
Antoni_PoV
*
Namaku Antoni Ghani, anak pertama dari tiga bersaudara, layaknya anak sulung pria dimana-mana selalu paling di sayang, paling unggul. Terlebih aku anak laki-laki satu-satunya, yang sudah pasti paling di sayang oleh kedua orangtuaku.
Namun sebagai anak sulung, peranku juga tak main-main, harus siap menjaga, melindungi Adik-adikku dari orang lain yang berusaha untuk menyakiti mereka, apalagi kedua Adikku perempuan semua, lemah, sukanya nangis. Namun aku beruntung mempunyai Abang walau berbeda Ibu, dia adalah panutanku, sayangnya saat sudah remaja Bang Armand sudah di ajak merantau oleh Pamanku ke pulau seberang, kami jadi tidak lagi bertemu, kami semua putus hubungan, tidak ada yang bisa di hubungi untuk sekedar menanyakan kabar. Dan ternyata aku juga mempunyai dua Mbak perempuan yang juga berbeda Ibu, entah Bapakku ini berapa kali nikah dengan perempuan, jujur nanti jika aku sudah menemukan jodohku, aku inginnya menikah sekali seumur hidup, kasihan anak-anakku jika nasibnya seperti aku ini.
Namun aku ini terbilang anak yang bandel, nggak suka di nasehatin oleh orang lain, ya watakku juga keras kepala, ku akui aku sering membentak Ibuku, Bapakku juga kedua Adikku, walau setelahnya aku menyesal, terlebih kadang aku tak segan memukul kedua Adikku saat aku menahan rasa kesal, mereka yang menjadi pelampiasanku.
Namun setelah melakukannya, aku juga langsung menyesali perbuatanku yang badung ini. Aku memang tipikal pria yang humoris kata kebanyakan orang, namun di balik sifat humorku itu, tersimpan sifat keji dan pemarah yang bisa merusak apapun jika aku sedang marah besar.
Sudah beberapa bulan ini, Adikku Anniyah bekerja di kota ikut Budheku Indhun. Katanya kerja ikut bantu Budhe di warung, juga bantu ngasuh anaknya yang masih kecil itu. Entah di bayar berapa si Niyah ini, kok mau-maunya saja di ajak ke sana. Aku tahu gimana sifat Budhe Indhun ini, selain pelit, dia juga jahatnya minta ampun, dulu aku sering kali di bentak olehnya, namun selalu di bela anak sulungnya yang bernama Johan yang seumuran denganku.
Tibalah saatnya lebaran. Lebaran adalah momentum khusus untuk acara berkumpulnya anggota keluarga. Dan sepulang dari rumah si Tommi aku di kejutkan oleh kedatangan Adikku Anniyah yang pulang-pulang ternyata membawa seorang pria, yang statusnya adalah sebagai suaminya, bahkan Adikku sudah dalam keadaan mengandung.
Hah! Aku sedikit kecewa, sebab usianya jauh di atasku beberapa tahun, Adik iparku jauh lebih tua dariku, mana malam itu juga aku di usir dari kamarku sendiri, akhirnya aku memilih tidur di rumah Nenekku. Tidak aku sangka ternyata Niyah dan suaminya juga datang ke rumah Nenek pagi harinya.
Niyah berusaha membangunkanku menyuruhku untuk memetikkan buah kelapa di belakang rumah untuk Ibu, namun tidak aku hiraukan. Hingga kemudian aku mendengar suara keributan di belakang rumah, terpaksa aku bangun untuk sekedar melihat sekalian mau mandi biar segar. Eh malah aku melihat Niyah yang mau memanjat pohon kelapa, namun di halangi oleh suaminya itu, beberapa menit menunggu, tak ada hasil, suaminya ternyata tidak bisa memanjat pohon kelapa, namanya orang kota, ya seperti itu, songong. Tanpa berpikir panjang aku segera memanjat naik, memetik beberapa biji kelapa agar mereka cepat pulang.
Hingga siang harinya, si Niyah ngedrama minta buah Mangga muda, yang katanya ngidam, karena tak ingin mendengar regekannya, aku segera pergi ke alas kebetulan aku sering kesana, banyak pohon buah juga, siapa tahu disana pohonnya sedang berbuah. Ternyata si Aziz suami Niyah pengen ikut, ya sudahlah aku ajak, berkat Mangga aku bisa menaiki motornya bahkan menyetirnya, suka banget motornya, aku jadi ingin membeli sendiri juga.
Tak ku sangka, ternyata Aziz mempunyai indra ke enam, bisa melihat dan berbicara dengan makhluk dunia lain, wah ternyata asik juga orangnya. Aku juga ingin memiliki istri yang sholehah sepertinya, bisa mendidik anak-anakku kelak.
Hingga aku merasa bosan di rumah terus, akhirnya aku ingin merantau juga ke kota, bukan kota besar sih, tapi masih dekat, di kota aku bekerja di pabrik kayu di ajak oleh temanku yang bernama Roni rumahnya di tetangga desa. Kebetulan kami dulu sering nongkrong bersama, main bersama, juga mbolang sama-sama. Namun usia Roni dua tahun lebih tua dariku, namun kendati demikian yang namanya pria pasti kelihatan seumuran jika berkumpul, sama halnya si Tommi yang umurnya di bawahku.
Awalnya aku sangat menyukai tempat kerjaku sekarang ini, namun lambat laun aku bosan juga, jika bekerja liburnya cuma sehari, apalagi pekerjanya semuanya pria, tidak ada yang perempuan, kalau kayak gini, gimana aku menemukan jodohku, setidaknya buat di ajak pacaran dulu-lah.
Akhirnya hanya dua bulan saja aku bekerja di pabrik itu, dan iseng aku tanya pekerjaan sama si Anna yang kebetulan juga sudah bekerja di kota bersama temannya. Alhamdulillah ada lowongan pekerjaan di pabrik kayu, namun kali ini berbeda disana khusus kayu mebel, jadi para pekerjanya campur ada yang perempuan juga, letaknya di seberang pabrik Anna bekerja, jadi sekalian cari kost yang dekat.
Aku benar-benar bekerja di pabrik mebel tersebut, mencari kost yang jaraknya tak begitu jauh dari kost Adikku, agar aku juga sering datang berkunjung ke sana. Baru kerja masuk satu mingguan, aku belum mendapat satu orang pun teman yang asyik, hingga suatu sore hari saat akan pulang, aku tak sengaja melihat seseorang sedang di keroyok oleh beberapa preman, tanpa babibu lagi aku segera menolongnya, demi solidaritas manusia.
" Nggak apa-apa Mas, terima kasih banyak bantuannya, ini ada sedikit rezeki karena sudah mau menolong saya tadi." Balasnya sembari menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah padaku, mataku seketika langsung ijo di buatnya.
Ya, siapa sih di dunia ini yang nggak doyan uang? Tuyul aja doyan, apalagi aku yang hanyalah manusia biasa, yang memerlukan uang untuk bertahan hidup, apalagi merantau ke kota seperti sekarang, apa-apa memakai uang, ke wc saja harus bayar dua ribu. Namun demi menjaga gengsi, aku pura-pura menolaknya. Sekedar ingin tahu juga, pria ini seperti apa?
" Tidak usah Mas, saya ikhlas menolong Mas-nya." Dustaku, ya memang lain di mulut lain di hati, sifat manusia itu, akhirnya aku terima uangnya sebab dia terus memaksa, dan sejak saat itu pula aku juga berteman dengannya, namanya Kolil bekerja di pabrik yang sama denganku, hanya saja jabatannya lebih tinggi, dia seorang manager ternyata, yang pasti jauhlah di bandingkan diriku yang hanya karyawan buruh biasa.
Lambat laun pertemanan kami semakin dekat, ternyata usianya di bawahku setahun, namun dia hebat bisa menjadi manager disini, ternyata ada orang dalam yang dulu memasukkannya. Ternyata dia orang yang cukup berada, buktinya dia mempunyai mobil sendiri.
Entah sudah berapa bulan aku di kota ini, namun aku belum sempat menjenguk Anna karena kesibukan. Akhirnya hari minggu ini aku sempatkan waktu, berencana mengunjunginya, berbekal alamat yang dulu pernah ia berikan padaku, walau aku sudah mempunyai uang banyak, namun aku belum ingin membeli ponsel, bagiku belum terlalu penting amat. Ternyata saat akan berangkat si Kolil datang ke kostku, dia berniat akan ikut.
" Yakin mau ikut? Ini aku mau jalan kaki lho kesananya. " Ujarku bertanya padanya memastikan.
" Iya, ayo. Mobilku biar disini." Jawabnya, akhirnya aku mengajak Kolil ke tempat kost Anna. Ternyata Anna tidak tinggal sendirian, dia tinggal bersama temannya, cantik juga temannya. Berjilbab lagi, duh! Jadi kesemsemkan aku. Akhirnya kami berempat berkenalan.
" Namanya Najwa? Cantik secantik orangnya," Pujiku, eh dia tersipu malu, huaasyiik, kalau gini mah.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.