Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tibalah Waktunya..


Author_PoV


*


Di rumah sakit tempat dimana Umma Salima dirawat. Arga baru saja akan kembali ke dalam ruang perawatan Ummanya dengan sebelah tangannya menggenggam gelas plastik berisi teh hangat yang ia beli tadi di kantin RS.


Namun saat sudah dekat dengan ruangan sang Ibu, dari belakang terdengar suara langkah beberapa orang yang sedang berjalan tergesa-gesa, membuat Arga pun menoleh kebelakang menatapnya dengan bingung.


" Apa yang terjadi?" Gumamnya pada dirinya sendiri. Orang-orang itu ternyata adalah Dokter dan dua suster yang mungkin akan memeriksa pasien yang tengah dalam keadaan ganting. Tanpa menaruh curiga apapaun, Arga melanjutkan langkahnya kembali sudah sangat dekat dengan pintu, namun langkahnya di hentikan oleh seseorang, membuatnya mau tidak mau menoleh ke samping.


" Maaf, Permisi Pak. Mohon tunggu di luar saja sebentar, Dokter akan melakukan memerikasa kepada pasien, mohon kerja samanya." Pinta suster yang tadi berlari di belakangnya. Walau perasaannya tengah gelisah ia hanya bisa mengangguk ragu, sebab langkahnya sudah di dahului oleh sang Dokter tadi.


" Apa Ibu saya sudah sadar Sust?" Tanyanya sedikit lega, mengira Ummanya sudah sadar.


" Dokter sedang memeriksanya ya Pak, mohon doanya saja." Suster itu langsung masuk je dalam ruangan menyusul Dokter dan rekannya.


Akhirnya Arga pun menunggu di depan ruangan duduk di bangku tunggu ini sudah beberapa menit berlalu. Entah mengapa semakin kesini perasaannya tidak karuan. Walau ia tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Ummanya, ia terus berpikir positif. Sebab tadi saat meninggalkan sang Ibu, Ibunya masih tampak terlelap, dan juga baik-baik saja.


" Semoga Tidak terjadi apa-apa dengan Umma." Lirihnya yang terus berdoa'a untuk kesembuhan sang Ibu.


Arga terus menatap ke sekitarnya, pagi ini begitu ramai oleh pasien-pasien yang ingin berjalan-jalan keluar ruangan hanya sekedar untuk mencari angin segar. Ada banyak yang manaiki kursi roda, namun tak sedikit juga ada beberapa pasien yang sudah bisa berjalan sendiri sembari mendorong besi tinggi beroda untuk tempat kantong infus mereka.


Sungguh ternyata banyak sekali orang yang sedang mendapatkan kasih sayang dari Allah..melalui penyakit yang mereka derita, semoga segera di ampuni dosa-dosanya, Aamiin..


" Permisi! Dengan Bapak Argatsani?" Seru Dokter yang tadi memeriksa Ummanya, sepertinya baru saja keluar dari ruang perawatan sang Umma, membuat Arga langsung tersadar dari acara lamunannya dan segera berdiri.


" Ya Dok, bagaimana keadaan Ibu saya?" Tanyanya begitu antusias. Tak sabar untuk mendengar kabar baik tentang Ibunya, wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


" Maaf, kami sudah melakukan banyak hal semaksimal mungkin, namun apa hendak di kata Allah lebih sayang pada Ibu Beliau. Dan dengan berat hati saya harus mengumumkan hal buruk ini. Bahwasanya Pasien tidak bisa tertolong lagi, tadi sempat mengalami kejang-kejang hingga menghembuskan napas terakhirnya, jadi suara dari monitorlah yang membuat kami panik dan berlari kemari tadi. Semoga anda beserta seluruh keluarga di beri ketabahan dan keikhlasan." Jelas Sang Dokter panjang lebar pada Arga.


" Innalillahi Wainnailaihi Roji'un." Arga mendadak terhuyung ke belakang sedikit namun masih bisa menjaga keseimbangannya sehingga tidak sampai jatuh. Seakan dunianya runtuh seketika, ini seperti sebuah mimpi yang nyata, wanita pertama yang sangat ia cintai pergi untuk selama-lamanya. Ya bukankah di dunia ini setiap ada kelahiran juga pasti ada kematian.


Belum sempat Arga menjawab pernyataan dari Dokter, seseorang sudah lebih dulu bertanya, dan suaranya sangat tidak asing bagi Arga. Keduanya pun menoleh kebelakang, berdirilah pria paruh baya dengan tubuh yang masih kekar, walau usianya sudah tidak muda lagi.


" Apa yang terjadi? Apa maksud dari ucapan Dokter?" Suara berat dan serak mengintripsi keduanya. Di belakang sana ada Abah dan Neng Atinnya yang sedang berdiri menatap kearahnya juga sang Dokter.


" Arga, cepat jelaskan! Jangan berbelit-belit!!" Bentak Atin yang memang mempunyai watak yag keras. Tak sabar mendengar jawaban dari Adiknya. Atin langsung menerobos masuk ke dalam ruangan dimana ia yakini Ummanya ada di dalam sana.


" Dokter jelaskan pada saya semuanya, jangan ada yang di tutupi!" Mendengar perkataan Abahnya yang sangat tegas dan serius, membuat Arga semakin tidak enak hati, terlebih ia sendiri masih berusaha mengkondisikan dirinya yang sebenarnya sangat shock mendengar penjelasan dari sang Dokter.


Ostman sendiri sebenarnya baru saja datang, dan sekilas tidak sengaja mendengar penjelasan dari sang Dokter kepada putranya, agar seluruh keluarganya tabah dan ikhlas, namun ia masih berpikir positif, menduga jika pendengarannya kali ini salah, dan semoga semua baik-baik saja perihal kesehatan istrinya, ia yakin istrinya adalah wanita yang kuat, pasti bisa melewati cobaan ini. Mendengar kabar sang istri jauh di kamar mandi dan tak sadarkan diri saja sudah membuat separuh jiwanya mati rasa, apalagi mendengar kabar yang lebih buruk dari itu?!


Sang Dokter pun melirik Arga dengan tatapan bingung seolah meminta persetujuan, namun Arga yang masih di liputi rasa shock juga bingung hanya diam saja. Dokter pun takut salah bicara nantinya dan bisa membuat seseorang yang tidak siap mendengarnya terjadi apa-apa. Sebenarnya ia merasa tidak berhak kembali menjelaskan pada seseorang yang ada di hadapannya yang ia yakini adalah suami dan putri dari mendiang almarhumah yang masih ada di dalam ruangan, tapi ini harus di lakukan tidak bisa menunda lagi, namun saat mulutnya terbuka siap untuk menjelaskan, pria yang ia ajak bicara tadi sudah lebih dulu menjawabnya, dia pun mengurungkan niatnya dan terdiam mendengarkan saja.


" Arga mohon Abah dan Neng tabah setelah mendengar kenyataan ini. Umma—Umma sudah di panggil oleh sang Khaliq." Akhirnya Arga pun menjawab pertanyaan dari Abahnya.


Lalu Dokter pun ikut menjelaskan kembali secara rinci, lalu setelahnya ia pun pamit pergi dari hadapan keluarga pasien. Tak lama keduanya pun masuk menyusul Atin yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.


Atin yang tadi baru saja masuk ke dalam seketika tubuhnya meluruh ke lantai, pikirannya kosong menatap tubuh sang Umma sudah terbujur kaku, alat-alat RS sudah terlelas semua dari tubuhnya. Tatapannya nanar juga sayu, hingga senyumnya yang tadi pagi menghias di wajahnya langsung lenyap seketika terbawa angin yang baru saja melewatinya. Hati siapa yang tidak sakit mendengar Ibu yang melahirkannya telah tiada.


Atin sadar selama ini dirinya banyak membuat Ummanya menderita, wataknya yang keras dan juga pembangkang adalah keturunan dari Almarhum Ayahnya, walau kendati demikian ia masih mempunyai sisi baiknya juga, ia sebenarnya amatlah menjadi anak yang penurut jika itu adalah permintaan dari Ummanya, hanya satu yang belum ia turuti dari permintaan Ummanya, yaitu menikah. Ya ia sadar betul belum bisa membahagiakan Ummanya hingga sampai di usianya yang sudah sangat matang sekarang ini, membuat Atin kini sedikit menyesal. Namun bukan karena tidak kunjung menikah melainkan belum menjadi anak yang sholehah bagi Ummanya.


Terlepas dari itu semua memang ada sesuatu yang membuat Atin tidak ingin terbelenggu dalam ikatan yang namanya pernikahan. Dan tidak satu pun orang yang bisa menggoyahkan ketetapannya untuk selamanya, termasuk seluruh anggota keluargamu sendiri.


" Innalillahi Wainnailaihi Roji'un.. Umma adalah orang baik, maka Allah akan menempatkan Umma di tempat yang terbaik pula. Semoga khusnul Khotimah Umma.." Lirihnya menahan isak tangis bahkan air mata yang ia tahan mati-matian. Walau menangis kejang-kejang pun tidak akan membuat Ummanya kembali hidup, memang jika sudah waktunya tiba, maka tidak ada seorang pun yang mampu menghalanginya, termasuk malaikat yang menyabutnya sekalipun.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.