Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Akhir kisah


Beberapa hari kemudian. Aira sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Kali ini dia belanja sendiri tanpa di temani David mau pun Jacky. Mereka berdua sangat sibuk hari ini, akhirnya Aira belanja sendirian.


"Sekalian beli susu hamil deh" Ketika Aira tengah memilih susu hamil, tiba tiba saja ada seseorang menyentuh pundak. Seketika Aira menoleh "Kamu?"


"Jadi benar kata mas David kalau kamu tengah hamil?" Ucap Diandra sembari melihat susu hamil di tangan Aira. Perasaan luka, sakit dan kecewa menjadi satu. Membuat hati tidak karuan, antara emosi dan bingung harus berbuat apa. Jika dia harus marah pada Aira, tapi semua kesalahan tidak hanya dari satu pihak. Suaminya pun juga ikut bersalah.


"Boleh kita bicara sebentar di cafe sebelah?"


Aira berpikir sejenak "Boleh, kalau begitu kita ke sana sekarang" Mereka pun keluar dari mini market manuju Cafe terdekat.


Sessmpainya di cafe, mereka langsung pesan minum "Mas, saya pesan lemon tea satu, sama kamu apa?" Tanya Diandra.


"Jus alpukat saja"


"Sama jus alpukat satu"


Pelayan cafe segera mencacat pesanan mereka "Baik, mohon di tunggu sebentar ya kak"


Tatapan mata Diandra menatap dalam kedua mata Aira "Sebelumnya saya mau minta maaf karena mungkin ada beberapa hal yang sedikit menyinggung kamu. Tapi, saya hanya ingin mengetahui sedetail mungkin, sebelum hubungan kalian lebih jaub lagi"


"Tidak usah basa basi, langsung ke inti saja" Meski di dalam diri Aira ada sebuah penyesalan tapi dia lebih memberatkan nasibnya kedepan. Sudah cukup selama inj mengalah, sekarang waktu yang tepat untuk mendapatkan haknya.


"Apa kamu mencintai mas David?"


"Pertanyaan macam apa ini? seharusnya anda sudah tau jawabannya" Jawab Aira sembari membuang muka.


Diandra terlihat menarik nafas panjang "Kalau memang benar begitu, saya minta tinggalkan suami saya. Saya berjanji akan memberikan apa pun yang kamu mau" Mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas. Selembar cek tersuguh depan mata. Aira mengepalkan kedua tangan "Anda kira bisa membeli cinta saya? Tentu tidak. Saya tidak perduli seberapa banyak uang yang anda tawarkan untuk saya, karena saya mengharap pertanggung jawaban David bukan hartanya. Kalau menurut anda uang bisa membeli segalanya, kenapa tidak anda belicinta lelaki lain di luar sana" Aira bangkit lalu menggebrak meja "Satu hal yang harus anda tau, kami sudah menjalin chubungan sebelum kedatangan anda. Jadi, kalau ada orang yang harus pergi itu anda bukan saya. Mengerti?!" Aira pun bergegas pergi. Namun, ketika berbalik tiba tiba saja ada seseorang menamparnya.


Plak....


"Apa apaan ini?" Maki Aira sambil memegangi pipi.


Seorang wanita paruh baya berdiri dsngan tatapan kebencian "Sebelum kamu bicara sembarangan, seharusnya kamu itu ngaca dulu. Diandra itu istri sah David sedangkan kamu siapa? hanya wanita simpanan" Jari telunjuk mengarah tepat di depan wajah Aira.


"Nyomya Nickolas..." Liroh Aira terkejut saat melihat wanita itu adalah ibu kandung David.


Diandra langsung banglit lalu mendekati sang mertua "Ma, sudahlah. Jangan sakiti wanita hamil. Saat ini dia tengah mengandung seorang bayi tanpa dosa. Kita pulang saja yuk ma" Meraih lengan sang mertua mengajaknya pergi dari sana.


"Kamu itu harusnya malu sama diri kamu sendiri. Dia (Menunjuk Diandra) wanita yang kamu sakiti masih bisa memikirkan harga diri kamu dan anak dalam kandungan kamu itu. Tapi, kamu melah menghancurkan hatinya. Dasar kamu pelakor"


"Ma, sudah. Ayo kita pulang. Malu di lihat banyak orang" Diandra langsung memba2a sang ibu mertua keluar cafe.


Aira masih terdiam diri. Banyak pasnag mata melihat ke arahnya. Bahkan ada beberapa orang mengabadikan perdebatan itu lalu mempublikasikan.


"Astaga, bukankah ini Rara..." Kebetulan Jacky melihat kabar viral hari ini. Baru beberapa menit video Aira sudah booming di jagat maya.


"Pasti dia sangat terguncang kalau tau videonya jadi topik trending di sosial media" Jacky langsung bergegas menghubungi Aira. Tapi, tidak ada respon darinya.


"Nggak bisa di biarin. Aku harus cepat lindungi dia" Jacky segara keluar ruang kerja.


"Pak, maaf hanya sekedar informasi saja. Sepuluh menit lagi ada meeting dengan clien "


"Saya minta kamu handle dulu meeting ini. Saya ada urusan penting" Jacky buru buru meni ggalakn kantor.


"Kepurusan saya bersifat final" Ujar Jacky dari kajauhan.


"Astaga, ada apa dengan pak Jacky? hari inj ada rapat dengan petinggi perusahaan. Tapi, beliau malah tidak hadir. Gawat harus bicara apa nanti sama mereka"


Aira menangis mengingat perkataan Nyonya Nickolas "Mengingat ucapan itu membuat ku sakit. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini. Aku ingin pergi jauh dari mereka, biar tidak ada lagi kesakitan dalam hidup ku lagi" Aira memutuskan kembali ke apartemen.


Sesampainya di sana ia melihat Jacky berriri di depan pintu Aparteman "Kenapa kamu di sini?" Tabya Aira sambari menyeka sisa air mata.


Jacky langsung memeluk Aira "Aku minta maaf padamu. Semua salah ku"


Aira tidak tau apa maksud Jacky "Kamu kenapa? memang apa salah kamu?"


Jacky mengeratkan pelukannya "Sudah saatnya kamu tau yang sebenarnya. Bukan dia ayah dari anak dalam kandungan kamu, tapi aku. Aku ayah biologis anak ini"


Aira mendorong badan Jacky "Jangan bicara sembarangan kamu. Aku sedang tidak ingin bercanda dengan mu"


Jacky meraih kedua bahu Aira "Aku serius. Anak ini milik ku. Sebenarnya malam itu kita melakukan hubungan itu. Anak ini darah daging ku"


Plak...


Aira menampar Jacky dsngan berderai air mata "Omong kosong kamu. Susah cukup, jangan bicara sembarangan atau kamu akan merima kemarahan ku"


"Kalau kamu tidak percaya lihat video ini, tanpa aku sadari malam itu aku merekam semuanya. Maafkan aku. Malam itu aku benar benar tidak sadarkan diri" Memberikan hasil rekaman.


Dengan tangan gemetar Aira melihat video. Benar saja mereka melakukan semua itu "Jadi semua itu benar? berbarti anak ini bukan anak David tapi anak kamu?" Air mata Aira mengalir semakin deras.


"Benar. Mulai sekarang kamu tidak perlu merebut apa pun dari siapa pun. Mari kita pergi dari kota ini. Kita mulai semua dari awal. Kita bangun hidup baru di tempat baru" Jacky berhasil meyakinkan aira setelah semua bukti jelas adanya.


(Artinya semua kecurigaan David benar. Anak ini bukan miliknya. Apakah semua sudah jalan Tuhan, aku harus melepasnya dan menjalani hidup baru bersama Jacky. Meski aku tidak mencintainya, tapi aku tau di mencintai ku)


"Maaf, aku butuh waktu sendiri" Aira langsung masuk dan menutup pintu. Jacky masih di luar berdiam diri.


"Semoga kamu menjatuhkan pilihan yang tepat. Aku tidak mau kamu tersakiti terus menerus. Sudah saatnya kamu membahagiakan diri sendiri. Kalau kamu sudah siap kita akan pergi dari kota ini" Ujar Jacky sembari berbalik badan. Ia pun langsung pergi dari sana.


Setelah beberapa jam kemudiam Bantak sekali hal yang Aira pikirkan sampai ia memutuskan untuk pergi tanpa siapa pun. Dsngan hanya berbekal tekat kuat, ia pergi ke sebuah tempat yang jauh dari kota itu. Sebelum pergi ia sudah meninggalkan surat dan ponselnya. Ia benar banar pergi tanpa satu petunjuk pun.


Malam tiba, David bergegas menuju aparteman hendak menemui Aira. Setelah sampai di apartemen ia tidak bisa menemukan Aira di sana "Sayang, kamu di mana? Aira...." Mencari ke kamar mandi tetap tidak ada. Sampai saat kedua mata melihat secarik kertas di atas meja dan ponsel tergeletak di atasnya.


"Pinselnya ada di sini, tapi dia kemana?" meraih secarik kertas lalu membukanya.


Dear: David


Maaf jika setelah membaca surat ini mungkin aku tidak akan lagi bisa kamu temukan. Aku memutuskan untuk pergi dari hidup mu. Benar dugaan kamu selama ini, anak dalam kandungan ku bukan anak mu. Maaf, selama ini aku terlalu banyak menuntut darimu. Aku harap dengan kepergian ku ini kamu bisa hidup bahagia dengan istri mu. Lupakan semua tentang kita. Kita tercipta bukan untuk saling bersama. Tolong jangan cari aku. Biarkan aku hidup dengan jalan ku sendiri.


Aira.


Setelah membaca surat itu David langsung meremas selembar kertas "Tidak........." David berteriak sekuat tenaga. Aira mata menetes membasahi pipi "Siapa yang meminta mu pergi, siapa?"


Aira sudah di dalam pesawat "Selamat tinggal kehidupan pahit, selamat datang hidup baru." Menguspa perut sambil tersenyum "Sekarang hanya kita berdua saja ya, nak. Kita berjuang bersama. Kita hidup di negara baru dengan orang orang yang baru. Semoga kita bisa menemukan kebahagiaan tanpa merusak milik orang lain"