Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Perempuan Yang Cantik.


Aziz_PoV


*


" Ya Allah Cak, aku sampai nggak kepikiran anak-anakku yang lain. Sungguh aku begitu panik saat mendengar Umma di bawa kesini tadi. Di tambah keadaan Zikri, belum mikirin Anni yang mau melahirkan. Pening sekali kepalaku ini Cak, Astagfirullah,, maaf Cak." Desisku yang justru mengeluh pada Cacakku.


" Ya, Cacak bisa mengerti apa yang kamu tengah hadapi saat ini. Sudah istirahatlah, besok pagi balik saja ke kota bantuin Nikmah menjaga putramu, Anni masih belum melahirkan 'kan? Sudah sana." Titahnya yang menuyuruhku untuk tidur, sebab malam hampir berganti pagi.


Aku segera mengangguk, " Baiklah, Aziz istirahat duluan Cak." Aku langsung merebahkan diriku di atas sofa panjang yang aku duduki. Tak kupungkiri tubuhku memang sangatlah lelah hari ini.


" Ya, tidurlah, aku mau ngecek Umma sebentar," Cak Arga berjalan mendekati ranjang Umma dan duduk di kursi samping ranjang.


*


Entah pukul berada sekarang ini, aku merasa ponselku bergetar di atas meja, aku langsung terjaga dan menyambar ponselku, ternyata ada panggilan masuk dari Anni istriku, tanpa menunggu lama lagi segera ku geser tombol hijau untuk mengangkat panggilannya.


" Hallo, Assalamualaikum, sayang. Maaf aku baru bangun." Sapaku dengan suara serak khas bangun tidur.


" Wa'alaikumsalam, Aziz ini Bapak. Kamu sekarang dimana? Ini Anni sedang di rumah Bu Bidan mau melahirkan, kami membawanya tengah malam tadi, tapi hingga sekarang bayinya masih belum keluar." Sahut di seberang sana, yang ternyata adalah suara Bapak mertuaku.


Membuatku langsung terhenyak, saking terkejutnya aku langsung berdiri, kedua mataku pun terbuka lebar. Padahal tadinya mataku rasanya masih lengket sekali.


" Astagfirullah, Anni sudah mau melahirkan Pak? Baiklah, Aziz akan segera pulang Pak, tunggu ya Pak, Assalamualaikum." Pamitku yang segera mematikan setelah mendengar balasan dari beliau.


" Ada apa Ziz?" Tanya Cak Arga yang sudah berdiri masih di tepi ranjang, menatapku bingung, sepertinya Cak Arga juga baru saja bangun, mungkin mendengar ucapanku saat menerima telepon barusan.


" Itu Cak, Anni sudah mau melahirkan, tengah malam tadi di bawa ke rumah Bidan, namun hingga sekarang bayi kami belum juga keluar. Aku akan segera berangkat kesana setelah sholat subuh, Cacak nggak apa-apa aku tinggal?" Tanyaku menatapnya tidak enak hati.


" Oh, ya sudah kamu pergi saja. Nggak apa-apalah istrimu lebih membutuhkan sekarang, pergilah semoga Ibu dan bayinya sehat semua. Cacak yang akan menjaga Umma, mudah-mudah cepat sadar juga agar bisa melihat cucunya yang akan segera lahir hari ini, Aamiin." Ujarnya memberi semangat dan doa.


" Aamiin Cak, terima kasih. Kalau begitu Aziz pergi sekarang Cak. Tapi mampir ke Mushola dulu ini, takut nggak keburu nanti di jalan, ini sudah jam setengah lima ternyata." Ucapku sembari menarik tas kecilku yang ada di atas meja.


" Ayo bersama. Cacak juga mau sholat sekalian mau beli teh hangat di bawah." Sahutnya. Kami pun keluar dari ruang rawat inap Umma, langsung berjalan menuju ke Mushola depan sana.


Satu jam kemudian aku sudah hampir sampai di kampung halaman istriku. Saat baru saja memasuki alas kecil, aku kembali di kejutkan dengan mereka-mereka yang berwajah menyeramkan lewat di depanku juga samping-samping, ada-ada saja. Aku terus memencet klakson motor agar mereka tidak menghalangi jalanku.


Hingga sampailah aku di pekarangan rumah Bu Bidan, lalu bergegas turun sedikit berlari masuk ke samping rumahnya. Baru akan mencari keberadaan Bapak mertuaku, namun dari kejauhan aku sudah melihat beliau tengah duduk di bangku tunggu sendirian.


" Assalamualaikum Bapak." Dengan nafas yang tidak beraturan aku menyapa dan menyalami beliau.


" Eh, sudah datang kamu. Ya Wa'alaikumsalam. Itu Anni di temani Ibu_


Belum selesai Bapak berucap, terdengar suara tangisan bayi memekik begitu kencang dan keras dari arah dalam ruangan, aku maupun Bapak ikut melihat ke arah ruangan yang tertutup.


" Alhamdulilah,," Seruku dan Bapak bersamaan.


" Ayo itu anakmu sudah lahir." Ajak Bapak untuk masuk ke dalam, aku pun mengikutinya.


Kami berdua masih menunggu di depan pintu karena pintunya masih tertutup, hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka, dan Ibu keluar dengan membawa kantong kresek besar di sebelah tangannya.


" Lho Nak Aziz sudah datang! Masuklah, Anni sedang di bersihkan begitu pun dengan bayimu." Titah Ibu mertua padaku. Tanpa menunggu lagi aku segera masuk dan melihat Anni masih terbaring lemah di atas ranjang kecil dalam keadaan sudah setengah polos, bawahnya hanya di tutupi oleh kain jarik. Namun pemandangan indahnya, bayi mungil kami yang berwarna merah itu di letakkan di atas dadanya dalam keadaan polos, sepertinya langsung di lakukan respon untuk menyusui dini, sama halnya seperti anak-anakku dulu.


" Abang—akhirnya Abang datang, aku takut sekali tadi." Segera ku kecup keningnya sedikit lama. Tak peduli di dalam ruangan ada Bidan dan asistennya.


" Maafin Abang yang bau datang sayang," Ku genggam tangan kanannya lalu kemudian ku kecup." Terima kasih, kamu telah melahirkan buah hati kita dengan selamat. Kamu wanitaku yang hebat." Pujiku sembari menatap bayi kami yang sedang mencari-cari put*ng Ibunya, lucu sekali, kami berdua pun ikut tersenyum melihatnya. " Lihat, bayi kita sepertinya mempunyai sifat pantang menyerah." Anni pun ikut terkekeh sambil menahan rasa sakit akibat jahitan di area sensitifnya.


" Sudah selesai, bayinya kami bersihkan dulu ya Mbak, selamat lho Masnya bayinya perempuan, cantik sekali." Ujar Bu Bidan menatapku sembari mengangkat kembali bayi kami untuk segera di pakaikan pakaian, setelah mendapatkan Asinya walau sedikit. Sementara Anni juga tengah di bersihkan oleh Mbak asistennya Bidan.


Setelah semuanya selesai, aku menggendong Anni keluar ruangan bersalin kemudian kami berjalan menuju ruangan perawatan. Ku letakkan hati-hati istriku di atas ranjang yang ukurannya sama dengan yang tadi namun posisinya tidak terlalu tinggi.


Tak lama Bidan menyerahkan bayiku kembali padaku, setelah sudah rapi, dan melakukan banyak pemeriksaan dan segera kugendong sembari melantunkan Adzan di telinga kanannya lalu terakhir Iqomah di telinga kirinya.


" Bayi kita sangat cantik sayang, sama seperti Aminya." Ku letakkan bayi kami di samping istriku.


" Ami?" Beo Anni menatapku bingung.


" Ya, Ami. Jadi anak kita nanti akan memanggilmu dengan sebutan itu, sedangkan Abi adalah panggilanku." Ujarku seraya mengelus puncak kepalanya lalu turun bergantian mengelus pipi merah bayi kami.


" Jadi nama bayi kita yang cantik ini siapa Abi?" Tanya Anni tanpa mengalihkan pandangannya pada bayi mungil yang sedang terlelap itu.


" Namanya Ziana Raudhotul Jannah, bagaimana bagus tidak? Yang artinya adalah Perempuan cantik yang di ridhoi Allah masuk surga. Aamiin.." Ujarku menatap lekat pada bayi yang kulitnya begitu merah.


" Aamiin, nama yang cantik dan juga indah Abi." Sahut Anni kembali tersenyum menatap putri kecilnya.


Ceklek..


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dari luar, membuat atensiku bersama Anni teralihkan dan munculkan Ibu dan Bapak mertuaku, berjalan menghampiri kami.


" Itu Ibu sudah belikan kamu nasi pecel, gih sarapan dulu Ziz, bareng saja sama Bapak itu." Ujar Ibu mertuaku menunjuk Bapak yang sedang duduk di kursi yang sudah di sediakan di ruangan ini.


Aku pun mengangguk dan kembali menatap Anni yang ternyata juga tengah menatapku." Abi sarapan saja dulu." Titahnya memberiku senyuman hangat.


Belum aku menjawabnya, terdengar suara ketukan dari luar, tak lama pintu pun kembali terbuka. " Permisi, ini saya bawakan makanan buat sarapan Ibu bayinya ya." Ujar Mbaknya sembari meletakkan nampan berisi makanan di atas nakal samping ranjang.


" Terima kasih Mbak." Ucapku, sebelum Mbaknya keluar ruangan.


" Ya sudah Abi sarapan saja dulu, setelahnya Abi suapin kamu." Aku usap kembali puncak kepalanya sebelum melangkah ke arah Bapak dan Ibu yang sedang menyantap sarapan.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.