Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tamu Di Pagi Hari


Anniyah_PoV


*


Malam pun tiba, dari tadi pagi Nenek ada di rumah menemaniku, sebab Ibu dan Bapak pergi ke rumah Pak Lek, Sepupu Bapak yang tinggal di daerah lain, tapi katanya malam nanti akan pulang, tidak sampai menginap.


Nenek tidak ikut di karenakan sudah tidak kuat perjalanan jauh kalau naik motor, sehingga memilih menemaniku di rumah saja, kendati ada suamiku juga di rumah, tapi Nenek tetap saja memaksa. Sebab katanya nanti tidak ada yang akan memberi nasehat jika ada yang tidak aku ketahui, sementara Ibu tidak ada. Ya aku tahu semua untuk kebaikanku juga, jadinya aku pun pasrah mengikuti.


" Nenek istirahat saja di kamar Anna. Pasti Nenek letih seharian menemani Niyah. Ada Bang Aziz juga yang akan membantu, menjaga dan menggantikan popok untuk Zia nanti." Pintaku pada wanita yang hampir memasuki usia enam puluh tahun.


" Iya, Nenek nanti akan istirahat bila sudah mengantuk. Sekarang tidurlah, biasanya Ibu yang baru saja melahirkan setiap malam selalu begadang. Sini kakinya Nenek urut siapa tahu airnya cepat berkurang." Ujar nenek yang bersiap akan memijat kedua kakiku.


Rasanya nyaman sekali masih ada kedua orangtua yang lengkap seperti ini, lalu Nenek yang sangat sayang dan perhatian padaku. Semoga Nenek di beri umur yang panjang, hingga aku di beri kepercayaan kembali dari Allah untuk melahirkan Adik-adik untuk Zia dan Nenek masih ada di sampingku.


Entah karena terlalu terlena dan asik menikmati pijatan dari Nenek, aku sampai keriduran entah sampai pukul berapa, hingga tengah malam aku terjaga saat mendengar tangaisan Zia ynag sedang haus minta di beri Asi. Bang Aziz membantuku meraih tubuh mungil Zia dan menyodorkannya padaku dan segera aku beri apa yang membuatnya merengek nangis.


Berbicara mengenai Anna, keesokan harinya setelah acara selametan Anna langsung kembali ke kota, sebab dia hanya dapat libur dua hari saja. Bapak yang mengantarkan mereka hingga sampai ke terminal pada siang harinya, dari raut wajahnya sebenarnya Anna masih merasa kesal, terlebih pada Bapak.


Dan aku sangat tahu banyak apa penyebab kekesalannya tersebut pada Bapak. Namun aku tak bisa banyak membantu selain memberinya lewat dukungan. Entah bagaimana keadaannya sekarang ini, sebab hingga sampai saat ini Anna tak memberi kabar maupun membalas pesan dariku.


Aku mencoba berpikir positif mungkin saja dia kehabisan pulsa atau paket data. Aku tahu bagaimana perasaannya kemarin saat mendapatkan teguran langsung dari Bapak saat pacarnya Kolil tengah mandi pada pagi itu. Banyak hal yang Bapak katakan pada Anna, semuanya tak jauh karena sebab keturunan Kolil yang merupakan orang dari kota PK. Adat kami melarang menikah dengan orang dari daerah sana, entah apa sebabnya aku sendiri tidak tahu.


Awalnya Anna terus saja memberontak pada Bapak, mencoba merayu beliau juga, perihal masalah keputusan sepihak tersebut. Dan pada akhirnya ia mendapatkannya juga, ya Bapak akhirnya mengalah dan mengatakan pesannya pada Anna, boleh melanjutkan hubungannya dengan Kolil asal hitungan weton mereka cocok untuk di lanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.


Dan Anna terlihat sedikit lega mendengar jawaban dari Bapak, ya walau keputusan ini masih belum pasti juga, tapi setidaknya Anna tidak segalau sebelumnya dan tentu saja masih saja kesal pada Bapak. Dan semoga saja mereka berdua bisa bersatu dalam ikatan pernikahan, Aamiin.


***


Keesokkan harinya saat aku sedang berjemur di depan halaman rumah bersama Zia, ada sebuah motor yang berhenti tepat di depan rumah, dan terlihatlah seseorang yang mulai turun dari motornya dan berjalan mendekat ke arahku. Entah siapa orang tersebut aku tidak mengenalnya.


" Permisi! Apa benar ini tempat tinggalnya Mbak Anniyah?" Tanyanya padaku, mendengar namaku di sebut, aku sedikit bingung menatapnya sekilas, sebab aku tidak mengenalinya.


Aku hanya bisa mengangguk sembari berdiri menyambutnya dengan masih menggendongnya Zia dalam dekapanku. " Saya-lah Anniyah, dan ini rumah kedua orangtua saya? Ada keperluan apa ya?" Tanyaku to the poin.


" Ah, Ini Mbak Anniyah langsung. Maaf kalau kedatangannya saya mengganggu Mbaknya sepagi ini. Tapi saya ingin bertemu teman saya namanya Aziz, apakah benar dia ada disini?" Tanyanya lagi yang ternyata mencari suamiku.


" Oh, mencari Bang Aziz? Iya benar dia ada disini, mari silahkan masuk, saya panggilkan dulu suaminya saya." Ajakku padanya masuk ke dalam rumah, dan dia langsung mengikutiku dari belakang." Silahkan duduk, saya tinggal ke belakang dulu.


Setelahnya aku berjalan ke arah belakang dimana Bang Aziz yang tengah menjemur pakaian. Kebetulan tadi seusai sholat subuh Bang Aziz langsung mencuci pakaian Zia, juga sekalian pakaian kami.


" Bi, di depan ada tamu yang sedang nyari Abi." Seruku yang berdiri di belakangnya.


" Nyari Abi? Siapa namanya sayang?" Tanyanya yang penasaran.


" Maaf tadi aku tidak sempat menanyakan namanya. Sini biar aku yang lanjutkan Abi buruan masuk, nanti aku buatkan teh juga sekalian." Pintaku yang memintanya segera ke depan.


" Ya sudah ini tinggal pakaiannya Zia yang belum di jemur. Sini Zia sama Abi saja." Ujarnya sembari meraih Zia dalam gendonganku. Setelahnya suamiku berjalan masuk ke dalam rumah.


" Eh, Bapak. Itu sepertinya temannya Bang Aziz Pak yang datang. Bapak sudah sarapan? Jangan di tunda-tunda Pak, nanti bisa kena maag lho." Ujarku memperingati beliau.


" Iya ini Bapak mau sarapan dulu? Lalu pergi ke alas besar. Zia sedang tidur?" Ujar Bapak yang sembari mencuci tangan dan juga kakinya di air pancuran.


" Zia sama Bang Aziz Pak. Ya sudah Bapak sarapan dulu gih." Setelahnya Bapak benar-benar masuk ke dalam rumah. Dan aku segera menyelesaikan acara menjemur ini yang memang tinggal sedikit.


Setelah selesai menjekur aku segera masuk ke dalam dan berjalan ke arah meja panjang yang ada di dapur untuk membuatkan minuman untuk Bang Aziz beserta tamunya. " Ini kopinya Bapak lho, pasti sudah hampir dingin." Tunjukku ke arah mug yang berisi kopi hitam kesukaan beliau.


" Iya, Bapak suka yang agak dingin." Sahutnya yang sedang duduk di meja makan, menikmati sarapannya sendiri, sebab Ibu sudah berangkat kerja sehabis subuh tadi.


Tak lama aku segera membawa nampan berisi dua cangkir teh tersebut ke depan. Dan segera ku letakkan dua gelas berbeda warna di atas meja tepat di hadapan suamiku juga tamunya. Karena Bang Aziz yang berpesan padaku jika ia suka minuman air hangat di beri garam bukannya gula, sedikit aneh memang, akan tetapi suamiku bilang karena ia mempunyai penyakit amandel keturunan di antara kerongkongannya.


" Aduh jadi merepotkan Mbaknya saja, terima kasih." Ujar si tamu berbasa-basi, aku hanya tersenyum sekilas saja.


" Sayang, ini kenalin temanku namanya Yanu, bisa di bilang dia sahabatku." Ujar suamiku meperkenalkan temannya itu padaku, yang langsung ku balas dengan senyuman sekilas lagi.


" Ayo di minum Nu." Ajak suamiku pada temannya untuk mencicipi minumannya.


" Bi, Adek ke kamar dulu, sini Zia-nya" Bisikku yang menggendong alih putri kami. Setelah aku berdiri sedikit menunduk pada temannya Bang Aziz sebelum berjalan masuk ke dalam kamarku.


" Pinter kamu nyari istri Ziz. Sepertinya berbeda dengan mantan istri pertamamu ya? Makanya aku lihat kamu jauh lebih berbeda ketimbang yang dulu, secara yang ini jauh lebih cantik dan tentunya kamu juga akan awet muda, hehe.." Ku dengar bisikan temannya suamiku dari kamar, walau suaranya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya, sebab semua pintu kamar memang tidak memiliki pintu, hanya di tutupi gorden yang ukurannya pas sepintu saja. Aku jadi penasaran dengan jawaban dari suamiku, kira-kira dia akan jawab apa ya?


" Tolong di kondisikan matanya ya? Istrimu balik dengan siapa ke kota?" Bukannya menjawab, suamiku justru bertanya hal lain. Ya sudahlah, sebaiknya aku bermain ponsel saja.


" Sama siapa lagi kalau bukan si Syifa, dia 'kan sekarang bekerja jadi asistentnya istriku di kantor." Balas temannya itu, walau aku tengah menatap layar ponsel, namun aku juga fokus mendengar pembicaraan mereka.


" Eh, aku lupa tanya, soalnya waktu itu kalian keburu pulang. Pria muda yang kalian ajak itu, suaminya Syifa ya?" Terdengar suara Bang Aziz bertanya, dari nadanya kelihatan jika ia penasaran.


" Siapa? Maksudmu si Andris, ya bukanlah! Ngawur aja kamu itu! Dia itu anak pertama istriku. Mana bisa menikahi Tantenya, ada-ada saja kamu ini. Entahlah sepertinya Syifa belum bisa move on darimu, hehe,," Terdengar balasan dari sahabatnya.


Tunggu! Move on? Apa maksudnya ini?


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.