
Aziz_PoV
*
Setelah drama di rumah sakit dua hari yang lalu, baik aku maupun Nikmah seperti dua manusia yang tidak saling mengenal, kami hanya bicara sekedarnya saja agar anak-anak tidak curiga, aku terlalu malas menanggapi ocehannya itu, jadi aku memilih diam saja.
Dan malam itu akhirnya Nikmah terpaksa munuruti permintaanku walau harus mengajakku berdebat lebih dulu, Setidaknya dia mau pulang ke rumah menemani anak-anak sehingga mereka semua aman.
Ketika Nikmah datang paginya dan bergantian menjaga Zikri giliran aku yang pulang ke kontrakan hanya untuk sekedar bersih-bersih dan berganti pakaian.
Mus dan Hilda juga sudah sempat datang ke rumah sakit menjenguk Adiknya kemarin sore, lalu malamnya kembali pulang bersama Uminya. Dan sore ini semuanya sudah berkumpul disini sebab kabar baiknya sore ini Zikri sudah di perbolehkan untuk pulang oleh Dokter.
Seketika perasaan kami semua lega mendengarnya. Saat kami sedang beres-beres untuk bersiap pulang, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dari luar bersamaan dengan ucapan salam dari dua orang yang baru masuk ke dalam ruangan.
" Assalamualaikum.." Ujar mereka bersamaan, yang tidak lain adalah Neng Atin dan juga Abah yang entah dari mana tahu jika Zikri masuk rumah sakit, sebab aku memang sengaja tidak memberitahu mereka terutama Abah agar beliau tidak kepikiran. Dan lihat sekarang justru Neng Atin yang mengajak langsung Abah kemari.
" Waalaikumsalam." Balas kami.
" Lho Abah, Neng, kok tiba-tiba datang kesini." Ujar Nukmah seraya menyambut kedatangan keduanya.
Semua anak-anak menyalami Abah dan juga Budhenya secara bergantian, dan setelahnya barulah aku yang terakhir menyalami mereka, sekalian mau bicara pelan dengan Neng Atin, agar tidak ada yang mendengar.
" Neng, kenapa mengajak Abah kesini?" Bisikku di dekat telinganya, sementara Abah berjalan mendekati ranjang Zikri.
" Kenapa? Tidak boleh?!" Ketus Neng Atin pelan seperti biasanya.
" Bukan begitu Neng, aku sengaja tidak memberi kabar kalian itu agar tidak membuat Abah kepikiran, kamu justru mengajak beliau kemari, kasihan Abah jika kamu tambah masalah lagi!" Desisku yang tidak sadar sedikit meninggikan volume suaraku.
" Kenapa Ziz? Kenapa kalau Abah datang. Abah 'kan ingin menjenguk cucu Abah yang tampan ini. Bagaimana Zikri keadaanmu Nak?" Tanya Abah seraya mengusap sayang puncak kepala cucunya yang masih terbaring di atas ranjang.
" Bukan begitu Abah..."
" Kmu diam dulu, aku sedang bertanya dengan cucuku." Potong Abah.
" Alhamdullilah sudah sehat Mbah Kong, Zikri mau pulang saja, bosan jika harus disini terus." Seloroh Zikri yang terlihat sudah kembali ke mode normal.
" Syukurlah kalau begitu. Jadi ini semuanya sedang bersiap untuk pulang? Wah, jadi Mbah Kong terlambat datang ya?!" Sesalnya dengan menunjukkan mimik wajah sedih.
" Maafkan Nikmah Abah.." Timpal Nikmah yang ikut-ikutan merasa tidak enak.
" Sudah-sudah kok jadi sedih begini suasananya. Ayo Abah akan temani Zikri pulang." Ajak Abah yang kini membantu cucunya untuk turun dari ranjang dan duduk di kursi roda.
Setelah menyelesaikan biaya admin di depan aku segera keluar munuju parkiran memasukkan barang-barang ke dalam mobil milik Nikmah, dan melajukan mobilnya hingga sampai ke lobby, ternyata semuanya sudah berada di depan lobby rumah sakit, dan aku segera menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.
Abah dan Neng Atin juga masuk ke dalam mobilnya yang aku tahu itu adalah milik Cak Arga, sementara aku mengikuti mereka dengan motorku di belakang.
Hingga tak lama kami semua sudah sampai di rumah Nikmah, selesai memarkirkan motor aku segera membantu membawa barang-barang membawanya ke dalam rumah. Sementara semuanya ada di kamar Zikri aku lebih memilih duduk di sofa, lalu tak lama aku keluar untuk beribadah di Masjid depan sana.
" Assalamualaikum.." Ucapku ketika memasuki rumah.
" Waalaikumsakam."
Terlihat mereka semuanya tengah berkumpul di ruang makan, aku menyempatkan diri melihat Zikri yang ternyata sudah terlelap di atas ranjangnya. Dikarenakan sedang sakit, kini dia yang tidur di ranjang bawah, sementara Aidan tidur di ranjang atas.
" Sudah tadi Bi, terus Adek langsung minum obat lalu setelah itu tertidur." Musdalifah-lah menjawabnya, aku hanya mengangguk mengerti.
" Makan dulu sini Ziz.." Ajak Abah seraya menepuk karpet kosong di sampingnya, tanpa di minta dua kali aku segera duduk di samping beliau.
Neng Atin juga langsung mengambilkan makanan untukku. Entah kapan mereka semua memasaknya, mungkin saat aku tinggal beribadah tadi.
Selesai makan aku dan Abah masih duduk di karpet, Nikmah dan Neng Atin sedang mencuci piring-piring di dapur, sementara anak-anak sudah pada masuk ke kamar mereka untuk belajar dan beristirahat.
" Kamu akan menginap disini malam ini Ziz?" Tanya Abah setelah menghabiskan air minumnya.
" Nggaklah Bah, mana mungkin. Aziz pulang ke kontrakan saja. Kalau Abah sendiri akan menginap malam ini dengan Neng Atin?" Tanyaku balik, hari sudah malam sepertinya tidak mungkin jika mereka akan pulang.
" Mungkin Abah dan Nengmu akan menginap disini, kasihan sama supirnya pasti dia juga lelah, baru datang sudah pulang lagi. Apalagi perjalanan cukup jauh." Sahut Abah yang memikirkan kondisi supir Cak Arga, pria muda yang sebenarnya adalah santrinya Cak Arga sendiri.
" Itu lebih baik Bah, hari sudah malam lebih baik menginap saja malam ini. Mungkin sebentar lagi Aziz akan pulang, Abah istirahat saja." Pintaku kepada beliau agar Abah juga memikirkan kondisinya yang sudah semakin tua, tidak seharusnya Neng Atin mengajak Abah kemari. Aku sangat menyayangkan niatnya itu, walau aku tahu ini semua juga atas permintaan Abah sendiri.
" Iya sebentar lagi Nak." Elaknya.
Tak lama pemuda yang menjadi supir Cak Arga itu masuk ke dalam rumah setelah tadi sempat keluar entah kemana. Dan aku menyuruhnya duduk di sampingku yang segera di sanggupinya.
Setelah beberapa saat kemudian Neng Atin dan Nikmah menghampiri kami sembari membawa dua cangkir kopi yang di letakkan di depanku dan di depan pemuda itu." Di minum dulu kopinya baru istirahat." Ujar Neng Atin padanya, pemuda itu mengangguk serya mengucapkan terima kasih.
" Ayo Aziz bantu ke kamar Bah, ini sudah malam." Ajakku, akhirnya Abah pun menuruti permintaanku.
Setelah mengantar Abah di kamar tengah yang dekat dengan ruang makan, aku kembali duduk di karpet bersama pemuda itu." Usia kamu berapa?" Tanyaku seraya menyesap kopi sedikit demi sedikit yang masih mengepul asapnya.
" Dua puluh tahun Gus." Jawabnya setelah selesai menyesap kopi, ternyata masih muda seumuran dengan Mus putriku.
Kami pun mengobrol sedikit dan tak lama aku menyuruhnya istirahat di kamar depan, tepatnya di kamar tamu.
Karena malam semakin larut aku berniat untuk segera pulang, mungkin semuanya juga sudah beristirahat di kamar masing-masing. Neng Atin pasti tidur bersama Nikmah malam ini.
Aku sebenarnya sedikit heran melihat kebersamaan mereka lagi, sebab yang kulihat terakhir kali, Neng Atin sangat kesal terhadap Nikmah, tapi entahlah. Namun aku juga bersyukur mereka sudah tidak bertengkar lagi, bukankah itu lebih baik.
Saat baru beranjak bangun, entah mengapa aku merasakan kepalaku sangat sakit, aku berjalan gontai sembari memegangi kepalaku.
" Kamu kenapa??"
Aku mendengar seperti ada orang yang memanggilku, namun aku tidak tahu siapa itu, sebab kepalaku semakin terasa sakit..
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.