Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Situasi Gawat!


Anniyah_PoV


*


" Gara-gara kamu sih bicara nggak di filter dulu, untung saja Ibu langsung percaya kalau nggak, bisa sampai besok membicarakan masalah ini." Tegurku pada Adikku, saat ini kami berdua sedang berada di kamarku bersiap untuk istirahat.


" Ya maaf Mbak. Namanya juga lupa terus keceplosan deh. Yang penting sekarang 'kan Ibu sudah tidak bertanya lagi, udahlah ya." Sesalnya sembari menyengir kuda seolah tidak mempunyai salah, memang dasar.


Tapi memang semuanya jufa tahu jika Ibu sedang marah atau kesal, pasti setiap masalah itu akan berbuntut panjang ceritanya. Maka dari itu, jangan sampai Ibu tahu masalah ini. Dan pada akhirnya aku pun menjelaskan yang sebenarnya kepada beliau jika memang Bang Aziz tidak bisa pulang di karenakan putranya yang kecil sedang sakit hingga sampai di rawat di rumah sakit, barulah Ibu paham dan mengerti.


" Ya sudah tidurlah. Itu Erika juga sudah tidur lho." Tunjukku pada bayi gembul yang sudah tidak menghisap bentuk mungil milik Bundanya yang menjadi salah satu sumber asupan makanannya, selain makanan.


" Eh, dia sudah tidur ternyata, tumben cepat?" Gumamnya terkekeh geli seraya melihat putrinya yang terlelap.


" Mungkin dia kecapekan, main terus sama Kakaknya ini, lihat bocilku juga sudah hampir terlelap." Sahutku yang juga melihat Zaheera yang terlihat begitu lucu.


Bagaimana tidak lucu saat melihat bibir mungilnya mulai terlepas menyusu tapi dengan cepat pula meraihnya kembali untuk meneruskan rasa nikmatnya itu. Dan itu terjadi berulang-ulang hingga membuatku terkekeh geli melihat tingkahnya itu.


" Duh, gemes sekali sih Dek kamu ini." Ujarku seraya memberikan kecupan di puncak kepalanya itu.


" Emang asi Mbak masih keluar ya?"


" Sepertinya sih masih ya. Tapi nggak banyak mungkin pangaruh hamil juga. Saat hamil dia justru Zia baru usia satu tahun lebih An." Jawabku seraya mengusap perut buncitku.


Sudah semingguan ini Zia di ajak tidur sama Ibu di kamarnya untuk teman tidur, sebab kata Ibu Bapak sering tidur malam-malam karena bermain kartu remi di teras depan rumah bersama para teman-teman sebaya Bapak.


Selain cucu pertama di keluarga ini, Zia memang kesayangan Ibu dan Bapak. Ya walau Bapak sedikit lebih condong ke Nino putra Mas Anton sebab cucu pertama laki-laki di keluarga ini.


Maka dari itu tak jarang aku dan Anna tidur sekamar, kadang di kamarnya atau bergantian pindah di kamarku. Dan sebelum tidur pasti kami bertukar cerita-cerita lucu, cerita rumah tangga atau bernostalgia menceritakan tentang masa kecil kami dulu.


Namun malam ini kulihat Anna sibuk dengan ponselnya, sepertinya dia sedang bertukar pesan dengan temannya yang akan ikut bekerja dengannya itu, aku pun tidak ingin menganggunya dan lebih memilih meraih ponselku sendiri ingin mengecek apakah ada pesan balasan dari Bang Aziz atau tidak.


Sudah sedari sore tadi aku mengiriminya pesan namun tidak juga di balas olehnya, sudah aku coba untuk menghubungi juga, namun ternyata nomornya tidak aktif. Entah apa yang terjadi di kota sana, semoga suamiku baik-baik saja dan selalu dalam di lindunganNya, Aamiin..


Setelah aku cek, ternyata pesanku belum di baca olehnya. Nomornya juga masih belum akrif, sebenarnya dimana dia? Apa sudah kembali bekerja ke luar kota, atau bagaimana. Tidak di pungkiri aku sangat kepikiran dan juga gelisah memikirkan bagaimana keadaan suamiku sekarang, tidak biasanya nomornya tidak bisa di hubungi seperti ini.


" Mbak nunggu telepon dari Bang Aziz ya? Sudah ada kabar belum darinya? Atau ada kabar buruk yang terjadi disana?!" Tanya Anna yang terlihat penasaran.


" Belum An, Mbak juga nggak tahu kenapa nomornya tidak bisa di hubungi. Mudah-mudahan dia baik-baik saja, dan juga tidak ada hal buruk yang menimpa keluarganya disana." Ujarku dengan penuh harap.


" Aamiin Mbak. Berpikir positif saja, semoga besok sudah ada kabar baik dari suami Mbak. Ya sudah sebaiknya kita istirahat saja yuk Mbak, sudah malam banget lho ini." Ajaknya, dan memang benar sekarang sudah pukul sepuluh lebih, akhirnya aku pun mengangguk dan mencoba untuk memejamkan mata


*


Pagi hari aku tengah menyapu halaman depan rumah seorang diri, bersamaan dengan Ibu yang baru saja keluar dari dalam rumah dan akan berangkat bekerja di pabrik. Hari memang masih sedikit gelap di luar, namun jam seginilah para biruh pabrik mulai berangkat bekerja, sebab harus melalui absen lebih dulu sebelum memulai pekerjaan tersebut.


" Ibu berangkat dulu ya, itu Zia masih tidur di kamar Ibu. Dan tadi Ibu juga sempatkan buatkan emput untuknya yang Ibu simpan di lemari makanan, nanti kasih ke dia." Seru Ibu seraya melangkah pergi bersama Ibu-Ibu yang lain yang juga baru berangkat lewat depan rumah kami.


Ibu selalu saja menyempatkan diri untuk membuatkan emput buat Zia, padahal di pagi hari beliau sengat sibuk karena harus memasak dan menyiapkan bekal makanan untuk di bawanya bekerja, aku hanya membantunya saja. Beda lagi kalau ada suamiku. pasti aku sudah memasak sendiri untuk kami.


Emput itu kalau di kampungku adalah makanan yang terbuat dari biji jagung yang di sangrai lebih dulu lalu kemudian di tumbuk halus dan di tambah gula dan garam sedikit agar ada rasa manis dan juga gurih. Dan Zia sangat menyukai makanan itu sejak kami pindah dan tinggal kembali ke rumah Ibu.


Sepeninggalan Ibu aku lanjut bersih-bersih dan setelah selesai aku bersiap akan berjalan ke samping rumah untuk membuang sampah yang berupa daun-daun kering dan memasukkannya ke dalam lubang tanah di belakang rumah.


Belum juga sampai di samping rumah, terdengar bunyi motor yang berderu memasuki halaman rumah. Dan sepertinya aku mengenali suara motor tersebut yang tidak lain adalah suara motor milik suamiku.


Dan benar saja, tak lama motor pun berhenti bersamaan dengan ucapan salam darinya. " Assalamualaikum bidadarinya Abi.." Serunya seraya berjalan menghampirku dan tanpa aba-aba suamiku justru langsung memeluk tubuhku dengan erat.


" Waalaikumsalam. Ya Allah Bi tangaku kotor lho, terus juga jangan kuat-kuat meluknya aku tidak bisa bernapas ini lho." Keluhku protes, dan tak lama ia pun mengendurkan pelukannya.


Aku juga langsung menyalaminya dan ia balas mengecup keningku sedikit lebih lama seperti biasa yang sering ia lakukan saat akan berangkat bekerja serta pulangnya selalu melakukan hal seperti ini padaku, itulah yang membuat cinta kami semakin tumbuh subur dan mewangi. Aih, sudah seperti lirik lagu saja.


" Ah, maaf sayang. Ini karena Abi terlalu rindu jadinya ya..tahu sendirilah. Apalagi sama yang ini, Abi sangat merindukannya." Bisiknya lirih hingga membuatku bergedik.


Sudah hawanya dingin di pagi hari, di tambah mendengar ucapannya yang sedikit vulgar itu, tentu saja membuatku merinding sampai bulu-bulu tubuhku langsung berdiri tegak saking takutnya.


" Isshh Abi! Pulang-pulang kok pikirannya messum gitu sih. Nggak enak tahu kalau sampai kedengeran orang lain." Gerutuku kesal.


" Siapa yang denger, nggak ada orang sayang. Yuk kita lanjutin di kamar saja." Ajaknya seraya menggandeng sebelah tanganku.


" Tunggu dulu aku belum cuci tangan." Aku segera berjalan ke arah kran air untuk membersihkan kedua telapak tangan. Dan setelah itu kami pun berjalan masuk ke dalam rumah menuju ke arah kamar kami.


Namun saat akan membuka gorden pintu kamar, aku baru teringat jika masih ada Anna di dalam kamar kami. Sehingga aku berusaha menahannya agar tidak masuk ke dalam kamar. Namun sayang langkahku kalah cepat dengannya, sehingga ia sudah lebih dulu menariku masuk dan segera menyerangku tanpa babibu.


Astagfirullah.. Ini gawat, ini sangat gawat darurat, Anna bisa melihat kami nantinya..


" Mmmppp.." Aku berusaha mendorongnya agar melepaskanku.


" Mbak!!"


Degh!!..


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.