Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 48 - Histeris


Dua kali melakukan operasi kecil di kakinya, membuat Meyta merasa heran, bahkan wanita itu juga menanyakan alasan kenapa dirinya harus dibius total.


“Karena operasi kali ini adalah operasi yang ke tiga kalinya, Bu. Kemungkinan, rasa nyeri yang ibu rasakan pasca operasi juga lebih lama dibandingkan dua operasi kecil yang pernah kita lakukan.”


Meyta tak lagi mendengar penjelasan lebih lanjut yang diberikan oleh sang dokter karena obat bius yang diberikan sudah bereaksi. Meyta sudah tak sadarkan diri.


Dua jam lebih Meyta berada di ruangan operasi. Dengan penuh rasa cemas, Wirra, Mutiara dan neneknya menunggu tepat di depan ruang operasi. Sementara Anna menunggu di kediaman Meyta bersama Arkana.


Mereka semua diliputi rasa khawatir.


Bukan mengkhawatirkan proses operasi itu berjalan lancar atau tidak. Mereka sangat yakin kalau operasi pembedahan itu berjalan lancar, karena dokter yang menangani Meyta adalah salah satu dokter terbaik di Ibukota.


Yang mereka khawatirkan adalah reaksi Meyta saat mengetahui salah satu kakinya diamputasi.


Dan sepertinya, kekhawatiran mereka terbukti.


Usai menjalani operasi selama dua jam. Meyta dibawa ke ruang pemulihan. Dan setelah dua jam kemudian, Meyta dibawa ke ruang perawatan. Meyta masih belum menyadari jika tungkai bawah kakinya sebelah kiri sudah tak ada.


Wanita itu pikir, kakinya masih terkena efek bius hingga membuat dirinya tak bisa merasakan sebelah kakinya. Namun, betapa terkejutnya wanita itu saat seorang perawat membuka kateter urin, tanpa sengaja sang perawat lupa menutup kembali selimut yang menutupi kaki Meyta sedari tadi.


Meyta yang tak memercayai pandangannya, membuka seluruh selimut yang sejak tadi dipakainya.


Tubuh Meyta bergetar saat mendapati kaki kirinya hanya tinggal setengah. Mata wanita itu pun seketika mengembun.


Saat perawat keluar dari ruangan itu, Wirra pun menghampiri Meyta. Pria itu menyibak tirai yang menutupi ranjang di mana Meyta terbaring. Saat itu, Meyta hendak memegang lututnya yang terbalut perban.


Wirra mendadak merasa takut. Pria itu takut melihat reaksi apa yang akan Meyta tunjukkan saat tangannya sudah menggapai sebagian kakinya yang hilang.


“Aaaaaaaaaa!!!” Meyta berteriak saat dia sudah mengkonfirmasi dengan tangannya, kalau kaki kirinya kini hanya sampai bagian lutut.


Meyta menangis begitu kencang. Mutiara dan sang nenek yang tengah duduk di sofa yang berada di kamar perawatan itu pun ikut menangis sembari berpelukan.


Mereka ikut merasakan pedih yang Meyta rasakan.


Wirra menghampiri dan memeluk erat sang istri yang tengah menangis histeris.


“Mana kakiku, Wir?! Ke mana kakiku?!” teriaknya sembari memukuli sang suami.


Wirra tak mampu menjawabnya. Pria itu hanya membiarkan Meyta melampiaskan kepedihan yang dirasa sang istri. Wirra membiarkan Meyta memukuli dirinya.


Mungkin, dengan melampiaskan seluruh emosinya, Meyta bisa menjadi lebih tenang.


Namun, perkiraan Wirra meleset. Meyta malah semakin histeris. Wanita itu mendorong Wirra dengan kencang, lalu mencabut jarum infus yang tertanam di lengannya.


Meyta bahkan melemparkan botol infus itu ke arah Wirra.


“Siapa yang memotong kakiku?! Kenapa kalian memotong kakiku?! Siapa yang mengizinkan kalian memotong kakiku?!”


Meyta terus mengamuk. Wanita itu bahkan melemparkan seluruh barang yang ada di dekatnya. Mutiara bahkan hampir terkena pecahan gelas akibat perbuatannya.


“Mey, sadar Mey. Jangan seperti ini!” teriak Wirra. Namun, Meyta tetap tak mau mendengarnya.


Mutiara pun menangis histeris. Gadis yang beranjak remaja itu merasa sedih sekaligus takut. Dia tak tau harus berbuat apa untuk menghibur sang ibunda.


“Ayo kita keluar saja.”


“Tapi, Nek.”


“Rara sudah berjanji untuk terus berada di samping mama,” lirih gadis kecil itu.


“Kali ini, biar papa kamu yang menenangkan mama. Kita tunggu di luar.”


Wanita lanjut usia itu menarik tangan sang cucu dan membawa Mutiara keluar dari ruang perawatan.


Suara teriakan Meyta yang terdengar hingga luar kamar, membuat Mutiara menangis sesenggukan. Sesekali dia mengintip ke dalam kamar untuk memastikan kondisi emosional sang ibunda.


Sementara itu, di dalam ruang perawatan, Meyta yang sudah kehabisan barang, tak bisa lagi melampiaskan amarahnya dengan melempar. Kini wanita itu hanya bisa menjerit sembari memukuli kakinya yang baru saja diamputasi.


“Jangan begitu Mey. Kaki kamu baru selesai dioperasi, jangan sampai jahitannya terbuka dan kamu kaki kamu terinfeksi,” ucap Wirra. Sekuat tenaga pria itu menahan tangan Meyta agar tidak memukuli kakinya sendiri.


“Kamu sengaja kan, Wir?! Kamu sengaja meminta dokter untuk memotong kakiku agar kamu punya alasan untuk meninggalkan aku dan membawa Arka! Iya kan??”


“Aku tidak akan meninggalkan kamu, Mey. Tidak akan pernah,” lirih Wirra.


“Bullshit!” teriak Meyta.


Pria itu membawa Meyta dalam dekapannya. Wirra mendekap erat wanita yang pernah dia gilai itu. Wirra merasa bersalah pada wanita itu. Andai dia tak ngotot mengajak Meyta menikah, tentu wanita itu tak akan mengalami hal ini. Bahkan, mungkin Meyta bisa mendapatkan pria yang lebih tulus dibandingkan dirinya.


“Maafkan aku, Mey. Karena aku, kamu harus kehilangan kakimu. Tapi, aku janji Mey. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu.”


“Aku tidak butuh suami yang hanya menemaniku karena rasa kasihan!” ketus Meyta. Wanita itu bahkan berteriak dan mengusir Wirra dari sana.


“Aku mencintai kamu, Mey,” lirih Wirra.


Meyta yang sedari tadi meronta, seketika mereda. Wanita itu terdiam, hingga Wirra melepaskan dekapannya. Meyta menatap dalam netra kehitaman milik Wirra.


“Kamu yakin?” lirihnya.


“Kamu yakin, kalau kamu mencintaiku, Wir?”


Wirra menganggukkan kepalanya. Meyta menanggapinya dengan tersenyum sinis.


“Aku hanya melihat rasa kasihan di mata kamu, Wir,” ucap Meyta dengan bibir bergetar. Air mata wanita itu bahkan menetes dengan sendirinya.


“Walau tak sebesar dulu, tapi aku masih mencintai kamu, Mey. Aku sayang kamu. Namun, aku tidak bisa pungkiri kalau rasa cintaku lebih besar pada Anna, saat ini.”


Darah Meyta seketika mendidih saat mendengar ucapan Wirra. Napas wanita itu bahkan memburu.


“Dan kamu jangan khawatir, aku sudah memesankan kaki palsu terbaik, agar kamu bisa berjalan seperti orang normal lainnya.”


“Aku tidak butuh kaki palsu! Aku juga tidak butuh cinta kamu! Aku akan tuntut kalian semua. Akan aku tuntut kalian karena telah mengamputasi kakiku tanpa persetujuan!” teriak Meyta.


“Pergi kamu dari sini, Wir! Pergi!!!”


Wirra yang tak mau beranjak dari sisi Meyta, membuat wanita itu nekat dan lompat dari atas ranjang.


“Mey!” pekik Wirra. Pria itu panik saat melihat darah segar mencuat dari balutan perban di kaki Meyta. Wirra menekan tombol bantuan agar perawat segera datang.


Mutiara ikut para perawat yang datang sembari berlari ke kamar perawatan sang ibunda.


Gadis kecil itu menangis ketakutan saat sang ibunda mengamuk di lantai dengan kaki bersimbah darah. Beberapa saat kemudian, seorang perawat pria datang dan menyuntikkan sesuatu di lengan Meyta hingga membuat wanita itu tenang dan tertidur setelahnya.