
Hanna mematikan panggilan telpon itu dengan dada yang langsung kembang kempis. Perasaannya langsung terganggu, Rey tak pernah sebelumnya seperti ini. Atau, Hanna saja yang tak pernah merasa curiga sebelum nya?
Hanna terduduk di pinggir tempat tidur.
Dengan pikiran terus saja menerka nerka. Entah mengapa perasaan Hanna tak bisa tenang walaupun ia berusaha keras untuk tidak berfikir yang bukan bukan.
"Hufttt .. Ayolah Hanna. Rey tak mungkin macam macam di belakang mu! Rey bukan orang yang akan melakukan hal kotor seperti itu." Hanna mencoba untuk menenangkan pikirannya sendiri. Mencoba untuk tetap berfikir positif thinking.
Akhirnya, Hanna memilih untuk keluar dari kamar. Menyibukkan dirinya, agar pikiran itu tidak lagi mengganggunya. Hanna memilih untuk bersih bersih, berharap dengan begitu ia bisa tetap tenang dan rasa curiga pada Rey bisa menghilang.
Saat sedang bersih bersih, langkah Hanna terhenti di depan sebuah kamar. Dadanya kembali mulai berkecamuk, perlahan tapi pasti. Hanna memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar itu.
Air matanya menetes begitu saja, ketika ia melihat kamar itu masih sama persis seperti dulu saat ia tinggalkan.
Perlengkapan bayi masih memenuhi kamar itu, tersusun rapi. Hanna berjalan semakin dalam. Ia terkekeh dalam tangisnya, ketika mendekati kuda kayu yang ia rakit dengan susah payah seorang diri. Seakan kembali terkenang, betapa bahagianya dulu ia menunggu kelahiran bayinya saat sedang berada didalam kamar itu.
Mempersiapkan segalanya seorang diri, menyusun dan merakit semua mainannya sambil mengajak bayinya mengobrol.
Saat itu, Rey sedang begitu sibuk dengan Myesa. Hingga membuat Hanna sering menghabiskan waktu seorang diri didalam ruangan itu.
Hanna, kembali menghela nafas dalam. Rasa rindu pada bayinya kembali melandanya. Hanna terduduk di pinggir box bayi, "Sayang, Mama harus bagaimana? Ketika rasa rindu ini sangat menyiksa." Lirih Hanna.
*
Raffael teringat, dengan kado yang ia persiapkan untuk ulang tahun Hanna. Ia belum sempat menyerahkan kado itu.
Akhirnya, Raffael memutuskan untuk berbalik arah. Ia berniat untuk mengantarkan kado itu pada Hanna. Jika terus menundanya, mungkin kado itu tidak akan pernah sampai ke tangan Hanna.
Dengan begitu semangat, Raffael menginjak semakin dalam pedal gas mobilnya. Melaju menuju apartemen Hanna dan Rey.
Ting Tong ..
Hanna, dengan cepat langsung menyeka air matanya. Bangkit, lalu keluar dari kamar bayi itu menuju pintu.
"Apa kau pikir aku Rey? Jika iya, mana mungkin dia menekan bel!" Ujar Raffael sambil terkekeh.
Benar! Hanna sempat berfikir jika itu Rey yang sudah pulang.
"Jadi Rey masih belum pulang?" Lanjut Raffael.
Hanna menggeleng pelan.
"Apa kau akan biarkan aku terus berdiri disini?" Imbuh Raffael akhirnya, dengan nada sedikit ketus.
"Tentu saja tidak! Ayo masuk." Hanna mempersilahkan Raffael untuk masuk.
Dan sebelum melakukannya, Raffael menyodorkan kotak kado yang sedang ia pegang kepada Hanna.
"Happy birthday..!" Imbuhnya.
Hanna terkekeh. "Kau telat 2 minggu." Ujarnya, sambil menerima kado pemberian Raffael.
*
Rey turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah cafe.
Ia turun dengan tergesa, lalu masuk kedalam cafe itu. Mencari sosok yang sudah janjian dengannya untuk bertemu disana.
Setelah tatapannya menemukan sosok itu, ia pun berjalan menghampirinya.
"Maaf Yank, sudah membuat mu menunggu lama." Imbuh Rey, lalu duduk di meja yang sama dengan Yayank.
Yayank langsung menyeka air matanya ketika Rey menghampirinya.
Next >>>