
Antoni_PoV
*
Hingga siang harinya aku dan Anna di kejutkan oleh kedatangan tamu tak terduga, ya Najwa dan juga Kolil. Aku tak menyangka mereka berdua datang, padahal sebelumnya Najwa sudah kupesan tidak perlu datang dulu, alasannya justru ingin melihat keponakanku serta membawa kado untuk Zia, akhirnya aku pun hanya bisa menerima, bagaimana pun mereka sudah ada disini.
" Sayang, kok nggak bilang dulu mau datang kesini? Katanya kamu lagi ada acara sama keluarga kam" Tanya Anna menatap ke arah Kolil pacarnya.
" Iya, rencana awalnya juga aku akan pergi ke sana. Namun tiba-tiba Ibuku mengatakan jika acaranya batal, entah karena apa. Ya udah aku berdiam diri di rumah, tak lama Nikmah menghubungiku suruh nganterin kesini, kenetulan aku sedang free ya aku ayoin aja, toch memang aku pernah kesini. Kebetulan mobilku juga nganggur nggak jadu di bawa sama Ayahku, langsung dech kami meluncur kesini." Terangnya panjang lebar.
Ku lirik Najwa yang sedang meringis, tanpa bersalah. Aku mendesah pelan, ku ajak mereka mengobrol sebentar. Dari arah depan kulihat Anniyah yang sedang menggendong Zia sambil mengobrol dengan seorang wanita, kami sempat bersitatap namun hanya sebentar, ya aku kenal wanita itu, namanya Kartini, wanita yang dulu pernah naksir sama aku. Namun aku tolak dengan halus, lantaran aku memang belum ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita, tak ku sangka tak lama setelah itu dia menikah dengan seorang pria kota, yang katanya mereka di jodohkan oleh kedua orangtua mereka berdua, syukurlah jadi dia tidak lagi ganggu aku lagi.
Tak lama aku ijin ke samping mau lanjutin motongin daging kambing bersama Bapak dan juga Aziz. Ternyata Najwa dan Kolil mau ikut denganku, akhirnya ku ajaklah mereka berdua ke samping rumah, namun ku suruh duduk agak jauh, sementara Anna membantu di dapur.
Alhamdulillah acara sore ini berjalan dengan lancar, hingga malam harinya Bapak meminta semuanya untuk berkumpul di ruang tamu, tanpa terkecuali. Dan mungkin akan membahas tamuku dan Anna yang tiba-tiba datang ke rumah. Akhirnya aku juga membahas mengenai hubunganku dengan Najwa, akan mengatakan yang sejujurnya pada Bapak dan Ibu bahwa aku akan menikahi Najwa dalam waktu dekat, dan tanpa kuduga, jawaban Bapak sungguh di luar atensiku.
Bapak langsung setuju dengan keputusanku, dan akan mencari hari yang baik untuk datang melamar Najwa. Namun sangat di sayangkan, justru hubungan antara Anna dan Kolil tidak berjlaan lancar. Yang awalnya Bapak melarang, jadi berubah di restui walau aku tahu Bapak mengatakan hal itu dengan terpaksa dengan banyaknya perdebatan di antara Bapak dan Anna.
Sampai Aziz membawa anak istrinya masuk ke dalam kamar, mungkin karena merasa tidak pantas putrinya yang masih kecil harus mendengarkan keributan orang dewasa, aku sadar diri. Namun aku juga jadi kasihan terhadap Anna dan Kolil, bahkan Bapak akan menikahkan Anna langsung akhir minggu depan ini. Ya semoga saja mereka berjodoh, aku hanya bisa mendoakan untuk kebaikan mereka berdua.
Hampir tengah malam, aku dan Kolil akhirnya bisa beristirahat di dipan depan. Tadi Bapak mengajak kami terus mengobrol, memberi banyak nasehat, wejangan yang baik-baik. Bagaimana nanti setelah menikah akan menjadi kepala keluarga. Banyak pertanyaan yang Bapak ajukan kepada Kolil, tentang niatnya yang akan menikah dengan Anna, dan juga tentang keluarga besarnya. Bapak berpesan agar minggu depan mengajak keluarga intinya saja, agar tidak repot, beliau menyadari bahwa rumahnya yang terlalu jauh dari sini.
Setelah di putuskan akhirnya, keesokkan parinya kami berempat kembali ke kota. Minggu depan baru kami semua pulang lagi untuk menghadiri acaranya Anna dan juga Kolil. Ternyata Aziz juga langsung balik ke kota, namun ia lebih memilih naik motor kesayangannya di bandingkan naik mobil bersama kami.
Di tengah perjalanan aku sudah merasa lapar, ternyata Anna sudah menyiapkan bekal makanan untuk kami berempat, memang Adikku yang satu ini yang terbaik. Kami bertiga menikmati sarapan pagi kami di dalam mobil, sedangkan Kolil masih fokus mengemudi. Setelah kenyang aku langsung ketiduran, entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasa ingin buang air kecil, aku juga merasa saat ini mobilnya dalam keadaan berhenti.
Aku mulai mengerjapkan kedua mataku, namun baru sedetik kemudian aku kembali memejam. Bayangkan saja, saat rasa kantuk belum juga hilang, eh di kasih pemandangan yang membuatku sakit mata. Dan lebih parahnya lagi membuat si otongku tiba-tiba bangun dari acara tidur nyenyaknya.
Bedeb*h! Sial*n memang kalian berdua ini! Bermesraan tidak tahu tempat dan waktu, tidak punya rasa malu sedikitpun padaku dan juga Najwa. Setidaknya kasihanilah aku sedikit yang belum bisa ngapain-ngapain si Najwa.
Astaga! Ternyata mereka masih menikmati kedua bibir masing-masing, hingga kedua mata mereka sama-sama memejam, apa rasanya sungguh seenak itu? Hingga mereka berdua merem melek gitu? Aahh,, makin belingsatan saja otongku di balik celana yang ku pakai.
Sabar Antoni... Jeritku dalam hati. Hingga tak lama mereka menyudahi acara saling tukar salivanya, aku sedikit bergedik jijik, mungkin karena aku belum pernah merasakan rasanya bercumbu seperti itu kali ya? Walau aku sering melihat video begituan di ponsel para teman priaku, namun aku belum ingin merasakan pacaran dengan seorang wanita dulu. Baru dengan Najwa-lah aku merasa tertantang, darah dalam tubuhku langsung mengalir dengan cepat saat bersamanya , mungkin karena aku menginginkan wanita yang sholehah, jadinya aku begitu bersemangat.
" Alhamdulillah.." Ucapku bersyukur, tidak lagi melihat pemandangan menjijikan itu lagi, dan membuat mereka seketika menoleh padaku secara bersamaan.
" Eh, kamu sudah bangun!" Tanya Kolil sedikit gugup, aku tahu ia pasti kepikiran perbuatan mesumnya barusan pada Adikku, takut kepergok lalu aku marah padanya, yang memang sebenarnya aku menahan rasa kesal, namun bukan rasa kesal karena sikap kurang ajarnya yang mencium Adikku, melainkan caranya yang tidak kenal tempat. Aku sadar mereka berdua sudah sama-sama dewasa, apalagi sebentar lagi akan menikah, ya aku sadar diri, makanya aku tidak menunjukkan kemarahanku pada Kolil.
Saat Kolil akan menyalakan mobilnya, dengan cepat aku menahannya. " Tunggu! Aku mau ke toilet bentar, udah di ujung ini." Tanpa menunggu jawaban darinya aku segera turun dari mobil dan berjalan ke arah toilet umum yang ada di belakang pertamina ini.
Setelah selesai aku mencuci wajahku terlebih dahulu, lalu berkaca sebentar." Nasib menikahi wanita sholehah. harus banyak bersabar. Toch rasanya jauh lebih nikmat jika kita melakukannya dengan pasangan kita di malam pertama pengantin. Aahh, hanya membayangkan saja otongku mendesak ingin keluar.
" Sabar Tong, kamu belum waktunya menanam benih unggulmu. Tunggulah sebentar lagi, kamu juga akan merasakan nikmatnya surga dunia." Bisikku sembari mengelus pusaka sakti Radenmas Antoni sambil senyum-senyum sendiri.
Ah, makin memberontak saja dia, tapi kata surga dunia itu darimana? Siapa yang mencentuskan pertama kalinya? Sebab aku mendengar kata-kata itu juga dari orang-orang yang sudah menikah, entah benar atau tidak, ya aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya. Tunggu saja bulan depan mungkin, Insya Allah..
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.