
Tidak harus mengandung, melahirkan dan menyusui untuk menjadikan dirimu seorang ibu yang baik. Seperti yang dialami oleh Anna. Tuhan memang memberikan takdir padanya sebuah penyakit yang membuat dirinya tidak bisa mengandung. Tapi, bukan berarti Anna tak bisa merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang ibu.
Beberapa hari ini, Anna begitu mensyukuri takdirnya. Mungkin Tuhan memang begitu menyayangi dirinya. Hingga dia tak perlu merasakan bagaimana rasa mual seperti yang melanda kebanyakan wanita hamil. Dia juga tak perlu merasakan bagaimana rasanya sakit saat persalinan dan pasca melahirkan.
Anna tidak perlu merasakan semua sensasi itu agar dia mendapatkan gelar ibu. Karena walaupun dia tidak bisa mengandung hingga menyusui seorang bayi, dia masih bisa menjadi sosok seorang ibu.
Kini, Anna tengah menahan haru sembari mendekap Arkana dalam gendongannya dan membantu Mutiara mengerjakan tugas sekolahnya. Bagaimana bisa dia tidak merasa begitu bahagia dan penuh rasa syukur. Dia tidak perlu melewati tahap-tahap seperti kebanyakan wanita untuk menjadi seorang ibu. Bahkan kini dia langsung memiliki dua anak dalam waktu bersamaan.
Sudah tiga hari, sejak Meyta tak sadarkan diri. Sudah tiga hari pula Anna mengasuh Mutiara dan Arkana.
Setiap pagi wanita itu menyiapkan sarapan untuk Mutiara dan neneknya. Anna bahkan tak lupa untuk menitipkan bekal sang suami kepada ibu kandung Meyta, saat wanita paruh baya itu bergantian menjaga menjaga Meyta ketika Wirra pergi bekerja.
Setiap malam Anna selalu terbangun dan memberikan sebotol susu yang dia racik dengan penuh cinta untuk anak tirinya— Arkana.
Anna benar-benar merasa bahagia menjalani hari-harinya sebagai ibu dari dua orang anak. Walau anak yang dia asuh adalah anak kandung dari adik madunya, Anna tetap merasa bahagia. Terlebih Mutiara yang begitu manja padanya.
Anna benar-benar merasa sangat dicintai oleh kedua anak itu. Kerepotan yang dia alami sejak membuka mata hingga kembali menutup mata di malam hari, begitu dia nikmati. Anna tak menganggapnya sebagai beban. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan anak-anak seorang diri, adalah impiannya. Anna benar-benar merasa sangat bahagia dengan peran barunya sebagai ibu
Namun, kebahagiaan itu nampaknya tak berlangsung lama. Karena secara ajaib Meyta sudah sadarkan diri di hari kelima. Bahkan kondisi wanita itu dinyatakan telah stabil.
“Di mana Arka dan Rara?” tanya Meyta begitu wanita itu sadar dari tidur panjangnya dan mendapati sang suami dan ibunda ada di sisinya.
Terang saja Meyta merasa begitu khawatir. Jika suami dan ibunya berada di dekatnya, siapa yang menjaga kedua anaknya? Di mana anaknya berada? Di rumah kah? Atau ada di luar ruangan tempatnya di rawat?
“ Kamu istirahat total dan jangan banyak pikiran, Sayang. Rara dan Arka sudah ada yang mengurusi. Kamu tenang saja,” ucap Wirra.
“Siapa?” tanya Meyta penasaran.
Apa sang suami menyewa seorang pengasuh untuk menjaga kedua anaknya? Kenapa suami dan ibunya begitu ceroboh hingga membiarkan seorang pengasuh bekerja tanpa diawasi?
Wirra pun memberitahukan kepada Meyta mengenai wanita yang mengasuh kedua anaknya.
“Anna?!” pekik Meyta.
Meyta menatap tajam sang suami. Alih-alih menyewa seorang jasa pengasuh anak, Wirra malah meminta Anna untuk menjaga kedua anaknya.
Wirra tercengang mendengar ucapan Meyta. Pria itu sebenarnya tak terima dengan ucapan wanita itu. Bisa-bisanya Meyta mengolok orang yang telah mengurus anak mereka. Terlebih orang itu adalah Anna, wanita yang kini sangat dicintainya. Wirra begitu dongkol. Tapi kondisi Meyta membuatnya tak dapat membantah ucapan istri keduanya itu. Wirra hanya bisa menghela napas panjang agar amarah tak menguasai dirinya.
“Aku gak mau tau, Wir. Selama aku masih dirawat intensif di rumah sakit, kamu harus menyewa pengasuh profesional untuk menjaga anak-anakku. Biarkan ibu yang mengawasinya. Jadi, ibu tidak perlu ikut ke sini menjagaku. Memangnya kamu tidak bisa menjagaku sendirian di sini sampai harus minta bantuan ibuku?!”
Wirra kembali menarik napas panjang. Dia tak mau emosi yang sedari tadi ditahannya meledak dan membuat kesehatan Meyta jadi menurun. Wanita itu baru saja tersadar setelah lima hari tak sadarkan diri. Tak mungkin dia mengajak Meyta berdebat, saat ini.
“Aku sudah terlalu banyak cuti. Jatah cutiku sudah habis. Dan proyek di kantor sedang banyak-banyaknya. Jadi, aku tidak bisa menemani kamu dari pagi hingga sore,” jelas Wirra.
“Mey, kamu ini baru sadar kok malah mengajak suamimu ribut, sih. Urusan anak-anak, biar Wirra yang mengurusnya. Kamu fokus saja dengan kesembuhanmu. Lagian, Anna mengurus Rara dan Arka dengan sangat baik kok.”
“Dari mana ibu bisa tau? Ibu kan selalu di rumah sakit. Bisa saja saat tidak ada siapapun dia menyiksa Arka yang masih bayi,” bantah Meyta.
“Mey! Cukup Mey. Kamu jangan keterlaluan begitu. Anna sudah sangat baik mau membantu mengurusi anak-anak kita saat kamu sakit seperti ini. Harusnya kamu berterima kasih pada dia, bukan malah memfitnah dia,” ucap Wirra. Pria itu benar-benar tak bisa lagi menahan amarahnya saat Meyta terus menerus menghina wanita yang dicintainya.
Meyta pun menatap Wirra dengan penuh amarah. Wanita itu kembali teringat kejadian yang dia alami sebelum tak sadarkan diri. Sebelum dirinya menjadi korban tabrak lari.
Meyta pun kembali teringat saat Wirra memandang Anna dengan tatapan penuh cinta dan penyesalan.
Harusnya saat itu dia berada di pengadilan agama dan mengurus perceraiannya dengan Wirra. Tapi, dengan kondisi dirinya saat ini, tak mungkin rasanya dia menggugat cerai sang suami.
Dokter mengatakan jika ada bagian kakinya yang patah hingga dirinya harus total mengistirahatkan kakinya. Dia tak mau Wirra lepas tanggung jawab padanya. Bukankah dia mengalami kecelakaan itu karena kebohongan Wirra padanya?
Wirra harus bertanggung jawab.
“Aku menyesal karena pernah menerima lamaran kamu, Wir. Karena menikah dengan kamu, aku harus menahan rasa sakit hati setiap kamu menginap di rumah Anna. Dan sekarang, aku harus mengalami kecelakaan. Ini semua karena kamu, Wir,” lirih Meyta.
Wirra yang tadinya dikuasai amarah, kini mendadak sayu. Pria itu mengakuinya. Memang dialah yang menjadi penyebab kecelakaan itu. Andai dia menepati janjinya pada Meyta untuk tak bertemu Anna, kecelakaan itu pasti tak terjadi.
Wirra menggenggam jemari Meyta, “maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar merasa bersalah atas kecelakaan ini. Aku akan merawat kamu sampai kamu benar-benar sembuh. Aku akan terus berada di samping kamu, sampai kamu pulih,” ucapnya.
Meyta tersenyum tipis. Perasaan bersalah Wirra akan dia gunakan untuk memanfaatkan pria itu. Bukankah Anna juga seperti itu? Saat wanita itu sakit, dia meminta Wirra menemani wanita itu hingga sang suami mengabaikan dirinya. Dan sejak itu, sikap Wirra perlahan berubah.
Meyta pun memanfaatkan kesempatan itu. Wanita itu akan menggunakan rasa bersalah Wirra agar pria itu terus berada di sampingnya dan melupakan Anna.