Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Cobaan Atau Siksaan?


Aziz_PoV


*


Hambatan tidak bisa menghentikan Anda. Masalah tidak bisa menghentikan Anda. Orang lain tidak bisa menghentikan Anda. Hanya Anda yang bisa menghentikan Anda


Setiap orang memiliki jalan kehidupan dan perjuangannya masing-masing. Tidak selalu mudah, hampir menyerah tapi karena tekad yang kuat kebanyakan dari mereka bisa mencapai apa yang mereka mau.


Semua itu tentu bukan hal yang mudah, selain usaha terus menerus yang tak pernah putus, memiliki pikiran yang positif juga jadi nilai tambah. Pribadi yang memiliki pikiran yang positif dan sadar akan apa yang ia mau tentu akan lebih kuat dalam menghadapi segala rintangan kehidupan.


Aku baru saja sampai di tempat tinggalku dengan Anni di kota, ya kami sudah berpindah tempat tinggal namun masih bangunan milik temanku Saiful. Hanya saja huniannya jauh lebih besar dan tempatnya juga tidak terlalu ramai. Sebab disini bangunannya cukup elit, tidak semua orang bisa masuk ke area perumahan ini


Sebenarnya aku sudah akan membayar lunas unit tersebut, namun Saiful memberikan keringanan, ia memintaku santai membayarnya boleh di bayar tiga kali. Kurang beruntung apalagi aku memiliki sahabat seperti dirinya.


Setelah meletakkan tas kecik juga tas ransel bawanku yang entah apa aja yang di masukkan ke dalam tas oleh Anni, aku masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih terlebih dahulu.


Tak lama aku pun keluar dan merebahkan tubuh lelahku ini di atas ranjang. Baru beberapa jam berpisah dengan istri dan anakku, aku sudah merindukan mereka. Ah, iya aku belum memberi kabar pada istriku, sebaiknya aku langsung menghubunginya saja. Tak lama panggilanku segera di angkat oleh Anni.


" Assalamualaikum, Bi. Sudah sampai ya?" Sapa Anni di seberang sana. Ku lihat dia sedang menyusui putri kami. Aku memang tengah melakukan panggilan lewat video sekarang ini, agar rasa lelahku setidaknya berkurang setelah melihat mereka.


" Waalaikumsalam. iya baru saja Abi sampai terus mandi. Duh, putri cantik Abi lagi haus ya sayang? Abi sudah kangen dengan kalian." Balasku menatap sayang pada mereka berdua.


" Ya sudah Abi istirahat aja, sudah makan belum Bi? Tadi 'kan cuma minum teh di rumah, Zia juga sudah mulai tidur ini." Sahutnya, yang memperlihatkan wajah lelap putri kami yang mulai melepaskan bibir mungilnya dari ****** milik Aminya.


" Tadi saat di perjalanan Abi sudah mampir makan kok. Kalau belum pasti Abi sudah tidak kuat melanjutkan perjalanan sayang. Sebenarnya kepala Abi ini terasa pusing sekali." Ucapku yang sengaja memancingnya.


" Abi lagi sakit kepala? Ya sudah istirahat saja, aku matiin ya panggilannya." Balasnya yang merasa tidak enak hati.


" Jangan dong sayang. Seharusnya kamu tahu, ini semua karena Abi sudah berpuasa terlalu lama, seharusnya semalam sudah bisa di tanami, namun gagal karena inseden perdebatan antara Anna dan Bapak, jadi gagal deh." Keluhku yang terus saja harus menahannya.


" La emang Abi lagi berpuasa? Tapi kok kemarin siang makan? Abi jangan bohongi aku ya?" Sahutnya yang membuatku gemas padanya sebab ia tidak peka dengan ucapanku barusan.


" Ah, bukan puasa itu sayang. Puasa bercocok tanam maksud Abi tadi. Ah, seharusnya tadi kamu ikut saja ke kota bersama Abi, tapi naik mobil bersama Anna dan Mas Anton, kenapa aku nggak kepikiran itu sih sayang. Kamu sengaja mau menyiksaku ya disini?!" Tudingku yang menatapnya curiga.


" Isshh Abi! Kok suudzon sih. Nggak boleh loh apalagi sama istri sendiri, kenapa Abi nggak bilang tadi malam kalau kepengen? Aku 'kan pasti kasih juga, bukan hanya Abi yang ingin." Sahutnya yang justru balik menyerangku.


" Ha! Jadi Ami juga ingin semalam itu? Kenapa nggak bilang? Abi kira, Ami kecapean, jadi nggak tega bangunin. Tahu gitu aku paksa saja ya semalam." Sesalku yang sedikut tidak peka dengan keinginan istriku yang ternyata juga sama tengah menahannya.


" Ya itu justru Ami dapat pahala kalau minta duluan ke Abi. Huh! Mau gimana lagi, tapi nggak apa-apa juga sih, sekalian bareng pengantin baru kita juga malam pertama, hehe.. Nanti agak siangan Abi kesananya. Istirahat bentaran dululah ini, maklum tubuhnya yang semakin tua,, hehe." Godaku kami terus mengobrol hingga beberapa menit kemudian panggilan pun berakhir, sebab Anni di panggil oleh Ibu mertua, aku pun akhirnya memilih memejamkan kedua mata lelahku.


Entah sudah berapa lama aku ketertiduran, hingga kupaksa untuk bangkit dan segera melaksanakan ibadah lebih dulu, sebelum pergi ke bengkel. Namun sebelum itu aku mampir untuk membeli makan siang terlebih dahulu. Selang beberapa saat aku sudah berada di bengkel milikku, kulihat Yono dan Bowo yang sedang sibuk memperbaiki beberapa kendaraan. Alhamdulillah, hari ini bengkel ramai pelangg*n.


" Lho Cak sudah kembali?" Tegur Yono yang tiba-tiba berdiri dan melihat kedatanganku. Aku langsung tersenyum berjalan masuk menghampiri keduanya.


" Iya, baru sampai tadi. Ada yang belum di tangani Yo?" Tanyaku yang melihat ada dua motor lagi yang masih di anggurin oleh mereka.


" Yang dua itu Cak yang belum kami kerjakan, soalnya agak ribet benerinnya." Ujar Yono padaku.


" Baiklah sini biar aku saja yang kerjakan. Kalian lanjutkan lagi saja." Aku segera berjalan masuk untuk mengganti pakaianku dengan baju dinas, lalu berjalan kembali ke depan dan segera ku kerjakan motor yang harus kuperbaiki. Kami bertiga saling bekerja sama dengan baik.


Hingga tak terasa hari sudah sore, hanya tinggal menunggu salah satu motor pelangg*n terakhir sebelum bengkel di tutup. Aku juga sudah bersih-bersih, dan berganti pakaian yang aku pakai kesini tadi.


Setelah Yono dan Bowo sudah pulang, aku segera melajukan motorku juga ke arah Masjid untuk melaksanakan ibadah terlebih dahulu, setelah selesai aku tidak langsung pulang melainkan ingin mampir ke rumah Nikmah, ingin melihat keadaan anak-anakku.


Tak berapa lama, aku sudah sampai di rumah mantan istriku, ku lihat ada dua mobil yang terparkir di garasi samping rumah. Yang itu berarti Cak Rojak ada disini malam ini. Namun tak mengapa, itu justru bagus, agar tidak ada kesalapahaman di antara kami nantinya.


" Assalamualaikum." Papaku berdiri di ambang pintu depan yang ternyata terbuka sedikit, lama menunggu akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan sambil mengucapkan salam kembali, namun masih tak ada sahutan dari dalam. Kemana semuanya?


Baru akan kembali memanggil, kedua mataku terbelalak tidak percaya saat melihat sesuatu yang tidak pantas terlihat di depan mataku. Dengan cepat aku berbalik, dengan nafas yang sedikit memburu. Ah, sebaiknya aku pergi saja, ternyata ini bukan waktu yang tepat.


Astagfirullah.. Ini namanya cobaan atau justru siksaan? Ya Allah karena sedang jauh dari istriku. Engkau kirimkan banyak sekali godaan. Tadi saat keluar dari Masjid aku tak sengaja melihat sepasang suami istri yang sedang bermesraan di dalam mobil, entah suami istri atau bukan, yang jelas mereka sedang bercumbu. Lalu barusan ini yang lebih parah, seharusnya aku tak langsung masuk ke dalam rumah tadi. Dengan cepat aku mengendarai motorku menuju ke tempat tinggalku dengan perasaanmu yang bercampur aduk. Herannya kemana anak-anak tadi?


.


.


.


.tbc


*Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana*.