
Anna_PoV
*
Namaku Anna Anisa, aku anak bontot dari tiga bersaudara. Dan aku merasa anak yang paling di sayangi oleh Bapak dan Ibuku, dulu sewaktu kecil ada saja tingkah jahilku pada Mbakku Anni, setiap berangkat ke sekolah aku selalu merengek minta di gendong olehnya. Padahal tubuhku jauh lebih gendut dari Mbakku Anni, yang mempunyai tubuh tinggi jangkung.
Namun saat akan menolak, Ibu selalu memarahinya. Dan akhirnya setiap aku minta gedong pantatku selalu di cubit lebih dulu oleh Mbak Anni, sehingga aku pun menangis dan uang sakunya ia berikan padaku. Tak masalah, uang jajanku jadi bertambah plus aku juga tidak capek berjalan, hehe, nakal sekali ya aku.
Bisa di bilang aku itu nakal sekali di bandingkan anak seusiaku yang lain, aku juga suka jahil, kebanyakan teman-temanku adalah para pria Entah suka aja aku berteman dengan para pria di bandingkan dengan para wanita, di samping tukang ngadu, bawel, juga nangisan, aku paling benci di manfaatkan oleh teman wanitaku.
Saat beranjak dewasa aku mulai mengalami puber, masa-masa indah berpacaran kata orang. Banyak para laki-laki yang nembak aku saat kami duduk di bangku kelas enam SD. Tapi pilihanku jatuh pada Tommi, anak yang pendiam jika berada di kelas, ya kami satu sekelas, yang pasti aku suka aja pribadinya yang mandiri, sudah bisa cari uang walau hasil nyari dari Hutan, namun aku bangga padanya. Tommi ini versi laki-laki Mbak Anni, yang sama rajinnya. Jaman dulu hidup kami sangat susah, tinggal di pedesaan yang belum terjamah oleh listrik, hingga lampu petromak-lah yang jadi andalan. Itupun kebanyakan orang berada yang memiliki, sedangkan kami yang hidup pas-pasan hanya memakai lampu ublik atau lampu oncor bahasa kerennya. Baru beberapa tahun ini saja sudah ada listrik juga jaringan data selluler masuk ke desa kami.
Namun kami anak-anak jaman dulu tidak ada yang mengeluh, ataupun merasa malu. Atau di cap orang yang tak punya, memang keadaannya seperti ini, sehingga banyak anak yang ngasak jagung atau nanas di hutan. Eh iya pasti sudah di jelasinlah ya oleh Mbakku yang cantik namanya Anniyah.
Hingga tak terasa usiaku sudah semakin dewasa, Mbakku Anni memilih ikut Budhe Indhun ke kota, membantunya berjualan di warung, dan Ibu langsung menyetujui begitu Budhe meminta ijin padanya, pasti tahulah, Budhe itu Mbak kandungnya Ibu kami.
Aku yang belum pernah ke kota, harus bersabar dulu, menunggu kabar dari Mbakku, juga aku mempunyai seorang teman yang sudah lebih dulu merantau ke kota dengan saudaranya. Hingga tibalah Mbak Anniyah pulang kampung, inilah waktu yang aku tunggu-tunggu.
Aku baru saja pulang ke rumah, yang tadinya main ke rumah teman, aku di kejutkan oleh sosok seorang pria yang berdiri di dekat pintu belakang, aku menaruh curiga besar padanya. Hingga tibalah Mbak Anni memperkenalkan pria tersebut pada kami semua, jika pria itu adalah suaminya. Sungguh aku tak menduga, bahkan kulihat Bapak dan Ibu hamoir limbung mendengar berita ini, yang pasti pria itu umurnya jauh lebih tua dari Mas Anton kami—Anak sulung di keluarga ini.
Dan yang membuat kami terkejut lagi, ternyata Mbak Anni sudah mengandung buah hati mereka? Padahal katanya mereka baru menikah satu bulanan lebih, tetapi sudah langsung tokcer saja, jagoan memang sepertinya suami Mbakku ini. Mana tampan pula, Astagfirullah,, mikir apa aku ini!!
Aku dan Mbak Anni memilih mengobrol di dalam kamar Mas Anton yang kini akan menjadi kamar Mbak Anni dan suaminya, sedangkan kamarku tetap di depan sana jadi sendirian deh hang biasanya kami selalu tidur berdua. Banyak hal yang kami bicarakan termasuk rencanaku yang ingin pergi ke kota.
Mas Anton sendiri di usir oleh Bapak, di suruh tidur di dipan depan ruang tamu, kasiannya Mas gantengku itu. Hingga tak lama orang yang aku bicarakan akhirnya pulang juga, ya siapa lagi jika bukan putra satu-satunya di keluarga ini.
Aku dan Mbak Anni kompak keluar kamar kembali menyambut kedatangan saudara laki-laki kami. Pasti dia habis dari rumah si Tommi? Soalnya mereka teman nongkronhmg jika lagi di rumah. Walau usia mereka berbeda, namun kebanyakan pemuda di kampung ini memang salung membaur satu sama lain, jadi sudah tak heran lagi.
Sama halnya seperti kami bertiga, Mas Anton terlihat jauh lebih terkejut. Mingkin tidak menyangka mempunyai saudara ipar yang usianya jauh di atasnya. Tapi Alhamdulillahnya akhirnya Mas Anton pun menerima suami Mbak Anni.
Beberapa hari kemudian, akhirnya aku berangkat ke kota, tak menyangka aku bisa bekerja juga. Namun aku berangkat bersama Mas Anton yang kenetulan di ajak temannya bekerja di daerah lain, tapi mereka membuat janji ketemuan di terminal kota.
Aku bekerja di pabrik rambut, ya sudahlah yang penting dapat pekerjaan daripada jadi pengangguran sejati di rumah. Nggak punya uang pegangan sendiri, dan aku paling tidak suka kerja di hutan ataupun alas, mungkin jiwaku kekotaan jadi nggak cocok bekerja di kebon seperti itu. Haha.. sombong kali kamu Anna!
Satu bulan bekerja aku langsung membeli ponsel hasil keringatku sendiri, ya walaupun tidak terlalu bagus. Tapi lumayanlah, daripada tidak punya. Aku langsung menghubungi Mbak Anni orang pertama yang aku hubungi, kami saliing tanya kabar, hingga aku mengubungi Tommi yang saat ini juga sudah bekerja namun di kota lain ikut saudaranya.
Beberapa bulan kemudian, Mas Anton datang berkunjung ke kostku bersama salah satu temannya. Tepat saat itu aku sedang memasak bersama Najwa, hingga terjadilah acara perkenalan di antara aku, Najwa, Mas Anton dan temannya bernama Kholil.
Kami saling berbagi cerita seru, dari mulai yang terlucu, terkocak, hingga terhebat. Entah banyaklah yang kami ceritain, hingga tak sadar hari sudah semakin gelap sangking asyiknya. Dan entah mengapa aku melihat Kholil ini seperti menyukaiku, bukannya geer atau besar kepala, namun aku memang sangat peka jika ada seorang pria yang menyukaiku.
Lambat laut kami pun jadi sering berkumpul, kadang di kostku, kadang kami jalan-jalan keluar. Dan aku juga merasa Mas Anton dan Najwa ada hubungan, seperti ada percikan api cinta yang membara dari keduanya. Pastilah aku jagonya yang bisa melihat dengan jeli.
Dan dugaanku ternyata benar, meraka sudah jadian, dan kabar baiknya lagi bahkan hubungan mereka ingin segera menuju ke jenjang yang lebih serius lagi. Wah sepertinya aku kalah start ini dari si Najwa. Dan entah ada angin apa tiba-tiba aku di tembak oleh si Kolil, tapi bukan di tembak terus tknggal nama ya, ini nembaknya pakai tembak cinta, duh drama sekali sih.
Akhirnya aku menerimanya, dan kulihat ia pun begitu serius denganku, tulus menyayangi dan mencintaiku. Entah bagaimana bisa aku celat sekali berpaling dari Tommi. Apa karena aku jauh darinya, dan kini ada Kolil yang hampir setiap hari menemaniku.
'Kan orang jawa bilang, 'Witing Tresno Jalaran soko kulino'. Entahlah, yang pasti aku nyaman dengan Kolil saat ini. Hubungan Mas Antin dan Najwa pun semakin lengket, entah sudah ngapain aja mereka, aku tidak tahu. Dan sejauh ini aku dan Kolil hanya sebatas bercumbu saja bagian atas. Aku juga takut jika melajukan hal yang di luar batas. Aku ingin melakukannya jika kami sudah sah menikah saja.
Aku kabar bahagia datang dari Mbak Anni, yang habis melahirkan seorang putri, cantik sekali keponakanku itu. Aku tak sabar ingin pulang secepatnya untuk menggendong keponakanku. Aku mengajak Mas Anton untuk pulang, akan tetapi ia menolak belum bisa pulang karena banyak kerjaan di tempatnya bekerja. Akhirnya aku pulang sendiri, tapi Kolil mengantarku pagi itu hingga sampai ke terminal kota.
" Nanti aku nyusul ya? Bolehkan aku berkunjung ke rumahmu? Sekalian_
" Stop, jangan dululah Bang. Aku belum siap jika kamu akan melamarku di hadaompan kedua orangtuaku. Sabar dulu ya.." Tolakku dengan halus, agar tak membuatnya tersinggung.
" Ya udah main aja kalau begitu. Nanti kirimkan alamatnya ya?" Bujuknya lagi. Mau tak mau aku pun mengiyakan, daripada dia terus saja memaksa. Aku pun melangkah pergi menuju bis yang akan mengantarkanku ke kota kelahiranku.
Beberapa jam kemudian aku telah sampai di rumah dengan di antar oleh ojek, sebab jarak dari pemberentian bis sampai rumah lumayan jauh. Aku langsung di sambut dengan baik oleh Mbak Anni dan keponakan cantikku.
" Wah cantik sekali keponakan tante." Aku tak bosan menciumi pipi bulatnya. Hingga Mbak Anni mneyuruhku untuk segera menikah, ya aku ceritakan saja jika aku sedang berhubungan dengan seorang pria, yang ingin segera datang ke rumah melamarku, eh malah aku di ceramahi panjang kali lebar sama Mbak Anni. Ah entahlah... yang pasti aku sangat menikmati hubunganku dengan Kolil.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.