Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Trauma Masa Lalu..


Kholil_PoV


*


" Sayang aku berangkat dulu ya, kamu baik-baik di rumah, terus juga kamu fokus saja jagain Erika tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah, biar saja nanti Mbak Sum yang mengerjakan semuanya, oke sayang." Pamitku seraya memberikan satu kecupan sedikit lama di keningnya.


" Iya Abangku sayang hati-hati di jalan ya." Balasnya dengan tersenyum manis seperti biasa.


Sebelum aku berbalik pergi tak lupa aku mencuri kecupan pada sepasang benda kenyal berwarna sedikit merah warna alami miliknya yang tentunya itu menjadi area favoritku, karena rasa candunya. Awalnya aku hanya ingin mengecup, namun apalah daya aku justru memperdalam dengan mengul*m juga melum*tnya. Seperti yang aku katakan tadi, rasanya sungguh candu bagiku, sulit untuk berhenti.


" Iishh, Abang kebiasaan deh selalu tiba-tiba!" Gerutunya seraya memukul lenganku gemas.


" Salahkan saja milikmu yang selalu menggoda Abang! Ya sudah aku pergi dulu, Assalamualaikum," Ujarku tersenyum lebar karena berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan.


Pagi ini aku memang berangkat lebih pagi karena sudah ada janji dengan orang gudang untuk mengecek barang yang akan di kirim ke luar negeri pukul delapan pagi nanti. Jika aku harus pergi ke pabrik lebih lebih dulu, itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama, maka dari itu lebih baik aku langsung saja kesana, setelah itu baru ke pabrik, karena kemarin pun aku sudah lebih dulu ijin ke kepada bos.


Baru saja masuk ke dalam mobil, seketika aku teringat akan map yang harus aku bawa ke gudang, sebab disanalah nota barang yang akan di kirim, sehingga membuatku harus masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambilnya.


Aku berjalan menuju ke arah kamar, dan tidak kudapati Anna disekitarnya, mungkin saja dia ada di dalam kamar, begitu pikirku. Namun saat tiba di depan kamar aku mendengar suara tangis Erika, aku bergegas masuk kamar, dan mendapati putriku nangis kejer di atas ranjang kecilnya.


Tak kulihat Anna di dalam pun, segelahlah kugendong dan kutimang sayang agar dia diam dan kembali tenang." Cup,, cup,, Sudah ya ini Ayah sayang. Kemana Bundamu? Bagaimana bisa anaknya nangis dia tidak dengar!" Monologku mulai tersulut emosi.


Aku akui aku paling tidak suka melihat atau mendengar seorang bayi atau pun anak kecil menangis kencang seperti ini. Aku pasti selalu panik dan juga marah-marah kepada orang di sekitarnya, bahkan sekalipun itu kedua orangtuaku sendiri atau bahkan saudaraku pasti terkena dampak kemarahanku.


Sebab aku mengalami trauma berar di masa lalu yang hingga sampai sekarang masih terasa, seperti baru kemarin aku mengalaminya. Tak lama aku mendengar suara langkah seseorang itu pasti Anna istriku, karena saat ini aku sedang membelakangi pintu.


Aku mendengar dia bertanya padaku, namun aku sengaja tidak menjawabnya karena sedang fokus meninabobokan Errika, yang hampir tertidur. Hingga tak lama kulihat putri cantikku sudah benar-benar terlelap, pun langsung kuletakkan kembali ke ranjangnya.


Aku pun keluar kamar di ikuti Anna setelahnya dan kami berhenti di depan kamar namun agak jauh agar tidak menganggu Erika yang memang sedikit sensitif dengan suara-suara di sekitarnya, yang pasti itu membuatnya terjaga walaupun suara itu begitu pelan tetap saja ia kedengeran.


Aku menatapnya sedikit tajam, tentu saja aku kesal dengannya, karena ini bukanlah yang pertama kali dia membuat putriku menangis. Aku spontan membentaknya, memarahinya dengan tuduhan yang aku sendiri tidak tahu. Walau ia sudah menjelaskan alasannya tidak mengetahui Erika bangun karena mencuci piring di dapur, tetap saja itu tidak membuat amarahku surut.


Beberapa saat kemudian barulah aku tersadar saat ia mengweuarkan semua uneg-uneg yang ia pendam selama ini. Ada rasa sedikit menyesal dalam diriku, padahal aku sangat mencintai wanita yang telah malahirkan seorang putri, seorang anak yang selalu aku harap-harapkan.


Namun mendengarnya terus menyindirku, tentu saja aku kembali kesal. Hingga tanpa sadar aku mencekik lehernya karena ia terus saja menyulut emosiku yang sebenarnya sudah lama tidak pernah lagi mengamuk pada oranglain, namun nyatanya istriku sendiri yang membuatku kembali pada masa itu, dimana aku kehilangan Adik yang aku cintai, Adik yang sudah lama aku tunggu kelahirannya, akibat kecerobohan dari kedua orangtuaku sendiri, sehingga membuatku mengamuk bahkan hampir membunuh Mamaku sendiri dengan celur*t kecil milikku.


" B-bang, sa,, kiittt,, le,,pas,,sin.." Rontanya berusaha melepaskan cengkramanku di lehernya. Namun aku sudah gelap mata, sehingga menulikkan telingaku.


Dan dengan cepat aku mengambil kunci yang selalu aku bawa di kantong celana lalu membuka laci nakas di samping Anna berdiri, ya celur*t kecil milikku berhasil kutodongkan tepat di leher jenjangnya.


" Uuhukk,, uuhuukk.." Anna terbatuk begitu cengkraman tanganku kulepas dan kugantikan dengan celurit kecil.


" Sayang, kamu tidak apa-apa? Maafkan Abang ya, sungguh Abang tidak bermaksud menyakitimu." Sesalku seraya membingkai wajah cantiknya, namun baru saja menyentuh kulit mulusnya ia segera menepis kedua tanganku.


Aku membiarkan saja, karena mungkin dia memang masih sangat kesal dan juga marah atas perbuatanku yang sungguh tidak bermoral dan tidak terduga padanya. Ya baru kali ini aku menyakitinya dengan sangat.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara tangis Erika yang sangat kencang. Tanpa menunggu lama Anna segera berdiri dan masuk ke dalam kamar, aku pun mengikutinya, dan terus berusaha meminta maaf padanya yang saat ini sedang menggendong Erika, mencoba menenangkan putri kami.


" Maafkan aku sayang. A-aku,, sungguh,, aku bahkan tidak sadar melakukan hal itu. Maaf ya sudah membuatmu ketakutan dan mungkin kecewa dengan Abang, tapi aku sangat mencintai kamu sayang.." Lirihku memelas, agar Anna mau memaafkanku, karena aku tahu dia pun sangat mencintaiku sama halnya denganku.


" Pergilah bekerja Bang, biarkan aku sendiri dulu untuk saat ini." Ujarnya tegas tanpa menatap ke arahku, aku bisa memakluminya yang mungkin sangat terluka hatinya.. Dan ucapannya secara tidak langsung bersifat mengusirku dari rumahku sendiri.


" Baiklah kalau begitu Abang berangkat bekerja dulu, eum,, Assalamulaikum." Pamitku ingin memeluk dan mengecup keningnya seperti biasa sebelum aku berangkat bekerja. Namun aku sadar ia masih sangat marah padaku, maka aku biarkan dulu.


" Wa'alaikumsalam." Sahutnya pelan masih dengan membelakangiku.


Setelah mengambil map yang ketinggalan aku pun segera melangakh pergi. Dan aku baru ingat jika ini sudah sangat terlambat, aku harus bergegas ke gudang yang ada di daerah barat.


Ku tanjap gas mobil dengan sedikit kencang hingga beberapa saat kemudian sampailah aku di gudang, bisa kulihat seseorang yang menjadi kepala gudang berdiri mondar-mandir di depan gerbang masuk sana.


" Maafkan saya ya Pak, ada masalah sedikit tadi di rumah. Apakah semua barangnya sudah siap yang akan di kirim?" Tanyaku begitu telah masuk ke dalam dan berada tepat di hadapannya.


" Aduh Pak, sudah sedari tadi saya tunggu-tunggu lho. Ini bos juga terus menghubungi saya. Janjian jam berapa datangnya jam berapa!" Dengusnya kesal, ya aku tahu ini memang kesalahanku, tapi mau bagaimana lagi yang namanya masalah tidak tahu datangnya kapan.


" Ya sekali lagi saya benar-benar minta maaf, mari kita langsung cek saja, karena sebentar lagi barangnya akan di kirim." Ajakku padanya dan bergegas melangkah masuk, dan mau tidak mau orang tadi pun mengikutiku sambil menggerutu tidak jelas, pasti dia terus mengumpatku, terserahlah.


Kini pikiranku bercabang, antara memikirkan pekerjaan dan juga memikirkan istriku di rumah. Semoga dia baik-baik saja, dan mudah-mudahan saat aku pulang nanti dia sudah memaafkan aku.


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.