
Anniyah_PoV
*
" Assalamulaikum,, Wah ada tamu rupanya?" Sapaku begitu melihat ada Kholil suami dari Adikku.
" Waalaikumsalam." Sahut keduanya bersamaan yang sedang duduk di karpet bawah bersama putriku Zia.
Dan sepertinya mereka sudah berbaikan kalau di lihat dari cara mereka yang duduk saling berdekatan seperti itu.
Sementara aku dan suami memilih duduk di atas sofa, sebab rasanya tubuhku terasa begitu lemah.
" Gimana Mbak hasilnya?" Tanya Anna yang kelihatan sekali tidak sabarnya.
Sedangkan aku masih terdiam, tidak langsung menjawabnya. Sejujurnya aku masih belum siap hamil lagi, terlebih Zia masih sangat kecil, dia juga masih minum Asi. Seharusnya aku bersyukur di berikan rezeki kembali, namun entahlah, bagiku ini terlalu cepat.
" Alhamdulillah Mbak kamu positif hamil An." Ujar Bang Aziz yang menjawab pertanyaan Anna.
" Alhamdulillah selamat Mbak, aku ikut senang dengernya. Yeiy, Zia akan punya Adik." Pekik Anna mencium pipi gembul Zia begitu bersemangatnya. Sementara aku masih saja diam.
Ya, aku bersama suami baru saja pulang dari Dokter untuk mengecek kandungan, yang ternyata aku sudah hamil dua bulan.
" Lalu kalian kapan ni? Jangan nunda terlalu lama, mumpung masih muda, nanti kalau sudah tua kita tinggal menikmati hidup dan melihat anak-anak kita yang sudah pada dewasa." Ujar Bang Aziz menasehati keduanya.
Aku melihat raut wajah Anna seperti tidak tenang, dia terus menundukkan kepala, sedangkan Kholil dia juga langsung terdiam sesekali melirik ke arah istrinya.
Aku sedikit menaruh curiga, sepertinya Anna yang disini belum ingin hamil. Namun apa alasannya? Aku harus bisa berbicara dengan Adikku, yang sepertinya akan kembali pulang ke rumah suaminya.
" An ayo ajak Zia ke kamar Mbak mau mandiin dia sudah sore juga." Ajakku padanya yang perlahan beranjak bangun.
" Hati-hati Mi." Seru Bang Aziz memperingatiku, aku hanya tersenyum sedikit terpaksa.
Sesampainya di kamar aku langsung berjalan ke arah kamar mandi, mengisi air hangat di bak mandi. Lalu kembali keluar dan menyiapkan pakaian ganti untuk Zia, dan juga perlengkapannya juga yang aku letakkan di atas ranjang.
Kemudian aku berjalan ke arah Anna yang sedang duduk di sofa panjang." An, kamu nggak sengaja nunda kehamilan 'kan?" Tanyaku pelan-pelan padanya, agar ia mau bercerita dan mengatakan yang sejujurnya padaku.
Dan Anna terlihat kebingungan sekarang, dan sepertinya aku tidak butuh jawabannya, sebab aku sudah tahu jawabannya hanya denganelihat keterdiamannya itu.
" Kenapa? Jujur sama Mbak! Mabk lihat Kholil itu sangat mencintaimu lho. Laki-laki kalau sudah mengajak me hubungan yang lebih serius, itu tandanya dia sudah siap, siap menjadi seorang suami sekaligus seorang Ayah. Apa kamu tega, melihat dia terus sedih karena belum melihat adanya kehadiran buah hati kalian dalam pernikahannya.
" Wanita memang harus pintar menolak, sedangkan laki-laki mereka pintar dalam memilah. Awalnya Mbak juga sama sepertimu dulu, namun seorang istri wajib melayani suaminya bukan? Dan juga sebisa mungkin menyanggupi permintaannya. Mulai dari situlah Mbak ikhlas kalau memang sudah waktunya mau begaimana lagi, ya harus menerimanya. Dan kamu tahu, kehamilan Mbak yang sekarang, sebenarnya Mbak belum siap, terlebih kamu tahu sendiri Zia masih sangat kecil, walau setiap beribadah Bang Aziz selalu mengeluarkannya di luar, dan kamu tahu sendiri, ini buktinya, semua karena sudah takdir dan rezeki dariNya. Coba nanti kalian berdua bicara pelan-pelan dari hati ke hati, kamu ingin melihat suamimu bahagia bukan? Jangan sampai karena sikap egoismu ini, suamimu berpikiran buruk dan mencari jalan keluar supaya ia bisa mempunyai anak dan itu darah dagingnya sendiri, ya kamu pasti tahu sendirilah, memang tidak semua laki-laki itu sama semuanya, tapi kita sebagai istri sahnya harus waspada dan pandai membuat suami kita sendiri bahagia, terlebih kalau kalian nanti sudah mempunyai anak, di jamin dia betah berada di rumah, pergi sebentar saja rasanya ingin cepat pulang ingin melihat istri dan terutama anaknya, rasa lelah karena bekerja pun langsung lenyap seketika percayalah." Terangku panjang lebar padanya. Berharap Anna Adikku mengerti dengan apa yang aku katakan tadi.
" Maaf Mbak, tapi aku sudah bicara dengan Bang Kholil tadi, jika kita berniat untuk segera memiliki momongan. Memang aku disini yang ingin menundanya, seperti yang Mbak alami dulu, namun setelah kejadian ini aku sadar jika kehadiran seorang anak bisa membuat rumah tangga semakin bahagia lagi. Dan aku ingin Bang Kholil semakin mencintaiku Mbak." Jawabnya yang sepertinya sudah menyesal.
" Alhamdulillah kalau begitu, Mbak ikut senang dengernya, kalau jadi nanti calon Adiknya Zia punya teman bermain. Ya sudah Mbak mandiin Zia dulu, kamu bisa kembali ke depan An." Ujarku sembari melepaskan pakaian Zia dan memandikannya.
Beberapa saat kemudian, aku sudah kembali ke depan bersama Zia, tubuh kami sudah sama-sama segar sebab setelah memandikan Zia tadi, aku pun juga membersihkan diriku.
" Nah itu Mbak kamu, kok lama Mi?" Tanya Bang Aziz setelah melihatku menggendong Zia.
" Iya, sekalian mandi juga tadi." Aku mengambil tempat duduk di sebelah suamiku.
" Ya sudah Mbak, kami pamit sekarang ya keburu Maghrib sebentar lagi. " Seru Anna dan Kholil yang beranjak bangun, kami pun jadi ikut bangun untuk mengantarkan mereka hingga sampai di depan.
Bang Aziz pun mengantar hingga ke gerbnag sementara aku masih berdiri di depan teras sembari menggendong Zia, namun pandanganku masih terus menatap kepergian mereka, hingga bunyi klakson pun mengudara seiring mobil melaju hingga tak terlihat lagi dari pandangan.
Aku dan suamiku kembali masuk ke dalam rumah." Kasihan si Kholil sudah kepengen banget punya anak, tapi—
" Iya aku sudah tahu, tadi Anna sudah menceritakan padaku semuanya. Tapi mereka berdua sudah bicara kok, kalau akan fokus memiliki momongan. Ya mudah-mudahan mereka segera di beri momongan, Aamiin.." Sahutku menjelaskan, kami berjalan menuju ke kamar, dengan Bang Aziz yang terus mengekori kami berdua.
" Aamiin.. Ya sudah gimana kalau sekarang giliran Abi tengokin calon Dedeknya Zia?" Tanya suamiku yang sengaja menggoda.
" Nggak usah aneh-aneh Bi, ini udah mau Maghrib lho. Ingat apa tadi kata Dokter, tunggu sampai empat bulan baru boleh." Tegurku mengingatkan, apa laki-laki dasarnya memang begitu ya? Mes*m!!
" Wah jangan dong Mi itu kelamaan, nggak kasihan apa sama Abi, gimana kalau Abi pengen, minta siapa hayo? Lagian kalau pelan-pelan nggak akan kenapa-kenapa kok, percaya deh sama Abi." Ujar Bang Aziz yang masih saja terus berusaha merayuku.
Kini kami sudah berada di dalam kamar, kuletakkan Zia ke dalam boks tempat tidurnya. " Zia tunggu disini ya sayang." Ujarku, lalu aku berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil pakaian ganti untuk suamiku, Bang Aziz masih terus mengikutiku di belakang.
" Sudah mendingan Abi bersihkan diri. Lalu ke masjid." Titahku menyodorkan pakaian miliknya dan bersiap akan melangkah menghampiri putriku. Namun langkahku terhenti saat suamiku justru menghimpit tubuhku di lemari.
" Ya sudah Abi akan bersabar menunggu nanti malam saja, tapi berikan satu ciuman dulu, baru Abi akan pergi mandi." Pintanya dengan jurus rayuan mautnya.
" Ish, kok gitu!!" Protesku menatapnya galak.
" Ayolah sayang, cuma satu ciuman saja."
" Benar ya satu ciuman, nggak lebih?" Tanyaku yang mengajaknya bernego.
" Ya Allah sayang, segitunya kamu sama suami sendiri." Lirihnya yang kini memasang wajah sok sedih.
" Baiklah, tutup mata."
" Kenapa harus tutup mata?" Kini giliran dia yang protes.
" Mau nggak ni?" Tanyaku yang menahan senyum.
" Baiklah, daripada nggak dapet." Ujarnya pasrah.
Setelah suamiku menutup mata, aku segera memajukan wajahku mengikis jarak di antara kami. Pelan namun pasti kudaratkan bibir ke permukaan bibir tipisnya, niatku hanya sekilas saja, namun Bang Aziz berhasil menekan tengkukku, hingga dia menciumku cukup lama, ******* juga menyesapnya.
Hingga tak lama ia melepaskan diri." Isshh, Abi katanya cuma sekali, la ini apa barusan!" Sungutku kesal dengan sifat jahilnya.
Bukannya menyesal suamiku justru tertawa senang telah berhasil menciumku, sembari ia membersihkan sisa-sisa di atas bibirku ini. Dasar mes*m! Entah semakin kesini aku semakin tahu jika suamiku ini ternyata cukup mes*m juga, lalu dia melangkah menuju kamar mandi, meninggalkanku yang masih saja menggerutu.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.