Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 45 - Ulah Meyta 2


Begitu mendapatkan pesan dari Meyta, Anna yang baru saja tiba di posyandu, berbalik arah dan kembali ke kediaman Meyta. Wanita itu berencana mengambil buku kesehatan Arkana dan kembali secepatnya ke posyandu.


Namun, saat dirinya tiba di kediaman Meyta, samar-samar Anna mendengar suara yang tak asing. Anna meneruskan langkahnya dengan perlahan menuju ruang keluarga yang tepat berada di depan kamar Meyta.


Tubuh wanita itu seketika membeku. Pemandangan yang kini dia saksikan membuat kaki Anna tak kuat melangkah.


Walau Meyta kini sudah menjadi istri sah sang suami, tapi melihat pria itu bergumul dengan wanita lain, membuat hatinya sangat sakit. Tubuh Anna gemetar. Wanita itu bahkan menopang tubuhnya pada sofa yang terdapat di sana.


Meyta yang mengetahui kehadiran Anna, seketika tersenyum tipis. Walau kakinya terasa nyeri, Meyta mengabaikannya. Wanita itu bahkan sengaja memancing Wirra agar lebih bergairah.


Meyta menekuk kakinya yang sakit dan menaikkannya ke pundak Wirra, hingga pria itu bisa menghujamnya lebih dalam. Meyta pun sengaja mengerang dengan lebih kencang hingga membuat Wirra tambah bersemangat.


Meyta yang yang terus mengerang hebat sembari meliuk-liukkan tubuhnya, serta wanita itu tak mengeluhkan jika kakinya sakit, membuat Wirra tak segan-segan untuk menghujam Meyta dengan brutal.


Wirra bahkan masih terus berada di atas tubuh Meyta, walau dirinya sudah menyemburkan banyak ****** ***** ke dalam tubuh wanita itu.


Tanpa terasa air mata Anna menetes. Dengan membawa buku kesehatan milik Arkana, Anna secepatnya beranjak dari sana.


Dia tau jika dirinya tak berhak marah karena Meyta juga istri Wirra. Wanita itu hanya bisa memendam kembali rasa sakit hatinya. Anna berlari keluar dari rumah itu. Dia ingin secepatnya tiba di posyandu dan mendekap Arkana agar rasa sakit hatinya berkurang.


Namun, saat di tengah perjalanan, Anna bertemu dengan Arkana dan neneknya.


“Maaf ya Bu. Anna terlalu lama ya, sampai ibu harus menyusul. Ini buku kesehatan Arka sudah Anna bawa. Ayo kita kembali ke posyandu.”


“Tidak An. Tidak perlu kembali ke sana. Kata kader posyandu, yang diberikan vitamin A mulai usia 6 bulan. Arka kan baru 4 bulan.”


Anna tertegun. Apakah Meyta sengaja membohongi dirinya agar wanita itu bisa bermesraan dengan Wirra?


Namun, dengan cepat Anna menepis pikiran negatif itu. Tak mungkin Meyta melakukan itu. Setiap malam mereka tidur bersama, Meyta tak perlu berbohong untuk bisa menikmati waktunya bersama Wirra.


Wirra hendak berangkat kerja saat Anna tiba kembali di sana. Wirra bingung saat melihat wajah Anna yang muram. “Kamu kenapa?” tanya Wirra.


Anna menggelengkan kepalanya, “tidak apa-apa, Mas. Hanya kepanasan saja.”


“Pantas saja wajah kamu merah. Aku pergi kerja, ya,” pamit Wirra. Pria itu bahkan hendak mengecup dahi Anna, namun wanita itu mengelak dan langsung berjalan menjauhi Wirra.


Wirra menatap punggung sang istri dengan penuh kebingungan. Tak pernah Anna bersikap seperti itu padanya.


“Ada kejadian apa di posyandu tadi?” gumam Wirra. Sang mertua yang mendengar itu langsung menjawab, “posyandunya tidak jadi. Usia Arka belum cukup untuk pemberian vitamin A.”


Wirra hanya mengangguk-angguk kepalanya. Mungkinkah istrinya itu merasa kecewa hal itu? Anna memang sudah sangat bersemangat sejak tadi malam karena akan menemani Arkana ke posyandu.


Wirra mengangkat kedua pundaknya dan gegas pergi bekerja.


Sementara itu, saat tau Anna sudah kembali, langsung meminta wanita itu membawa Arkana ke dalam kamar.


“Mau mengambil buku kesehatan ya, An?”


Meyta sengaja berpura-pura menanyakannya karena dia tak ingin Anna tau rencana jahatnya.


Anna menggelengkan kepalanya sembari memperhatikan ranjang Meyta yang masih berantakan. Meyta sengaja tak meminta Wirra merapikannya. Dengan alasan jika dirinya bisa merapikan ranjang seorang diri, Wirra yang sudah sangat terlambat pergi ke kantor, menuruti ucapan Meyta begitu saja.


“Itu ... Usia Arka belum cukup. Pemberian vitamin A untuk bayi usia 6 bulan ke atas,” ucap Anna sembari meletakkan Arkana ke dalam box bayi.


Meyta berpura-pura mengangguk mendengar penjelasan Anna. Meyta bersorak riang dalam hatinya. Rencana pertamanya berjalan lancar. Meyta pun kembali menjalankan rencana keduanya.


“An, apa aku bisa minta tolong lagi?”


“Tentu saja,” jawab Anna.


“Kamu bisa membantu aku membereskan ranjang? Tadi Wirra mau melakukannya tapi sudah terlambat pergi bekerja.”


Dengan tersenyum tipis, Anna mengangguk. Wanita itu mulai merapikan sprei yang sangat berantakan itu. Wajah Anna yang sedari tadi masih tersenyum, kini mendadak menjadi datar saat melihat bagian sprei yang basah.


Adegan yang tadi dilihatnya pun kembali terngiang. Bagian ranjang yang tengah dia rapikan itu, merupakan tempat di mana Wirra menerjang Meyta, tadi.


...Ini pasti milik Mas Wirra....


Rasa sakit kembali menyeruak di dadanya. Tak mau rasa sakit itu semakin bertambah, Anna merapikan ranjang itu dengan cepat. Wanita itu ingin segera berlalu dari sana.


Meyta begitu sumringah saat melihat Anna tertunduk lesu. Saat Anna hampir selesai, dengan bantuan tongkatnya, Meyta menghampiri Anna dan mengucapkan terima kasih.


Namun, saat Anna hendak beranjak dari sana, Meyta memekik.


“Aww!” pekiknya.


“Kenapa Mey?!” tanya Anna panik. Padahal Anna hampir mencapai pintu kamar, tapi wanita itu gegas berbalik arah dan menghampiri Meyta yang seolah tengah merasakan sakit.


Anna pikir, kaki Meyta pasti merasa sakit karena adegan panas itu bersama Wirra. Anna sempat merasa panik. Namun, kepanikan wanita itu mendadak berubah menjadi sakit hati saat melihat telapak tangan Meyta menyentuh daerah pribadinya.


“Kamu ... tidak apa-apa kan?” lirih Anna.


Meyta menampakkan senyum malu-malu. Sembari tersipu-sipu Meyta pun menjawab pertanyaan Anna, “tidak apa-apa kok, An. Hanya ini ku saja yang nyeri,” ucapnya seraya menunjukkan daerah sensitifnya.


Anna hanya mengangguk kecil.


“Wirra itu memang brutal. Padahal tadi dia sudah berpakaian rapi, tapi melihat di rumah tak ada siapapun, aku langsung di gendong ke kamar,” ucap Meyta sembari tertawa kecil.


Anna tertunduk lesu. Meyta pun meliriknya sembari tertawa riang dalam hati.


“Terima kasih bantuannya ya, An. Aku beruntung sekali karena ada kamu di sini. Bagaimana kalau kamu memperpanjang jadwal menginap mu hingga satu bulan.”


Anna tertegun mendengar ucapan Meyta. Bagaimana mungkin dia akan menginap selama satu bulan di sana? Andai dia tak melihat pergumulan antara Meyta dan Wirra, tentu dia akan sangat senang menginap di sana. Namun, setelah adegan yang disaksikannya tadi, Anna tak mau menginap lebih lama di rumah itu. Dirinya pasti tak akan sanggup mendengar suara mengerang Meyta dan Wirra selama satu bulan.


“Kalau satu bulan sepertinya tidak bisa, Mey.”


Meyta berpura-pura memasang wajah sedih dan kecewa.


Namun, tampaknya Meyta harus benar-benar merasa sedih, karena setelah pergumulannya dengan Wirra, kaki wanita itu menjadi semakin sakit dari hari ke hari. Bahkan paha wanita itu membengkak.


Kadar gula yang semakin tinggi, membuat luka di kaki Meyta tak mengering. Dokter pun menyarankan untuk dilakukan amputasi terhadap kaki wanita itu.