
Meyta masih terus mengamuk selama perjalanan. Bahkan hingga tiba di rumah sakit. Seorang dokter bahkan harus memberikan suntikan obat penenang agar wanita itu tertidur.
Sementara itu, Mutiara hanya bisa menangis dalam dekapan Anna saat melihat sang ibu.
“Kasihan mama, Bu. Kasihan mama.”
Kata-kata itu terus terucap dari bibir Mutiara. Tak pernah dia bayangkan jika ibu kandungnya yang begitu tegar, berakhir di rumah sakit jiwa.
Sejak saat itu, Meyta resmi menjadi pasien di salah satu rumah sakit jiwa di Ibukota. Wirra pun memastikan istrinya itu mendapatkan perawatan terbaik.
Dan sejak saat itu juga, Arkana ikut tinggal bersama Anna dan Wirra. Sementara Mutiara dan neneknya memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka.
Namun, Mutiara yang selalu dibully karena sang ibu yang mengalami gangguan keji, membuat Wirra memutuskan untuk membawa Mutiara pindah dari sekolah itu.
Wirra pun memasukkan Mutiara ke sekolah yang tak jauh dari kediamannya bersama Anna. Pria itu akan terus melindungi Mutiara. Gadis yang beranjak remaja itu, akan menjadi anaknya selamanya.
Mutiara yang ikut pindah bersama Wirra, membuat neneknya, mau tak mau ikut pindah ke sana.
“Tuhan memang maha adil. Dulu dia merebut suami kamu, An. Dia bahkan membuat kamu sangat tersiksa. Coba lihat kondisi pecahan kaca itu, sekarang. Kamu bahkan berhasil membuat kedua anaknya, bahkan ibu kandung pecahan kaca itu, menyayangi kamu dan meninggalkan dia di rumah sakit jiwa! Hahaha...!”
Yulia tertawa terbahak-bahak. Namun, Anna menggelengkan kepalanya menatap sang mertua yang terus terbahak-bahak saat Wirra dan seorang pria lainnya membawa barang-barang milik Mutiara dan neneknya.
“Jangan seperti itu, Bu. Bagaimana kalau Rara dan neneknya mendengar. Walau bagaimanapun, kesalahan yang Meyta buat tidak ada hubungannya dengan Rara dan neneknya,” ujar Anna.
Yulia seketika menutup mulutnya. Walau wanita lanjut usia itu masih berusaha menahan tawanya.
“Anna sangat menyayangi Rara dan Arka, Bu. Anna begitu senang karena mereka akan tinggal bersama Anna. Karena mereka, Anna merasa jadi wanita yang sempurna. Andai mereka selamanya bisa tinggal dengan Anna. Anna pasti akan sangat bahagia.”
Yulia menatap menantunya dengan lembut. Wanita lanjut usia itu merasa terluka sekaligus bahagia mendengar ucapan sang menantu. Dia terluka karena Anna tak bisa memiliki seorang anak kandung, tapi juga merasa bahagia karena kini menantunya itu bisa menjadi seorang ibu.
“Kalau begitu, kamu berdoa saja agar Meyta menjadi gila selamanya,” bisik Yulia.
Wanita lanjut usia itu kembali terkekeh saat melihat sang menantu terkejut dengan ucapannya.
Walau bukan Tuhan, tapi Yulia ingin mengabulkan permohonan sang menantu kesayangan.
Tanpa sepengetahuan Wirra dan Anna, Yulia datang menjenguk Meyta. Wanita lanjut usia itu menghampiri Meyta dan menunjukkan keharmonisan dan kebahagiaan kedua anaknya bersama Wirra dan Anna.
“Kamu lihat, mereka semua begitu bahagia. Arka juga tumbuh menjadi bayi yang cerdas. Itu semua berkat Anna mengurusnya dengan baik. Jadi, kalau bisa, kamu tinggal di sini saja selamanya. Jangan ganggu kebahagiaan anak-anak dan cucu-cucuku. Karena mereka lebih membutuhkan istri dan ibu yang lembut seperti Anna. Bukan istri dan ibu yang sakit jiwa seperti kamu.”
Tak hanya sekali itu saja Yulia mendatangi Meyta. Beberapa kali wanita lanjut usia itu menghampiri Meyta dan mengingatkan agar menantunya itu tak mengganggu kebahagiaan Wirra dan Anna.
Meyta hanya memandang Yulia dengan wajah datar setiap kali mertuanya itu datang mengunjungi dirinya.
Namun, saat Wirra dan anak-anaknya datang berkunjung, Meyta pun melihat kebenaran dari ucapan sang mertua.
Kedua anaknya, bahkan ibu kandungnya terlihat begitu bahagia.
“Mey ... Coba lihat, Arka sudah bisa berjalan,” ujar Wirra.
Pria itu pun mencoba membuat Arkana berjalan dan menghampiri Meyta. Namun, kaki mungil itu malah berbalik arah dan menghampiri Anna.
Hati Meyta begitu sakit melihatnya. Anak yang dia kandung selama sembilan bulan, lebih memilih bersama wanita yang sangat dia benci.
Namun, saat tatapan penuh kebencian dia alamatkan pada Anna, madunya itu malah membawa Arkana kepadanya.
“Arka, ini mama. Mama yang mengandung Arka, mama yang menyusui Arka. Sebentar lagi, mama akan sembuh dan kembali berkumpul bersama Arka dan Mba Rara,” ucap Anna lantang.
Meyta menangis saat Arkana mendekapnya. Tak lama, Mutiara ikut memeluknya erat.
Meyta membalas pelukan kedua anaknya. Dia begitu merindukan anak-anaknya walau mereka.selali datang berkunjung setiap akhir pekan.
Namun, tiba-tiba Meyta teringat akan ucapan sang mertua.
Mereka lebih bahagia bersama Anna. Jadi, jangan rusak kebahagiaan anak-anak itu karena keserakahan kamu.
Tiba-tiba, Meyta melepaskan Arkana dan Mutiara dari dekapannya. Wanita itu bahkan mendorong Arkana. Untung Mutiara segera menangkapnya.
Meyta kembali mengamuk. Arkana dan Mutiara kembali menangis ketakutan.
Meyta sudah memutuskan. Dia tidak akan merusak kebahagiaan anak-anaknya. Kondisi mentalnya tidak stabil. Walau dia bisa sembuh, tapi tak ada yang bisa menjamin kalau kejiwaannya kembali terguncang. Dia takut kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali. Dia tak mau kembali mencekik putri kesayangannya.
Dan sejak saat itu, setiap keluarganya datang berkunjung, Meyta selalu berteriak histeris. Wanita itu bahkan mengamuk dan melemparkan seluruh barang yang ada di dekatnya.
Dan sejak saat itu juga, Mutiara memutuskan untuk merubah cita-citanya. Gadis kecil itu belajar dengan sungguh-sungguh hingga berhasil mendapatkan beasiswa di universitas terkemuka di Indonesia untuk jurusan kedokteran. Mutiara bahkan mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk mengambil spesialisasi kejiwaan.
...----------------...
Dan belasan tahun kemudian, Mutiara pun mengetahui kenapa sang ibunda tak kunjung keluar dari rumah sakit jiwa.
“Mama tidak bisa membohongi Rara, sekarang. Rara lulus sebagai dokter spesialis kejiwaan terbaik di Australia.”
Meyta dengan rambutnya yang sudah memutih, menatap sendu pada sang buah hati.
“Selama ini kamu kuliah di luar negeri?”
Mutiara menganggukkan kepalanya. Meyta pun tersenyum. Air mata Mutiara mengalir deras. Sudah lama sekali dia tak melihat senyum di wajah sang ibunda. Belasan tahun dia hanya melihat ekspresi datar di wajah sang ibunda. Begitu melihat Meyta tersenyum, Mutiara langsung masuk dalam dekapan hangat wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.
“Rara rindu senyum Mama. Mama ikut pulang dengan Rara, ya,” lirihnya.
Meyta melepaskan dekapan sang anak dan menggelengkan kepalanya.
“Kamu bisa jadi dokter yang hebat, bisa kuliah di luar negeri, itu semua berkat mama yang memutuskan untuk tinggal di sini. Mama tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan kamu dan Arka.”
“Justru Rara tidak pernah merasa bahagia karena mama belum keluar dari rumah sakit ini. Rara sudah katakan kepada dokter Rhida. Rara akan membawa mama pulang hari ini.”
Meyta kembali menolak keinginan sang buah hati.
“Ma ... Rara bertugas di Kalimantan. Kita berdua akan tinggal di sana. Mama tidak perlu bertemu papa dan Bu Anna, kalau memang mama tidak mau.”
Namun, Mutiara terpaksa melanggar janjinya. Gadis itu membawa sang ibunda untuk bertemu Wirra, Anna dan Arkana terlebih dahulu, sebelum dirinya membawa Meyta ke Kalimantan.
“Kenapa kamu tega membohongi kami, Mey? Anak-anak itu butuh kamu,” lirih Wirra seraya menggenggam jemari Meyta.
“Aku hanya tidak mau merusak kebahagiaan kalian. Dan nyatanya, kalian semua bahagia karena tidak ada aku, kan?”
Wirra menghela napas panjang. Tak bisa dia pungkiri. Dirinya memang lebih bahagia karena Meyta tak lagi mengganggu aktivitasnya bersama Anna. Tapi, dia juga merindukan kebersamaannya dengan Meyta.
“Terima kasih karena kamu sudah mengurusi anak-anak dengan baik, Wir. Kamu ayah yang hebat.”
“Ya ... Mungkin aku memang ayah yang hebat. Tapi, aku gagal sebagai seorang suami. Aku tak mampu membuat kamu dan Anna bahagia.”
Meyta menggelengkan kepalanya, wanita itu seketika memeluk Wirra dengan erat. “Kamu suami yang baik, Wir. Tapi, baik untuk Anna. Maka dari itu, segera urus perceraian kita, agar kamu bisa hidup bahagia hanya dengan Anna.”
Wirra tertegun. Haruskah dia menceraikan Meyta?
Dan setelah satu tahun kepergian Mutiara dan Meyta ke Kalimantan, Meyta dan Mutiara kembali ke Ibukota.