Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Ujian Hidup..


Aziz_PoV


*


Begitu sampai di kota JG, aku langsung meluncur ke RSU yang ada di kota ini, tak berapa lama aku sudah sampai dan memakirkan motorku di tempat parkir khusus roda dua. Lalu berjalan melewati lorong-lorong panjang setelah mengantongi informasi di mana letak ruangan Ummaku dari Resepsionis di depan tadi.


Ceklek!..


" Assalamualaikum..." Sapaku begitu masuk ke dalam ruang rawat Ummaku.


" Waalaikumsalam." Jawab mereka di dalam sana. Ternyata di dalam sudah ada beberapa anggota keluarga. Ada Abah, Cak Arga, Neng Atin, dan juga seorang Lelaki paruh baya, seumuran dengan Abah, entah siapa dia? Aku berjalan menyalimi semuanya lalu mendekati ranjang kecil dimana Umma masih terbaring lemah disana.


" Bagaimana keadaan Umma Abah?" Tanyaku menatap sekilas ke arah Ummaku, lalu kemudian menatap Abah yang terlihat kelelahan.


" Umma belum siuman sejak tadi, tadi pagi sih sudah walau sebenar, kita berdoa saja. Dokter juga sudah memeriksa keseluruhan tinggal menunggu hasilnya." Itu Cak Arga yang menjawab pertanyaanku.


" Oh iya Ziz, ini Pamanmu Umar yang tinggal di kota JN, kamu masih ingat 'kan?" Ujar Abah mengenalkan lelaki tadi padaku, yang ternyata Adik kandung Abah.


" Astagfirullah, maaf Aziz lupa Paman, apa kabar Paman?" Aku kembali menyaliminya dengan baik. Tentu saja aku lupa, sudah lama kami tidak bertemu, kadang Beliau datang ke rumah tapi kami tidak bertemu sebab aku sering berada di kota.


" Alhamdulillah sehat, seperti yang kamu lihat sekarang. Dimana istrimu? Kenapa tidak di ajak?" Tanyanya tersenyum menatapku.


" Istri Aziz sedang hamil besar Paman, jadi ada di kampung halamannya sekarang sudah beberapa bulan ini tinggal disana? Dua minggu kemarin saya juga baru pulang dari sana." Jawabku yang saat membahas Anni istri keduaku.


" Lho, bukannya istrimu itu orang kota ya? Kenapa tinggal di kampung?" Tanya Pamanku terlihat bingung. Ternyata tidak ada yang memberitahu beliau.


" Hmm, saya sudah bercerai dengan istri saya yang di kota Paman, dan sudah hampir satu tahun ini Aziz menikah kembali." Jawabku merasa tidak enak hati, seperti membuka aib sendiri.


" Jadi begitu. Ya, ya Paman mengerti. Kalau boleh tahu, di daerah mana kampung istrimu?" Tanyanya yang semakin penasaran.


" Di daerah dekat pegunungan Paman ya mungkin sekitar satu jam setengah dari sini." Sahutku kemudian.


" Sepertinya Paman tahu daerah situ. Tidak begitu jauhlah dari rumah Paman. Pasti suasananya begitu sejuk disana ya. Kapan-kapan mampir kerumah Paman Ziz, pasti kamu sudah lama tidak bertemu dengan Adik-Adik kamu 'kan?"


Ah ya, aku lupa anak Pamanku ada tiga, ketiganya adalah lelaki semua. Namun Paman juga mempunyai anak sambung lelaki anak pertama dari Bibi, istrinya Paman.


Sepertinya nasib pernikahan Abah dan Paman tidak jauh berbeda, sama-sama menikahi seorang janda. Pantas saja banyak teman-temanku bilang jika janda semakin terdepan. Astagfirullah,, mikir apa aku barusan. Mungkin itu semua sudah suratan dari yang Maha Kuasa, takdir yang harus di jalani. Sama halnya denganku, yang harus menikah dua kali, dan harus mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Kami pun akhirnya mengobrol sembari menunggu Umma sadar.


" Karena Aziz sudah datang, Abah dan Neng pulang saja. Biar Arga dan Aziz yang berjaga disini. Kasihan Abah dari tadi malam belum pulang, biar Ali yang mengantarkan pulang ya." Ujar Cak Arga sembai mengetik sesuatu di ponselnya, sepertinya mengirim pesan pada Ali supirnya yang entah ada dimana sekarang ini.


Sepeninggalan Abah dan Neng Atin, tak lama Pamanku juga berpamitan akan pulang, sebab hari sudah sangat malam, aku mengantarkannya hingga sampai ke parkiran. Sepanjang jalan Paman bercerita, jadi sebenarnya tadi mereka semua tidak sengaja bertemu di RS saat Paman sedang kontrol kesehatan paru-parunya.


" Gimana kabar Anni istrimu? Bukankah ini sudah waktunya melahirkan ya?" Tanya Cak Arga sembari menyesap kopi yang baru saja aku belikan di kantin bawah tadi sekalian mengantar Paman ke parkiran.


" Astagfirullah Cak, aku sampai lupa belum mengabari Anni." Aku merogoh ponselku di kantong jaket, dan segera mendial nomor Anni. Hingga panggilan ketiga tidak di angkat olehnya. Kemana dia?


" Kenapa? Tidak di angkat?" Cak Aziz melihat jam tangannya yang melindungi di lengan kirinya." Mungkin sudah tidur Ziz, ini sudah tengah malam." lanjutnya.


Aku segera melihat jam yang ada di ponsel." Ah, pantesan saja Cak, pasti sudah tidur ini. Aku sampai tidak mengecek jam dulu tadi." Aku terkekeh sendiri menyadari kekonyolanku.


" Ada apa? Sepertinya kamu sedang banyak pikiran?" Tanya Cak Arga menyelidik.


Apa aku harus menceritakannya pada Cak Arga disini, aku melihat ke arah ranjang, takutnya nanti tiba-tiba Umma bangun dan mendengar pembicaraan kami berdua. Memang setelah aku resmi bercerai dengan Nikmah waktu itu, aku langsung curhat pada Cak Arga tidak ada yang kututupi. Hanya pada Abah dan Umma saja aku tidak menceritakan yang sesungguhnya. Terlepas ini semua memang sudah menjadi pilihanku sendiri sebelum menikahinya, mungkin ini karma bagiku karena tidak mendengar peringatan dari kedua orangtuaku dulu. Menyesal pun percuma, semua sudah terjadi bahkan aku sudah mempunyai empat orang anak dengan Nikmah, dan sebentar lagi tambah satu dengan Anni jadi lima anak, aku harus bersyukur di beri Rizki. Aku hanya tidak ingin menambah beban pada mereka berdua.


" Tidak apa cerita saja, Umma pasti masih belum sadar." Ujarnya, yang seolah mengerti apa yang kupikirkan, Cak Aziz juga melihat ke arah yang sama, dimana Umma kami masih terlelap di atas sana.


" Sebelum aku kesini, tadi pagi Zikri juga masuk RS Cak, nggak tahu gimana Nikmah menjaganya, sampai kehujanan hingga ia demam tinggi tadi. Apa aku salah mengambil keputusan untuk berpisah dengan Nikmah?" Ujarku yang entah bagaimana bisa aku berkata demikian.


" Begitu ya.. Ya namanya hidup pasti ada saja ujiannya. Kamu yang sabar, pasti di balik semua cobaan hidup ada hikmahnya. Kamu pasti tahu kenapa Allah memberi cobaan berat pada keluarga kita, karena kita mampu untuk menyelesaikannya. Masalah perpisahan itu, Cacak rasa sudah benar, pria mana sih yang mau berbagi dengan wanitanya, apalagi ini pasangan halal kita. Sudah berdoa saja yang terbaik untuk semuanya. Lalu gimana kondisi Zikri sekarang? Seharusnya jangan tinggalin dulu anakmu, kasihan 'kan Nikmah. Bukan Cacak membelanya, jika saat ini dia sedang berada di rumah sakit menunggu si bungsu, lalu anak-anakmu yang lain di rumah dengan siapa?" Tanya Cak Aziz padaku.


Degh!!..


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.