Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Kejutan Dari Anna.


Anniyah_PoV


*


Tak terasa sudah lima hari aku melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik, wajahnya mirip Bang Aziz, juga sedikit mirip dengan Almarhumah Umma mertua. Jika saja beliau masih hidup pasti akan sangat bahagia, namun Allah berkehendak lain, tepat saat Zia lahir, Neneknya di panggil Yang Maha Kuasa.


Hari ini di rumah tengah rame aada acara syukuran sepasaran untuk Zia, Ibu dan tetangga juga ada temannya datang ikut mambantu memasak. Dan Aku dengar Anna Adikku akan pulang kampung siang ini. Aku sudah sangat tidak sabar bertemu dengan Adikku yang jahil itu.


Sementara semuanya sibuk di belakang, aku hanya bisa duduk di atas dipan depan ruang tamu sambil menjaga Zia, banyak para Ibu-Ibu tetangga yang datang hanya sekedar menjenguk Zia, membawakan beberapa bingkisan sebagai buah tangan, membuatku merasa tidak enak hati saja.


Mereka pun saling berebut ingin menggendong bayi kecilku, namun mendengar suara lantang dari Ibuku, semuanya terdiam dan akhirnya mau bergantian. Walau dengan wajah yang bertekuk begitu, aku hanya bisa geleng-geleng kepala, ya aku bisa memaklumi mereka semua, sebab di gang ini hanya Zia bayi perempuan satu-satunya, sedang para Ibu-Ibu tetangga anak mereka berjenis kelamin laki-laki semua. Ya begitulah jadinya..


Saat menjelang waktu Dhuhur, aku mendengar suara deru motor berhenti di depan rumah, seketika aku menengok ke arah jendela yang terbuka sedikit demi sedikit aku bergeser merapat ke jendela, dan terlihatlah siapa yang datang, seorang wanita berpenampilan kasual memakai celana jins, kaos kebesaran dan menggendong tas ransel di punggungnya. Setelah membayar pada sang supir ia pun berbalik badan, membuatku menjerit tertahan sebab mengenalnya.


" Anna.." Teriakku kencang, sangking kencangnya sampai ada tetangga yang ada di depan rumahnya menatapku bingung. Tak terkecuali di Bapak tukang ojek yang akan mulai melajukan motornya pergi, membuatku meringis menahan malu.


Anna langsung menatapku di sebalik jendela, lalu tersenyum lebar." Mba Anni." Teriaknya yang langsung lari masuk ke dalam rumah dan akan berjalan mendekatiku.


" Stop! Kamu dari luar, pergi ke dapur dulu." Titahku yang langsung di angguki olehnya, walau dengan wajah yang bertekuk.


Tak lama Anna berjalan keluar dan menghampiriku, lalu memelukku erat. " Ya Allah Mbak, Anna kangen benget." Ujarnya, membuatku terharu, lalu pandangannya menatap ke arah Zia, keponakan kecilnya. " Aa,, ini keponakanku? Ih, gemes! Cantik sekali Mbak, sebelas dua belas sama Bang Aziz ya?" Tanyanya padaku, namun tatapannya mengarah pada putriku.


Tuh, banyak sekali yang bilang jika Zia mirip sekali dengan Bang Aziz, " Ya namanya juga Bapaknya An, kalau mirip orang lain, baru tuh aneh dan membingungkan." Celetukku yang membuatku dan Anna tertawa.


" Hallo Zia sayang. Keponakan Tante yang comel, yang cantik, cepat gedhe ya, biar bisa Tante ajak jalan-jalan keliling kota. Nanti ketemu sama Om ganteng—Astaga!" Ujar Anna yang langsung menegang sembari menutup mulutnya. Sepertinya ia baru saja keceplosan bicara. Membuatku ikut penasaran saja.


" Om tampan? Siapa? Si Tommy?" Anna menggeleng dengan cepat." Lalu, kamu sudah punya pacar baru?" Tanyaku lagi yang semakin mencurigainya.


" Hmm, iya." Jawabnya yang langsung mengangguk walau sedikit ragu. " Tapi jangan bilang sama Ibu dan Bapak dulu ya Mbak, soalnya 'kan kami baru saja jadian belum lama ini." Lanjutnya yang sepertinya takut sampai ketahuan kedua orangtua kami, yang itu berarti hubungan mereka belum terlalu serius, aku pun mengangguk mengiyakan walau aku sungguh terkejut secepat itu Anna berpindah ke lain hati. Padahal baru beberapa bulan yang lalu Anna curhat masih berhubungan dengan Tommi?


" Ya tapi ingat, harus hati-hati juga kamu. Jaga diri baik-baik. Jangan sampai mau di rayu-rayu sama pria yang belum sah jadi suamimu." Pintaku dengan serius memperingatkan padanya, jangan sampai ke bawa suasana anak kota, yang pergaulannya sangat bebas di luar sana.


" Iya-iya Mbak. Aku ingat kok. Nggak usah di ingetin terus juga kali." Sungutnya yang tidak suka di ingatkan. Hmm, tuh 'kan! Baru juga di ingetin doang, wajahnya sudah di tekuk gitu.


Aku hanya bisa mendesah panjang." Ya 'kan Mbak nggak ingin kamu kenapa-kenapa Dek. Kasihan Ibu sama Bapak lho, kalau kamu nggak nurut." Ujarku kembali. Terlihat wajahnya yang masih kesal di ingatkan." Oh, iya. Kamu tahu Mas Anton kerja dimana?" Tanyaku yang memgalihkan pembicaraan agar ia kembali ceria.


" Mas Antoni? Dia 'kan ikut kerja temannya di pabrik rotan. Dekatlah dengan kerjaanku. Kostnya juga tidak jauh kok dari kostku. " Balasnya yang mulai kembali ceria tidak seperti tadi saat kami membahas masalah pacarnya.


" Tentu dong, apalagi disana dia sudah punya pacar, cantik. Sholehah lagi. " Sahutnya yang memberitahuku. Aku kembali di buat terkejut, tak menyangka jika Mas Anton pu juga sudah mempunyai pacar, yang sholehah katanya Anna, aku juga ikut senang sih, semoga saja mereka berjodoh, jika sudah saling cocok dan di segerakan menuju ke jenjang yang halal.


" Sungguh? Alhamdulillah, akhirnya Mas ganteng kita sudah ketemu calonnya. Tapi kenapa sampai sekarang Mas Anton belum mempunyai ponsel?" Tanyaku yang sedikit bingung.


Jika sudah bekerja otomatis mempunyai uang yang cukup cuma hanya membeli sebuah ponsel. atau mungkin Mas Antonnya saja yang tidak ingin membeli, toh pacarnya juga ada disana.


" Pacarnya orang mana An?" Tanyaku yang kembali fokus menatapnya yang kini belajar menggendong Zia.


" Dia temanku Mbak dari kota NK. Ya walau umurnya lebih tua-an dia satu tahun dari Mbak, dia lulusan ponpes lho, yang pasti rajin sholat-lah lima waktu, dia juga banyak ngajarin aku ilmu agama. Pokoknya cucok deh sama Mas Anton yang menginginkan wanita sholehah." Sahutnya yang terus memuji pacar Mas Anton kami.


" Alhamdulillah, aku ikut seneng dengernya jika kamu sudah banyak belajar ilmu agama Dek. Biar kita juga semakin dekat pada yang di atas, walau kita tidak pernah mengenyam bangku ponses tapi setidaknya kita terus berusaha belajar terus menerus supaya bisa mendalami ilmu agama, benar 'kan?" Tanyaku meminta pendapatnya.


" Benar banget Mbak. Eh lihat dia senyum Mbak, aahh,, cantik sekali sih kamu sayang. Jadi gemes deh. " Anna mencium gemas pipi gembul Zia.


" Pengen ya? Nikah aja biar punya sendiri? Jangan nunda-nunda, jika sudah yakin segerakan saja. Bicara dari hati ke hati kalian berdua." Sahutku mencoba meyakinkannya agar tidak sampai berbuat yang lebih jauh lagi sebelum hubungannya halal dengan pacarnya itu.


Tak sadar kami terus mengobrol ngalur-ngidul sambil ketawa hingga lupa waktu, hari sudah hampir sore. Anna juga membelikan banyak sekali pakaian untuk Zia—keponakannya. Aku beranjak bangun akan mandi lebih dulu sebelum sore. Lalu gantian Anna aku suruh bersih-bersih juga agar tubuhnya kembali segar, sebab acara syukuran sebentar lagi akan di mulai pukul lima sore.


" Assalamulaikum..." Terdengar suara seseorang dari arah luar teras, siapa ya? Aku yang sedang berganti pakaian di kamar tidak bisa langsung keluar untuk melihat siapa orang yang datang, sehingga aku memilih untuk menyelesaikan urusanku lebih dulu.


" Eh, Bang. Sudah datang?" Terdengar suara Anna dari luar menyapa tamu yang baru datang. Tunggu! Bang? Apa itu Bang Aziz? Suamiku. Alhamdulillah akhirnya datang juga, aku segera cepat keluar kamar begitu selesai.


" Siapa An?" Tanyaku sembari menatap ke arah tamu yang datang.


Degh!..


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.