
"Diandra?" Nyonya Adinata melihat sang putri datang sambil menangis. Beliau bingung gerangan apa yang telah terjadi sampai air mata Dindra tumpah. jarang sekali beliau melihat sang anak menangis kalau tidak ada hal yang begitu menyakitkan. Beliau segera meletakkan ponsel ke atas meja, kemudian menghampiri sang putri "Ada apa, sayang? kenapa tiba tiba kamu datang dan menangis seperti ini?" Menyeka sisa air mata sambil melihat dalam kedua bola mata Diandra. Terlihat ada banyak luka menghiasi hati sang putri.
"Kita duduk dulu yuk, nak." Mereka pun duduk di sofa ruang tamu "Hey....ada apa ini? coba cerita sama mama. Apa kamu lagi ada masalah sama suami kamu itu? atau ada hal lain?"
Berat bagi Diandra untuk menceritakan semuanya tapi kalau bukan kepada sang ibu, harus bicara kepada siapa lagi. Sesungguhnya yang paling mengerti hati seorang anak hanya kedua orang tua mereka. Tempat berkeluh kesah, tempat menungakan segala asa. Hati Diandra saat ini sangat terluka, sehingga tidak kuat lagi menahan sesak di dada "Ma....sebenarnya apa kekurangan Diandra?" Ucapnya dengan nada sedih. Perlahan air mata membanjiri pipi.
Sang ibu memicingkan mata "Maksud kamu apa, sayang?"
Menunduk sambil meremas tangan sendiri "Kenapa mas David lebih memilih wanita lain dari pada Diandra. Apa Diandra terlalu buruk rupa untuk di cintai oleh mas David? apa Diandra tidak punya kesempatan di cintai oleh lelaki yang Diandra cintai selama ini..." isak tangis Diandra membuat hati soarang ibu sedih. Bagi seorang ibu tidak ada hal paling menyakitkan di dunia kecuali melihat anak anaknya menangis. Sebilah pisau tidak begitu menyayat hati kala air mata sang anak jatuh membasi pipi.
"Tunggu, tunggu, ini maksudnya bagaimana? memilih wanita lain? coba terangkan semua dengan jelas" Menyentuh lengan Diandra "Jangan sampai mama salah mengartikan ucapan kamu ini"
Diandra memposisikan badan sampai mereka duduk benar benar saling berhadapan "Sebenarnya mas David mempunyai wanita lain, ma." Sontak Diandra segera memeluk sang ibu seraya memejamkan mata. Sakit luar biasa membuatnya begitu tersiksa. Luka tak berdarah tapi mampu menghancurkan "Diandra sakit, sakit ma. Walau pernikahan ini atas dasar perjodohan, tapi Diandra sangat mencintai mas David. Diandra tidak mau kehilangan mas David"
"Kurang ajar sekali anak itu, berani melukai putri kesayangan mama. Jadi dia mau main main sama kita. Pokoknya kamu tenang saja, nanti mama sama papa akan menemui keluarga David untuk membicarakan soal ini. Kami tidak terima jika putri kesayangan kami ini (Membelai wajah Diandra) di sakiti begitu saja" Mengepalkan tangan karena tidak terima kalau putri kesayangan mereka di hianati.
"Tapi ma...."terdiam sejenak "Di sini yang salah bukan pihak ketiga atau pun mas David, melainkan Diandra sendiri"
"Lho...kok bisa begitu?"
"Hubungan mereka terjalin jauh sebelum Diandra datang dalam kehidupan mas David. Jadi, yang salah di sini bukan mereka tapi Diandra. Seharusnya Diandra tidak datang ke dalam kehidupan mereka. Sekarang ini Diandra seolah jadi perusak hubungan orang"
Sang ibu menyentuh ujung kepala Diandra "Apa pun alasannya, bagaimana pun mereka dulunya, hubungan kamu sekarang ini jauh lebih kuat dari hubungan terlarang mereka. Sebuah pernikahan akan menghancurkan hubungan sebelumnya, walau dengan orang yang di cintai sekali pun. Kamu punya hak atas suami mu. Jangan pernah kasih kesempatan untuk wanita lain merebut posisi kamu sebagai nyonya David Nickolas Narendra. Kamu harus tegas. Datangi wanita itu, minta dia untuk menjauhi suami kamu."
"Entahlah, ma. Diandra masih belum mengerti dengan permainan kehidupan ini. Diandra masih hancur, kecewa, sakit hati. Tapi Diandra tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, sebab hubungan mereka ada jauh sebelum Diandra ada dalam kehidupan mas David" Menyendarkan kepala di bahu sang ibu.
"Setiap rumah tangga pasti di uji sama Tuhan. Tinggal bagaimana cara kita menghadapinya. Jika Tuhan telah menguji umatnya, pasti di balik semua ini akan ada hikamahnya. Ingat, tidak ada ujian di luar batas kemampuan manusia. Anak mama ini tangguh, wanita pilihan Tuhan. Mama yakin kamulah pemenangnya. Pelakor itu beda kasta dari istri sah. Kalau pun dia menang itu bukan kemenangan tapi jalan karma" Berusaha menenangkan sang putri agar dia tidak berlarut dalam kesedihan. Sesama wanita beliau tau bagaimana perasaan seorang wanita ketika mengetahui suaminta selingkuh. Emosi pasti meledak, seakan darah mendidih.
"Ada apa ini? Pelakor? siapa yang kalian maksud?" Tiba tiba saja Tuan Adinata sudah berdiri tegak di belakang mereka. Sontak mereka berdua terkejut "Eh papa, kok sudah pulang" Nyonya Adinata menghampiri sang suami "Sini biar mama bantu bawa..." Meraih tas kerja kemudian meletakkan di atas meja.
Diandra tidak berani mengangkat kepala. Wajahnya terus menunduk lesu.
"Bilang sama papa ada masalah apa?"
"Pa, lebih baik papa mandi bersih bersih dulu, baru kita bicara" Ajak sang istri. Tuan Adinata menepis tangan sang istri "Papa mau dengar dulu ada masalah apa sebenarnya..."
"Mas David ternyata punya wnaita lain, pa" Ujar Diandra dengan suara gemetar.
"Apa? David selingkuh?" Tuan Adinata terkejut bukan main. Bagaimana bisa menantu yang ia dambakan tega menyakiti anak kesayangannya. Padahal dari awal keluarga Adinata percaya bahwa putri mareka sudah memilih suami dan keluarga baru yang tepat. Namun, nyatanya putri mereka di sakiti secara tidak adil.
Seketika Tuan Adinata bangkit dari tempat duduknya "Mari kita selesaikan semuanya sama keluarga anak itu. Enak sekali dia menyakiti anak kesayangan ku."
Diandra meraih tangan sang ayah "Pa....(menggeleng kepala) Diandra mohon jangan turun tangan dulu, biar Diandra bicara baik baik dulu sama mas David. Siapa tau mas David mau meninggalkan wanita itu"
"Tidak bisa. kalau sudah menyangkut perselingkuhan seperti ini, tandanya kami harus ikut turun tangan" Amarah sang ayah mulai sulit di kendalikan.
"Diandra mohon sama mama dan papa, tolong jangan ikut camur dulu selama Diandra masih bisa menghadapinya. Kalau Papa sayang sama Diandra, tolong jangan gegabah."
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Tapi, papa nggak terima kalau kamu di selingkuhi. Papa harus beri pelajaran sama mereka." Memukul tepi sofa berukang kali.
"Papa sungguh tidak menyangka kalau anak Nickolas itu tega menduakan kamu. Tau begitu dulu papa tidak akan mengijinkan mereka meminang putri papa ini" Menatap sang putri dengan sangat dalam. Tak kuasa melihat kesedihan di mata sang anak, Tuan Adinata langsung memeluknya erat.
"Maafkan papa ya nak, kalau sudah keliru mencarikanmu suami. Papa kira dia lelaki yang baik, tidak taunya dia itu pecundang" Mengingat wajah Davis tanpa bosa membuat Beliau mengeratkan rahang. Kalau pun dia ada di depan mata mungkin saat ini juga bogemnya sudah melayang ke wajah David.
"Bukan salah papa. Semua sudah takdir yang harus Diandra lalui. Sampai kapan pun Diandra akan berjuang demi rumah tangga Diandra. Saat ini Diandra tidak mempertahankan cinta tapi harga diri sebagai seorang istri" Lirihkan sambil mengis di bahu sang ayah.
Nyinya Adinata tidak kuasa melihat kesedihan mereka, sampai ia pun meneteskan air mata "Mama yakin apa pun itu semua demi yang terbaik untuk anak kita, pa. Jika mereka di tekdirkan sehidup semati, lautan api pun tidak mampu menghalangi kisah mereka." Beliau ikut berprlukan dengan anak dan suaminya.