
Anna_PoV
*
Pagi ini seusai masak dan mencuci pakaian aku kembali masuk ke dalam kamar sebab hari masih gelap di luar, nanti sajalah menjemurnya kalau di luar sudah terang, rasanya lelah sekali tubuh ini.
Ku lihat di atas ranjang Bang Kholil sudah tidak ada, sepertinya sedang ada di kamar mandi di kamar ini, sebab aku tadi mencuci pakaian di belakang, dekat dapur.
Saat sedang enak-enak duduk di sofa, terdengar suara ponsel Bang Kholil berdering, panggilan pertama aku mencoba mengabaikannya, lalu dering kedua masih tetap sama aku tetap bergeming, hingga deringan ketiga aku mulai penasaran siapa pagi-pagi begini yang menghubungi suamiku?
Hingga aku pun beranjak berdiri mengambil ponsel Bang Kholil yang tergeletak di atas nakas, seketika kedua mataku menyipit saat melihat siapa nama yang tertampang di layar depan itu.
" Fera?" Beo ku pelan dengan raut bingung, siapa Fera ini?
Belum sempat aku mengangkatnya, panggilan itu sudah berakhir, aku pun akan meletakkan kembali ponsel itu ke nakas, namun tak lama ada sebuah pesan masuk yang langsung tertampang depan di layar, seketika aku langsung bisa membacanya.
Fera: Bang dimana? Nanti jadi anterin aku 'kan? Aku tunggu di tempat biasa ya.
Fera: Ingat janjimu kemarin, pokoknya aku tunggu kamu, pukul sebelas di taman dekat kebun binatang. Awas sampai tidak datang, aku akan marah!
Degh!!!
Aku terkesiap membaca pesan-pesan dari wanita bernama Fera-Fera ini, siapa sebenarnya wanita ini? Ada hubungan apa dengan suamiku? Aku tak ingin suudzon dengan Bang Kholil, namun melihat pesan yang janggal dari seorang wanita tentu saja aku sangat curiga.
Apa Bang Kholil selingkuh di belakangku? Tidak mungkin, kulihat dia sangat mencintaiku selama kami menikah. Apa dia marah karena aku menolak untuk mengandung? Tapi dia 'kan sudah tahu kalau aku belum siap mempunyai anak?
Saat aku masih melamun memikirkan hal yang tidak-tidak, terdengar suara panggilan dari Bang Kholil, yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku.
" Sayang ada apa? Kenapa memegang ponselku?" Tanyanya yang spontan meraih ponselnya dari tanganku. Eh aku ketahuan, tetapi tidak ada yang salah memang, sebab selama ini aku dan suamiku memang saling terbuka, tidak ada rahasia-rahasian masalah ponsel di antara kami.
" Oh, nggak ini tadi ada yang menghubungimu Bang, namanya Fera? Siapa dia, kok aku baru dengar namanya ya?" Tanyaku ingin mendengar jelas jawaban darinya.
Kulihat raut wajah suamiku yang sedikit menegang, mungkin dia terkejut karena aku melihat ponselnya, atau ada hal lain yang ia coba tutupi dariku, dan aku mencoba ingin mendengar jawaban darinya, sampai mana kejujuran darinya.
" Oh, Fera? Dia teman sekolah Abang dulu, kenapa dia menghubungiku ya? " Jawabnya justru bertanya balik padaku.
Ya mana tahulah kenapa justru bertanya padaku? Tanyaku di dalam hati, masih menatapnya curiga. " Abang nggak ada hubungan apa-apa 'kan sama teman Abang itu?" Tanyaku yang masih saja curiga terhadapnya.
Istri mana coba yang nggak curiga saat melihat langsung isi pesan yang di kirim oleh wanita lain kepada suaminya sendiri? Panas, cemburu, kecewa, sudah pasti, namun yang lebih penting ingin mendengar langsung dari mulut suami kita sendiri.
" Ya nggaklah sayang. Hubungan apa sih, jangan suudzon sama Abang kalau tidak ada buktinya. Sudahlah Abang mau sholat dulu, kamu sudah sholat?" Jawabnya entah jujur entah tidak.
" Lagi?" Ulangku, maksudnya lagi apa itu.
" Maksudnya kami memang tidak ada hubungan apapun sayang, kamu tidak perlu khawatir, Abang cintanya cuma sama kamu, dahlah Abang mau beribadah dulu, keburu habis waktunya." Sahutnya sembari melangkah ke luar kamar.
Dan aku masih berdiri mematung di tempat semula, ada perasaan berdenyut seketika. Entah mengapa jawaban dari suamiku tadi masih tidak membuatku puas diri, benarkah apa yang dia katakan? Tapi selama ini dia sangat jujur padaku, baiklah sepertinya aku harus percaya. Namun sebelumnya aku perlu memastikan sesuatu dulu.
Dan pada akhirnya setelah Bang Kholil berangkat bekerja, aku pun ikut keluar rumah sekitar pukul sepuluh. Dengan jarak lumayan jauh aku membuntuti suamiku sendiri, entah mengapa kali ini aku sedikit curiga pada suamiku sendiri. Namun sebelummya aku sudah memesan tukang ojek terlebih dahulu dan sudah standby di depan gerbang.
Aku menunggu di depan pabrik guna memastikan lebih lanjut, masih dengan Bang ojek aku menunggu dengan jarak tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Sekitar pukul sebelas kurang, aku melihat mobil suamiku keluar lagi, apa dia ijin? Entahlah, yang pasti aku akan terus membutinya dari belakang.
Tadi pas menunggu aku sempatkan menghubungi Mbak Anniyah, jika aku akan mampir ke rumahnya, ya sekalian aku menjenguk ponakanku mumpung lagi keluar, dan jarak taman itu dengan rumah Mbak Anniyah tidak terlalu jauh. Aku terus meminta ojeknya mengikuti mobil milik suamiku, dan hampir saja aku kehilangan jejaknya pas di rambu lalu lintas tadi.
Tiba di taman, aku meminta ojeknya menungguku. Dan dari kejauhan kulihat Bang Kholil dengan seorang wanita sedang duduk berdampingan di sebuah bangku panjang, aku tak melihat jelas wajah wanita itu sebab ia terus saja menunduk. Hingga tiba-tiba mereka beranjak bangun dan berjalan masuk ke dalam mobil suamiku, mau kemana mereka berdua?
Aku semakin curiga, aku meminta tukang ojek tadi membuntuti mibil Bang Kholil, sedih sekali rasanya saat melihat suamiku pergi bersana wanita lain. Hingga sampailah aku di sebuah supermarket besar di kota ini, kulihat mobil Bang Kholil masuk ke dalam, mau ngapain mereka masuk kesana?
Kami bahkan sudah berbelanja minggu kemarin. Setelah membayar tukang ojek, aku memutuskan untuk masuk ke dalam, dan secara bersamaan ada pesan masuk dari Mbak Anniyah, yang mengatakan jika ia dan suaminya—Bang Aziz sedang pergi berbelanja dan rupanya mereka juga berbelanja di supermarket yang sama dengan yang aku datangi sekarang ini.
Tak mengulur waktu aku segera mencari keberadaan suamiku, dan juga Mbak Anniyah beserta suaminya. Mungkin saja bertemu dengan mereka semua, aku terus menyusuri lorong demi lorong hingga kulihat suamiku mendorong troli bersama wanita tadi.
Dan pandanganku tidak sengaja melihat Mbak Anniyah dan suaminya yang ternyata juga tengah melihat suamiku di ujung sana. Dan dengan mantap aku memutuskan menghampiri suamiku, aku ingin melihat seperti apa reaksinya saat kepergok olehku.
" Bang!" Panggilku begitu aku sudah ada di sampingnya.
Mendengar suaraku, suamiku seketika menoleh ke samping dan raut wajahnya terlihat sangat terkejut dengan kedatanganku ini. Lihatlah, tampang orang yang kepergok istri sedang berjalan bersama selingkuhannya, aku sangat menahan rasa amarahku saat ini.
" Eh, Anna, ka—kamu ngapain disini?" Tanyanya dengan sangat gugup. Lihatlah, bahkan ia memanggil namaku di saat bersama wanita itu.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.