Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tawa Di Atas Luka


"Makasih banget lo udah sempetin ke sini demi bawain makanan ini buat gue" Aira tersenyum manis sambil menenteng sebuah bungkusan makanan.


"Emang orang kalau nyidam itu kayo lo begini ya? udah malam maunya makan yang aneh aneh, untung aja gue bisa bikin sendiri, kalau nggak udah ngiler deh tu anak" Ujar Jacky setengah dongkol. Pasalnya di malam hati ia di minta membawakan rujak buah. Tentu sudah tidak ada yang jual rujak di malam hari. Takut membuat Aira kecewa, akhirnya dia mencari akal, tepat di samping aparteman ada sebuah rumah, di depannya terdapat pohon mangga tumbuh lebat. Mau tidak mau Jacky harus meminta beberapa buah dari pemilik pohon mangga tersebut. Meski harus mempertaruhkan harga diri, rela Jacky lakukan demi sang pujaan hati beserta anak di dalam rahimnya.


"Alah ini kan demi si debay...." Menggelayut manja di lengan Jacky "Pokoknya lo paling bisa di andelin deh"


"Lain kali kalau nyidam jangan aneh aneh napa, jadi gue nggak pake nyolong mangga orang segala. Nyidam itu yang ada di mini marker gitu biar gampang carinya. Untung tetangga gue punya buah mangga dan untungnya lagi gue masih ada sisa buah lain di kulkas. Ya mungkin rasa rujaknya tidak seenak abang abang pinggir jalan sih, tapi lumayan lah buat si entun"


"Iya deh maaf. Habisnya kepengen banget makan rujak. Toh ini kan demi keponakan lo juga...."


Jacky menatap wajah Aira "Ya udah tunggu apa lagi, makan dong rujaknya?"


"Oke, tapi lo makan juga ya. Please...." Dengan wajah memelas.


Mengerutkan dahi "Loh, kok jadi gue suruh ikut makan? ogah ah malam begini makan begituan. Bisa mules gue nanti"


Aira memasang muka cemberut "Kalau lo nggak mau makan, gue juga nggak mau. Biarin aja si entun ngiler, semua salah lo" membuang muka sambil melipat kedua tangan.


Jacky geleng kepala "Astaga, ribet benget nih bumil. Ya udah deh gue makan nih" Terpaksa Jacky harus makan rujak tersebut "Asem banget....." Wajah Jacky nyengir setelah makan satu mangga muda.


"Nah gitu dong" Aira pun ikut makan.


Jacky heran melihat ekspresi wajah Aira "Dih itu mangga di makan sama lo kaya manis banget, padahal ah.....asem"


Makan dengan lahap "Enggak kok, siapa bilang mangga ini asem? mangganya manis, enak. Nih mau lagi" Menyuapi Jacky namun dia menggeleng "Udah deh Ra gue nggak kuat. Bisa bisa nanti gue bolak balik toilet. Gue nggak kuat asem sama pedasnya"


Aira tersenyum "Iya deh, nggak apa apa. Kamu cukup temani aku makan saja"


Mereka berada di taman dekat aparetemen Aira. Di bawah remang lampu taman, mereka duduk berdua. Melihat Aira makan dengan lahap membuat Jacky ngilu "Duh Ra jangan banyak banyak sambelnya, itu pedas lho. Kasihan si entun" Reflek Jacky mengusap perut Aira. Seketika saja Aira berhenti mengunyah. Tatapan mereka saling bertemu beberapa saat. Hingga akhirnya Jacky menarik tangannya kembali "Maaf, cuma pengen pegang si entun aja"


(Gue yakin anak dalam rahim lo itu benih gue, Ra. Setelah anak itu lahir gue akan membuktikan siapa ayah biologis anak ini. Tapi entah kenapa gue yakin anak itu milik gue)


"Eh....kok bengong sih?" Menepuk pundak Jacky.


"Nggak gue cuma bayangin aja kalau nanto perut li gede lucu kali ya, kaya balon udara" Ujar Jacky sambil menyunggingkan senyum.


Aira mencubit lengan Jacky "Ih jahat sekali sih. Ngarain bumil balon udara"


"Ahahahaha.....aduh sakit Ra, ampun. Gue bercanda cantik" Mencoel dagu Aira.


"Ngeselin" Kembali Aira manyun.


"Dih, tambah cekep deh lo kalau lagi manyun" Jacky terus menggoda Aira sampai mereka saling berlarian kecil "Hey...Ra hari hati lo lagi hamil"


"Makanya lo jangam bikin gue kesel" Tiba tiba saja langit mendung. Air hujan mulai turun perlahan.


"Ra, hujan. Ayo cari tempat bereteduh" Sigap Jacky melepas jaketnya lalu melindungi kepala Aira "Kita berteduh di sana saja"


Hujan malam ini menggambarkan hati nan lara. Seorang istri tengah berduka, hampir kehilangan haknya. Derai air mata sama derasnya dengan air hujan malam ini. Sang Ayah melihat putri kesayangan tengah bergrlimang air mata. Dalam pelukan sang ibu ia tumpahkan segala kesakitan "Tidak perlu kamu tangisi suami seperti itu. Di luar sana masih banyak laki laki jauh lebih baik dari pada dia."


"Tidak, pa. Diandra hanya mau menikah satu kali dalam seumur hidup. Diandra tidak mau pisah dari mas David" Jawab Daindra sambil terisak.


Sang ibu membelai kepala putrinya "Tuhan memang membenci perceraian. Tapi, untuk apa kamu mempertahankan apa yang tidak pantas di pertahankan. Percuma saja kamu bertahan. Sudahlah, nak. Jalan terbaik untuk kamu adalah berpisah. Sebagai wanita, kamu punya harga diri. Lepaskan saja dia, itu jauh lebih baik. Dari pada kamu harus di sakiti terus menerus."


"Tolong, ma, pa. Biarkan Diandra mengambil jalan hidup Diandra sendiri. Untuk saat ini biarkan Diandra berpikir sejenak." Membuang pandang.


"Tapi kami tidak akan terima melihat kamu di sakiti. Pokoknya tidak akan papa biarkan dia memperlakukan kamu seperti ini. Lihat saja apa yang bisa papa lakukan" memukul stir kemudi saking kesal anaknya di sakiti.