini, sangat sulit rasanya baginya untuk kembali bisa menikmati keceriaan itu.


Hanna terbangun, merenggangkan tubuhnya. Lalu mengedarkan pandangannya.


"Apa sudah sampai?" Tanyanya, saat menyadari mobil sudah berhenti di depan sebuah gedung apartemen.


"Emp.." Jawab Rey yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Hanna menoleh ke arah Rey. "Lalu, tunggu apa lagi? Cepat turun!" Pintanya sedikit ngegas.


"Kau mengusirku?"


"Iya! Jangan biarkan sayangmu menunggu terlalu lama." Ketus Hanna, lalu mendorong tubuh Rey agar segera turun.


Rey turun dari mobil, sedangkan Hanna langsung mengambil alih kemudi tanpa turun dari mobil. Ia langsung geser ke jok samping dari dalam mobil. Membuat Rey tersenyum melihat tingkah konyolnya yang masih melekat padanya.


Setelahnya, tampa basa basi Hanna langsung bergegas pergi dari sana.


*


Rey merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu terkekeh seorang diri. Hidupnya seakan kembali berubah. Ada sesuatu yang membuatnya kembali semangat setelah bertemu dengan Hanna. Ternyata, gadis itu masih bertahta di hati Rey. Terlepas dari apa yang terlah terjadi, pada anaknya. Mungkin jauh di dalam lubuh hati Rey, ia tak benar benar menuduh Hanna yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa anaknya. Pasti ada cerita di balik itu semua, Hanna bukan gadis yang akan tega melakukan itu.


Dan satu hal yang masih menjadi pertanyaan terbesar, yang ingin Rey tahu dari Hanna. Mengapa saat itu, ia memilih untuk bercerai dan pergi secara diam diam.


Ya, Rey berencana untuk mengungkap itu semua. Tapi hanya saja, saat ini belum tepat waktunya untuk Rey meminta Hanna menjelaskan segalanya.


"Terimakasih Tuhan, akhirnya kau kembalikan ia dalam hidupku."


*


Shasya dan Bram masih dalam perjalanan menuju ke rumah. Shasya, tampak begitu bahagia. Sudah lama Bram tidak memperlakukannya dengan romantis seperti malam ini. Dan ia bersyukur, akhirnya Bram mulai kembali berubah seperti dulu. Setelah akhir akhir ini terus saja bersikap dingin padanya.


"Sha.." Panggil Bram tiba tiba ditengah keheningan mereka.


"Iya sayang.." Shasya menoleh ke arah Bram.


Sebenarnya saat itu, Bram ingin mengungkapkan niatannya untuk bermadu. Tapi entah mengapa, tiba tiba saja lidahnya menjadi kelu dan tidak dapat mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.


"Kau bahagia?" Akhirnya, justru itu yang keluar dari mulut Bram.


"Tentu, terimakasih untuk malam ini sayang." Ucap Shasya tulus.


Bram, hanya tersenyum tipis untuk membalas itu.


Next >>>