
Sejak Meyta dinyatakan hamil, wanita itu kerap meminta Wirra untuk terus tinggal di sisinya. Bahkan, Wirra hanya bisa menginap di kediaman Anna hanya satu hari dalam sepekan karena Meyta beralasan dia tak dapat tertidur jika tak dalam pelukan Wirra.
Dengan berat hati Wirra pun menuruti kemauan Meyta. Dia tak ingin terjadi hal yang buruk pada Meyta dan janinnya. Sudah lama dia menantikan hal ini. Sudah lama dirinya memimpikan jika Meyta mengandung anaknya.
Anna pun tak merasa keberatan akan hal itu. Anna yang begitu mengerti kondisi Meyta, dengan senang hati membiarkan sang suami menghabiskan banyak waktu dengan adik madunya itu.
Anna membiarkan Wirra untuk menjadi calon ayah siaga. Anna mempersilakan Wirra untuk terus mendampingi Meyta di masa kehamilan adik madunya itu. Karena Anna sadar diri, jika dia tak pernah bisa mewujudkan hal itu.
Meyta tentu saja merasa besar kepala. Wanita itu lagi-lagi menguasai Wirra. Setiap malam Wirra terus mendekapnya. Pria itu tak pernah mengatakan tidak atas semua keinginan istri tercintanya.
Namun, ada satu permintaan Meyta yang sulit dikabulkan oleh Wirra.
“Untuk apa sih harus mengajak Anna?? Kalau kamu mau berlibur, kita bisa berlibur bertiga bersama Rara.”
“Wir ... Ini bukan keinginan aku. Ini keinginan anak kamu. Mungkin, dia mau kenal dengan ibu tirinya.”
Wirra menghela napas berat. Dia tak mungkin mengajak Anna turut serta dalam liburan keluarganya bersama Meyta. Wirra takut jika Anna merasa cemburu karena Meyta selalu bergelayut manja padanya.
Bukan hanya itu, Wirra takut Anna merasa bersedih melihat perut Meyta yang membuncit. Istri pertamanya itu sudah dinyatakan tak bisa memiliki keturunan. Bagaimana perasaannya jika melihat istri kedua sang suami kini berbadan dua? Anna pasti merasa iri hati.
“Kita tidak perlu berlibur ke tempat yang jauh. Kita bisa piknik ke kebun raya dan makan bersama. Kita pergi pagi-pagi sekali dan pulang sebelum matahari terbenam,” usul Meyta.
Lagi-lagi Wirra menghela napas berat. Pria itu hanya diam dan tak memberikan tanggapan
“Yasudah, kalau kamu tidak mau mengajak Anna, biar aku saja yang mengundangnya! Aku akan menghubungi dia sekarang,” ucap Meyta kesal. Wanita itu bahkan gegas mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Anna.
Namun, belum sempat Anna menjawab panggilan telepon itu, Wirra sudah merampasnya.
“Biar aku saja yang mengatakan pada Anna. Tapi, aku minta izin untuk menginap di sana, besok malam.”
Wajah Meyta seketika memberengut. Padahal dia sudah mendapatkan banyak waktu dengan Wirra, tapi jika pria itu menginap di kediaman Anna walau hanya satu malam, itu sudah membuat Meyta merasa kesal.
“Kalau kamu tidak mengizinkan aku menginap di sana, tidak akan ada liburan bersama Anna. Kita akan pergi berlibur bertiga saja,” tegas Wirra.
“Kamu mengancam aku, Wir?! Bisa-bisanya kamu mengancam istri yang sedang mengandung anak kamu! Padahal liburan bersama ini keinginan anak kamu! Jika bukan karena mengidam, aku juga tak ingin berlibur bersama wanita lain!”
“Aku tidak mengancam, Sayang. Aku berusaha untuk bernegosiasi dengan kamu. Aku juga butuh kesiapan untuk membujuk Anna. Belum tentu dia langsung menyetujui untuk pergi berlibur bersama kita,” jelas Wirra.
Meyta pun berdecak kesal. Mau tak mau, dirinya membiarkan Wirra untuk menginap di kediaman Anna, besok malam.
Namun, Wirra memutuskan untuk menginap di sana selama dua malam. Entah mengapa, Wirra begitu merindukan masa-masanya bersama Anna. Anna yang selalu bersikap lembut, Anna yang selalu menyiapkan semua keperluannya dan Anna yang selalu memasak untuknya.
Meyta pun mengamuk saat Wirra menghubungi wanita itu dan meminta izin untuk kembali menginap di kediaman Anna.
“Aku belum berhasil membujuk Anna,” lirih Wirra.
“Kalau begitu biar aku saja yang membujuknya. Jika aku mengatakan ini keinginan anakmu yang sedang aku kandung, dia pasti akan langsung setuju!” ketus Meyta.
“Aku hanya menginap satu malam lagi dan berusaha membujuk Anna. Yasudah ya, Sayang. Aku sudah sampai di rumah Anna. Besok aku akan kembali ke sana. I love you.”
Wirra tak membiarkan Meyta membalas ucapannya. Pria itu langsung memutuskan panggilan teleponnya. Meyta bahkan sampai harus membanting ponselnya ke kasur karena merasa kesal.
Namun, Meyta tak kehilangan akal. Dia tau jika Wirra tak berani menyampaikan pesan itu pada Anna. Meyta pun langsung mengirimkan pesan singkat pada istri pertama dari suaminya itu.
Hingga saat Wirra dan Anna selesai menyantap makan malam, Anna menanyakan hal itu pada sang pujaan hati.
“Memangnya Meyta mau berlibur ke mana, Mas? Katanya dia ngidam berlibur bersamaku?”
Wirra tersentak. Pria itu tak menyangka jika Meyta benar-benar akan langsung menyampaikannya pada Anna. Wirra terlihat gugup dan tak nyaman saat bersitatap dengan Anna.
“Maaf kalau Mey membuat kamu tersinggung. Kamu tidak harus menuruti keinginannya, An. Kamu sudah banyak berkorban sejak Meyta hamil,” lirih Wirra. Pria itu bahkan tak mampu untuk menatap tepat pada mata Anna.
Wirra sangat yakin jika liburan bersama kedua istrinya itu akan sangat menyakitkan bagi Anna. Dia tak ingin Anna kembali mengorbankan diri untuk Meyta.
“Aku tidak masalah, kok. Aku malah senang sekali jika diajak berlibur bersama Mey. Setidaknya, aku bisa lebih dekat dengan calon anak kamu, Mas. Aku senang.”
Ucapan Anna benar-benar membuat Wirra terkejut. Wirra tak menyangka kalau istri pertamanya itu malah merasa senang akan undangan liburan bersama dari Meyta. Benarkah?
“Kamu tidak berpura-pura senang kan An? Kamu tidak perlu melakukannya jika kamu merasa tak senang. Jangan terlalu banyak berkorban untuk Mey. Aku bisa membujuknya untuk liburan tanpa kamu,” jelas Wirra.
“Justru aku akan sangat sedih jika tak diajak berlibur, Mas.”
“Ann ... Mey saat ini sedang sangat manja. Dia pasti akan terus menempel padaku. Dia tidak mungkin mau membagi perhatianku. Apa kamu—”
“Tidak apa-apa, Mas. Aku paham kok. Katanya, wanita hamil memang ada yang seperti itu. Justru harusnya Mas senang. Ada loh, wanita yang lagi hamil malah membenci suaminya dan tak mau dekat-dekat dengan suaminya.”
Wirra menatap Anna dengan tatapan penuh iba. Ada rasa menyesal yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Andai Anna bisa mengandung, dia pasti tak akan punya alasan untuk menikahi Meyta. Dia pasti tak akan punya alasan untuk menyakiti wanita sebaik Anna.
Kini Wirra benar-benar tersadar. Benar apa yang selalu diucapkan sang ibunda padanya. Anna adalah seorang wanita yang berhati malaikat. Lebih tepatnya, Anna adalah seorang manusia dengan paras dan hati yang terlalu cantik. Wirra merasa beruntung bisa memiliki Anna.