
Rojak_PoV
*
Aku baru saja pulang dari luar kota dan langsung menuju ke rumah istri keduaku Nikmah. Setelah memakirkan mobilku di garasi samping rumah, aku segera turun dan berjalan masuk. Jika saja waktu bisa kuputar ulang, aku ingin menjadikan dirinya istriku yang pertama dan terakhir. Dengan kata lain, aku tidak ingin menikah dengan wanita lain.
Namun takdir berkata lain, Nikmah memilih pergi meninggalkanku atas keinginan kedua orangtuanya, dan aku justru terjebak menikah dengan Juleha Adikku sendiri, yang berubah status menjadi istri pertamaku saat ini.
Sebenarnya pernikahan kedua orangtua angkatku yang adalah orangtua kandung Juleha amatlah berbahagia, namun sayang sudah dua tahun lamanya mereka belum juga di karuniai seorang anak. Sementara Kakekku Ayah dari Ayahku mendesak menginginkan seorang cucu laki-laki sebagai pewaris kekayaannya, Ya walau bukan anak kandung Kakek tidak mempermasalahkan. Jadilah mereka mengapdosiku dari panti.
Putra bungsu Kakek yaitu Ibunya Nikmah hanya bisa mempunyai anak perempuan, sebab Bibi sudah tidak bisa lagi mempunyai keturunan karena rahimnya harus di angkat pasca melahirkan Nikmah dulu, jadi harapan satu-satunya adalah keturunan dari Ayahku.
Kakek berharap dengan adanya hal ini, menantunya yaitu Ibuku bisa hamil itulah harapan semua keluarga. Kakek sendiri yang mengadopsiku langsung dari sejak usiaku satu tahun di salah satu panti asuhan besar di kota ini, beliau sendiri adalah donatur tetap disana, sehingga tak sulit mendapatkan sebuah informasi.
Hingga tiga tahun kemudian kabar baik pun menghampiri keluarga kami, ya Ibuku akhirnya mengandung buah hati mereka, cucu kandung Kakek yaitu Juleha. Meski aku yang sebagai anak angkat, tetapi mereka tetap memperlakukan sebagai putra kandung mereka sendiri.
Tak ada yang namanya perbedaan di antara aku dan Juleha, semua saling menyayangi satu sama lain, hingga beranjak remaja, hidupku semakin berwarna mana kala aku mempunyai seorang sepupu yang sangat cantik, ya siapa lagi jika bukan Nikmah. Kami teman seumuran hanya berbeda bulan saja, bahkan kami selalu satu kelas yang sama.
Entah mengapa semakin hari aku semakin tertarik dengan wanita itu, apa karena kami bertemu setiap hari di sekolah? Atau ini hanya cinta monyet saja? Entahlah aku semakin tersiksa jika berusaha menghindarinya. Dan semakin hari pikiranku hanya ada dia, dia, dia. Eh kok jadi nyanyi sih! Ya ampun..
Namun sayang kami adalah saudara, yang tidak mungkin mempunyai hubungan yang lebih dari itu, dengan terpaksa aku pun hanya bisa memendam perasaan ini seorang diri, tapi tak apa yang penting kami masih terus bersama, meski diri ini terus tersiksa.
Namun hal tak terduga pun terjadi, aku baru mengetahui jika aku bukanlah anak kandung Ayah dan Ibuku. Saat itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Ayah dan Ibu di dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka, awalnya aku ingin menemui bu, namun karena mendengar berita tentang statusku yang sebenarnya aku pun memilih pergi.
Di sisi lain aku merasa kecewa, tentu saja, tapi kecewa kepada siapa aku pun tidak tahu? Namun di sisi lain aku merasa lega sekaligus bahagia, yang itu berarti aku bisa mengejar cintaku pada Nikmah. Aku mengira selama ini hidupku sangatlah sempurna, lahir di keluarga yang cukup berada tak kekurangan apapun, mempunyai keluarga yang lengkap juga, kedua orangtua yang sangat menyayangiku, serta Adik yang sangat cantik yang sangat aku sayangi. Begitupun dengan Kakek, kami memiliki banyak sekali kesamaan. Namun itu semua bukanlah milikku yang sesungguhnya, kami tidak memiliki darah yang sama.
Ya pada akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepada Nikmah, awalnya ia tak percaya, tapi aku terus bersikeras membuatnya percaya.
" Jangan bercanda kamu! Kamu sudah tidak waras Rojak, mencintai saudaramu sendiri, kita ini saudara!." Keukeuhnya, waktu itu kami masih duduk di bangku menengah pertama.
Hingga kami berdua naik ke sekolah menegah ke atas, aku masih terus berusaha, memperlihatkan rasa sayang dan cinta tulusku pada Nikmah, hingga akhirnya cintaku di terima olehnya beberapa bulan kami masuk sekolah, akan tetapi ia meminta hubungan kami di rasahasiakan dari keluarga besar kita. Tetapi yang membuatku bahagia, ia tidak membatasi hubungan kami, bahkan hubungan kami sudah sangat jauh hingga melakukan hal yang belum waktunya, ya kami tahu ini salah, akan tetapi rasa ini sungguh sulit kami padamkan.
Hingga setahun kemudian setelah kepergian Kakek Ayah dan Ibuku menjelaskan padaku yang sebenarnya. Memang selama ini aku memilih diam, agar mereka sendiri yang menjelaskan padaku langsung. Dan aku langsung bertanya siapa orangtua kandungku pada mereka, tapi sayang Ayah dan Ibu tidak mengetahui hal itu, sebab Kakek sendiri yang telah mengadopsiku, tanpa sepengetahuan Putra dan menantunya, bahkan kedua orangtua Nikmah juga tak tahu menahu periha itu.
Tak kukira Adikku Juleha juga ikut mendengarkannya, dan entah mengapa sejak mengetahui bahwa aku bukanlah Cacak kandungnya, ia semakin aneh menurutku, daridulu Juleha memang senang jika bermanja-manja padaku, namun semakin kesini dia semakin berani dan menunjukkan ketertarikannya padaku, bahkan menyatakan bahwa ia mencintaiku dengan sadar.
" Juleha sadar! Aku ini Cacakmu sendiri. Kamu harus buang perasaan berlebihanmu itu, jika tidak Cacak yang akan menjaga jarak padamu." Ancamku, awalnya ia hanya diam saja dan menurutiku, namun saat ia mengetahui hubunganku dan Nikmah ia tidak terima.
" Kenapa Cak? Kenapa harus Neng Nikmah yang Cacak pilih menjadi wanitamu! Apa kurangnya Leha Cak? Jawab! Apa karena Neng Nikmah tidak ada hubungan darah denganmu? Lalu bagaimana dengan kita? Kita juga tidak hubungan selain Kakak dan Adik angkat. Jika kamu masih memilih Neng Nikmah, jangan salahkan aku, jika aku akan mengatakan hubungan kalian pada semuanya terlebih pada Om dan Tante." Ujarnya yang kini berbalik mengancamku.
" Ya katakan saja, terserah!" Jawabku yang lelah menanggapi sifat manjanya itu. Awalnya aku tidak peduli padanya, namun sayang ia sungguh-sungguh mengatakan pada semua anggota keluarga, hingga Nikmah pergi meninggalkanku, dan dari situ, aku menjadi pribadi yang pendiam dan tak tersentuh.
Aku pun menjaga jarak dengan Adikku Juleha, sejauh-jauhnya. Agar ia bisa berpikir dewasa bahwa jika tindakannya itu bisa membuat orang lain merasakan sakit hati dan juga merasakan hancur, sehancur-hancurnya. Jangan di pikir seorang pria tidak mengalami hal demikian, itu salah. Kami para pria juga bisa hancur jika itu menyangkut seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.