Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tamu Tak Di Undang.


Anniyah_PoV


*


Memiliki buah hati adalah anugerah bagi setiap orang tua. Tak ada orangtua yang menginginkan buah hatinya mendapatkan hal-hal tak baik dan negatif di dunia ini. Untuk itu, para orang tua senantiasa selalu mendoakan dan memberikan petuah-petuah bijak bagi semua anak-anaknya.


Sebagai orang tua, Anda pasti ingin buah hati Anda tumbuh berkembang dengan baik dari segi fisik, mental, dan emosi. Maka dari itu, penting bagi Anda sebagai orangtua untuk membangun atmosfir dan suasana keluarga yang positif, harmonis, dan saling mendukung.


Tak terasa hari cepatlah berlalu, saat ini sudah satu bulan lebih aku melahirkan Zia putri kecilku. Tepat hari ini pula, di rumah sedang di adakan acara selapanan untuk Zia sekalian dengan acara Aqiqahnya. Dan kabar bahagianya semua anggota keluargaku akan berkumpul semua di rumah.


Suamiku Bang Aziz baru datang semalam, namun kami sudah merencanakan hari-hari ini sebelumnya, satu ekor kambing-pun sudah di sediakan oleh Mbah Kakungnya. Anna juga sudah pulang dari kemarin bersama Mas Anton. Lengkap sudah kebahagiaan kami.


" Ayo Zi, biar aku dan Bapak yang megangi kamu yang bagian sembelih." Titah Mas Anton pada Bang Aziz. Mas Anton sekarang memanggil suamiku dengan panggilsn putri kami Zia, agar semakin akrab katanya, kami pun tidak mempermasalahkannya.


Anna dan Mas Anton kemarin memanfaatkan banyak sekali hadiah, ada pakaian bayi perempuan beberapa stel, ada beberapa pasang sepatu yang lucu-lucu. Ada pula pernak-pernik buat rambut Zia, padahal sore ini rambutnya bahkan akan di cukur habis alias gundhul, lalu siapa yang akan memakainya coba?


Dan ada juga peralatan makan khusus bayi satu set yang di belikan oleh Anna, Dan masih banyak lagi. Aku langsung menegur mereka berdua, bukan karena tidak suka menerima semua hadiah dari mereka, tetapi ini terlalu berlebihan. Namun apa jawaban mereka, 'Kami memberikan ini semua untuk keponakan cantik kami, jadi terima aja, nggak usah nanyak protes'. Aku hanya bisa melongo mendengarnya kemarin saat mereka berdua baru sampai rumah.


" Baiklah, ayo Mas." Ajak suamiku yang mulai mendekatkan kambingnya ke arah tanah yang sudah di lubangi untuk wadah darahnya nanti. Sementara aku, Anna dan Zia duduk di bangku tak jauh dari mereka menyaksikan acara menyembelih kambing untuk Aqiqah.


Sementara para pria sibuk dengan acara memotong daging kambing yang mereka sembelih tadi, aku dan Anna memilih pergi ke kamar mencari pakaian yang akan kami pakai sore hari nanti, sebab aku dan Bang Aziz mengundang beberapa santri ke rumah, sekalian meminta mendoakan bayi kami.


" Pakai yang ini saja, pasti sangat cantik keponakanku." Anna menyodorkan sebuah gaun bayi berwarna pink padaku. Aku langsung mengamatinya sejenak.


" Tapi ini masih kebesaran An." Keluhku yang mencoba mengukur lingkaran di bagian atasnya.


" Cuma sedikit Mbak, nggak masalah-lah. Mau pakai yang mana coba, masa iya pakai gaun yang terbuka begini, 'kan banyak santri nanti yang datang, ya walau Zia masih bayi, tetap saja risih nggak sih?" Ujar Anna yang kali ini sangat benar sekali, aku bahkan sampai lupa itu.


" Baiklah kalau begitu pakai yang ini saja, aku akan cari gamis yang memiliki warna mirip dengan gaunnya Zia." Ujarku segera membuka lemari pakaian, ternyata ada satu gamis yang warnanya cocok dengan gaun Zia, sebab ada warna pink-nya walau hanya sedikit, tidak masalah. " Gimana yang ini? Cocok nggak?" Tanyaku pada Anna yang kini aku sedang menempelkan gamisku itu di depan tubuhku sendiri.


" Wah serasi Mbak, Aku pinjami gamis dong Mbak. Aku 'kan nggak punya, gamisku yang lama semuanya sudah jelek, ada 'kan?' Tanyanya dengan pandangan berharap.


" Sebentar, coba Mbak cari dulu ya, kayaknya sih ada—Nah ini dia, masih baru lho, belum pernah Mbak pakai sebelumnya, pakai-lah sepertinya cocok untukmu, buatmu saja." Jelasku sembari menyodorkan satu set gamis berwarna cream pada Anna, terlihat dari pancarannya terlihat rona bahagia dari raut wajahnya.


" Benaran? Ini sungguhan Mbak? Makasih lho Mbak, nggak nyangka bakal dapet baju gamis yang sebagus ini, kira-kira berapa harganya Mbak?" Tanya lagi yang terlihat kepo.


" Berapa ya? Mbak lupa, soalnya dulu Bang Aziz yang belikan lalu bandrol harganya sudah Mbak buang sebelum menyimpannya di dalam lemari pakaian, jadi pasti lupa, apalagi belum pernah Mbak pakai. Sudah pakai saja An, Mbak masih ada gamis lainnya lagi kok." Kelasku agar ia tidak lagi bertanya.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, aku kembali ke depan sementara Anna berjalan ke belakang membantu Ibu sibuk di dapur. Sementara menghilangkan jenuh aku menyalakan acara di televisi. Terus mengganti channel siaran saat belum menemukan acara yabg bagus.


"Assalamualaikum.." Sapanya lagi, kini volume televisinya aku kecilkan, dan segera menjawab salam dari sang tamu ersebut.


" Ya, Waalaikumsalam, silahkan masuk." Ujarku, mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam, sebab posisiku yang sudah nyaman dengan memangku baby Zia, jadi sedikit malas untuk bangun, yang padahal ini bukanlah tindakan yang terpuji, maafkan hambamu ya Allah..


Ternyata ada dua orang tamu yang datang, satu laki-laki yang aku kenal. Dan satu lagi perempuan, tetapi aku tidak mengenalnya bahkan baru pertama kali ini kami bertemu. Aku semakin di buat penasaran dan ingin langsung bertanya-tanya pada mereka, terlebih melihat penampilannya saja sudah bisa di pastikan jika wanita itu lulusan ponpes, terlihat dari pakaian syar'i yang ia pakai saat ini.


" Eh, kamu! Sebentar aku panggilkan Anna-nya ya?" Ujarku yang alhirnya beringsut turun dari atas dipan,au bagaimana lagi masa iya, aku harus teriak-teriak memanggil Anna, namun niatku terurung begitu melihat wanita itu menyodorkan tangan kanannya padaku, yang langsung ku sambut dengan baik.


" Hai, kenalkan nama saya Najwa. Apa Mas Antonnya ada di rumah?" Tanya wanita tersebut yang ternyata mencari Mas Anton, tunggu!! Jangan-jangan dia ini kekasihnya Mas Anton?


Tetapi jika melihat dari penampilannya kok ya rada ragu dan tidak percaya ya aku? Secara wanita yang tinggi ilmunya di pondok pasti tidak ada yang namanya pacar-pacaran, ta'aruf dan langsung menikah, betul nggak sih? Maklum aku tidak pernah mengenyam bangku ponpes.


" Oh, iya, namaku Anniyah. Mbaknya cari Mas Anton, sebentar ya aku panggilkan dulu mereka, silahkan kalian tunggu dan duduk dulu sebentar ya." Aku segera berjalan masuk ke belakang dan melihat Anna yang sedang meracik minuman, untuk para Ibu-Ibu yang di masak. Hari ini lumayan banyak yang datang membantu Ibuku, beberapa Ibu-Ibu para tetangga juga.


" An, ada pacarmu di depan? Buatin minuman sekalian dua ya, dia ngajak temannya juga tuh." Bisikku yang hanya terdengar kami berdua saja, kulihat wajah Anna terkejut, lalu segera mengangguk meresponku.


Setelahnya aku kembali berjalan ke arah samping rumah, namun harus melewati kandang kambing dulu baru sampai. Begitu sampai aku segera mendakati Mas Anton yang sedang duduk di depan mereka sembari minum.


" Mas ada pacarnya Mas datang, dia ada di depan bersama pacarnya Anna." Bisikku tepat di daun telinganya. Kulihat tubuh Mas Anton yang menegang sempurna, bahkan ia reflek langsung menoleh menatapku tak berkedip.


" Sungguh?" Tanyanya yang kurang yakin, aku hanya menghendikkan bahuku, lantas berjalan maju melewati mereka semua yang sedang sibuk, ku lihat suamiku juga sedang fokus memotongi daging-daging merah tersebut, lalu aku berjalan lewat pintu depan.


" Anniyah tunggu!"


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.