Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 35 - Jatuh cinta lagi


Sejak kandungannya memasuki usia 36 Minggu, Meyta meminta Wirra untuk tak meninggalkannya walau hanya satu malam. Wanita itu mau jika sang suami terus menemaninya setiap malam.


Wirra tentu saja menuruti keinginan istri keduanya itu. Begitu juga dengan Anna. Istri pertama Wirra Pramudya itu, tidak akan mempermasalahkan walau Wirra tak mengunjungi dirinya sampai Meyta melahirkan.


Wirra dan Anna sama-sama tidak ingin terjadi satu hal yang buruk pada Meyta dan janin yang dikandungnya. Terlebih Wirra yang begitu menantikan kehadiran anak pertamanya. Pria itu ingin menjadi ayah sekaligus suami siaga yang selalu ada saat anak dan istrinya membutuhkan. Dia akan memberikan semua yang terbaik buat Meyta dan juga anak mereka.


Setiap pagi Wirra selalu menemani Meyta berjalan pagi di sekitar perumahan lebih dahulu, sebelum pria itu berangkat ke kantor. Wirra juga sering membawa pulang pekerjaannya, agar bisa tiba di rumah lebih cepat dan menemani Meyta.


Berkomunikasi dengan sang bayi yang ada di dalam rahim sang istri adalah kegiatan yang setiap kali dilakukan oleh Wirra. Rasa rindunya pada sang bayi yang belum dilahirkan itu, membuat Wirra tambah mencintai Meyta. Terlebih wanita itu terlihat semakin seksi dari hari ke hari.


Dan cintanya kepada Meyta semakin bertambah besar saat melihat Meyta bertaruh nyawa saat melahirkan anak mereka. Genggaman jemari Meyta yang sangat erat di tangannya saat proses persalinan, membuat Wirra bisa menerka seberapa besar rasa sakit yang istrinya rasakan, saat itu.


“Selamat ya, Pak, Bu. Anaknya laki-laki.”


Ucapan terima kasih dang ungkapan rasa cinta yang mendalam, adalah kalimat yang pertama kali dibisikkan oleh Wirra saat suara tangis bayi terdengar.


Meyta tentu saja begitu sumringah mendengarnya. Rasa sakit yang tadi dia rasakan saat proses persalinan hilang seketika saat mendengar tangisan pertama sang buah hati. Tenaganya yang terkuras saat proses persalinan seketika menjadi pulih setelah mendengar ungkapan cinta sang suami.


Meyta akhirnya menemukan alasan yang sangat tepat untuk kembali menjauhkan Wirra dari Anna. Dan Meyta langsung mengemukakan keinginannya pada Wirra begitu mereka tiba di rumah setelah tiga malam menginap di rumah sakit.


“Temani aku selama masa nifas, ya Wir. Jangan pernah tinggalkan aku satu malam pun. Kalau bisa kamu work from home. Karena aku masih menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Aku butuh banyak bantuan dan dukungan dari kamu.”


Wirra tak langsung menyetujui keinginan dari istri keduanya itu. Sisi keegoisan seorang Meyta kembali terlihat. Wirra pun sedikit kesal karenanya.


Dirinya sudah tak mengunjungi Anna selama hampir satu bulan. Haruskah dia kembali meninggalkan Anna selama 40 hari? Tak bisa dipungkiri, Wirra merasa ada bagian di hatinya yang kosong karena tak bertemu istri pertamanya itu.


Walau Anna sering mengunjunginya ke kantor dan membawakan masakan buatannya, Wirra merasa itu belum cukup. Wirra masih merindukan kelembutan Anna. Wirra juga merindukan bagaimana wanita itu mengurusinya dengan baik.


“Kamu tidak mau menemaniku?!” ketus Meyta.


“Bukannya aku tidak mau. Aku mau kok. Aku kan sudah bilang, aku akan menjadi suami dan ayah siaga. Tapi, untuk kerja dari rumah, sepertinya tidak bisa,” ungkap Wirra.


Walau sebenarnya Wirra bisa saja mengusahakan untuk meminta izin kepada atasannya agar dia bisa kerja dari rumah, tapi entah mengapa pria itu tak mau melakukannya. Itu semua karena Wirra tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu Anna dan menikmati hidangan buatan istri pertamanya itu setiap jam makan siang.


“Yasudah tidak apa-apa. Yang penting kamu selalu menginap di sini! Kalau pagi dan siang, ada ibu dan Rara yang bisa menemaniku,” ucap Meyta dengan wajah sedikit memberengut.


Wirra pun gegas memberikan kabar itu pada Anna, sembari meminta maaf karena lagi-lagi dirinya tak adil dalam membagi waktu pada kedua istrinya itu.


Walau merasa kecewa, tapi Anna berusaha untuk mengerti posisi sang suami. Wanita itu tak mau Wirra merasa bingung dalam mengambil keputusan. Biar dirinya saja yang mengalah untuk sementara waktu.


“Sekali lagi aku minta maaf ya, An.”


Dalam hati, Wirra berucap penuh syukur karena memiliki istri yang begitu pengertian seperti Anna. Wirra baru menyadari, ternyata dalam pernikahan itu, cinta bukanlah segalanya. Saling mengerti dan menghormati ternyata lebih penting dari sekadar rasa cinta. Wirra tak pernah menyangka, dirinya bisa kembali jatuh cinta pada seorang wanita selain Meyta.


Anna benar-benar telah mencuri hatinya.


“Kamu tidak perlu mengantar makan siang ke kantor, An.”


Ucapan Wirra seketika merubah mimik wajah Anna. Wanita itu terpaku.


“Biar aku yang datang setiap siang,” bisik Wirra. Sengaja Wirra mengatakan dengan suara sedikit pelan. Dia takut jika Meyta akan mendengar dan melarangnya mengunjungi Anna.


Anna yang tadi sempat terpaku, kini tersenyum sumringah mendengar ucapan sang suami. Dan senyum Anna semakin sumringah karena Wirra tak hanya datang untuk sekadar menyantap makan siang. Sang suami juga menyantap dirinya.


Wirra bahkan langsung menerkam Anna begitu sang istri membukakan pintu rumah untuknya. Beruntung asisten rumah tangga mereka sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, dan sudah meninggalkan kediaman Anna beberapa menit yang lalu. Hingga akhirnya Wirra bisa langsung menerkam Anna di mana saja.


Wirra bahkan tak peduli jika pintu rumah mereka masih terbuka karena pagar rumah sudah dikuncinya dengan rapat. Wirra langsung melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan oleh Anna dan menghempaskan wanita itu hingga terduduk di atas sofa.


Anna begitu bahagia. Tahun lalu dia menyaksikan bagaimana sang suami begitu buas menerkam Meyta. Kini, dirinya dapat merasakan hal yang sama.


Jika beberapa bulan belakangan dirinya berusaha menahan rasa malu untuk mengerang pelan, kini Anna tak dapat menahannya lagi. Bagaimana tidak, pria itu menyapu seluruh bagian tubuhnya. Tak ada satu inci pun terlewat dari sapuan lidah Wirra.


Anna sudah mulai mengerang saat Wirra mulai bermain di kedua bukitnya. Dan suara mengerang wanita itu semakin kencang saat Wirra berjongkok di hadapannya dan menyantap dirinya dengan begitu rakusnya di bawah sana.


Tubuh Anna menggelinjang wanita itu bahkan mencengkeram erat rambut Wirra.


Wirra mulai membuka seluruh pakaiannya dan menarik Anna hingga wanita itu merebahkan diri di atas karpet dan Wirra mulai menunggangi dirinya. Anna bahkan berteriak saat sang suami melaju dengan kecepatan penuh.


Setelah lebih dari satu minggu tak melampiaskan hasrat, ditambah rasa rindunya pada Anna, membuat Wirra begitu menggebu.


Anna terus berteriak saat Wirra menghujamnya dengan brutal. Teriakan wanita itu berhenti saat tubuhnya kembali menegang.


Siang ini, Anna benar-benar bahagia. Rasanya, dia ingin mengulangi permainan itu sekali lagi. Terlebih saat sang suami mengungkapkan rasa rindunya. Rasanya, dia tak ingin membiarkan sang suami keluar dari rumahnya. Tapi, Anna tak mau menambah masalah. Saat ini, Meyta lah yang lebih membutuhkan Wirra dibandingkan dirinya.


Anna dapat menerima dengan lapang dada saat sang suami kembali meninggalkan dirinya.


“Besok, aku akan kembali lagi. Dan kita akan mengulangi permainan tadi,” bisik Wirra.


Wajah Anna bersemu merah. Wanita itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum malu-malu.


“Pastikan tidak ada orang di rumah, besok. Aku akan datang lebih cepat.”