Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Selapanan Dan Aqiqah..


Anniyah_PoV


*


Belum sampai ke daun pintu, terdengar seseorang memanggilku, reflek aku menoleh ke belakang. Dan wajahku langsung berbinar begitu tahu siapa yang datang ke rumah dan memanggilku.


" Tini.!" Panggilku yang berjalan mendekatinya, begitu pun dengannya yang berjalan mendekatiku." Ya Allah,, kapan pulang?" Tanyaku begitu ada di hadapannya. Kami berpelaukan sejenak namun sedikit ada jarak mengingat aku yang masih menggondong Zia.


" Maaf Niyah baru datang, aku denger dari Ibu katanya hari ini ada acara Aqiqahnya putrimu ya. Selamat ya sudah menjadi seorang Ibuk, anakmu sangat cantik seperti Ibunya, semoga menjadi anak yang sholehah ya sayang." Tini langsung mencium sebelah pipi Zia dengan gemas." Oh iya, ini dari Tante, maaf belum bisa ngasih yang banyak ya, doain Tante banyak rezekinya, Aamiin.."


" Aamiin, Terima kasih Tante. Nggak usah repot-repot-lah. Ayo masuk, sepertinya Ibumu ada di belakang dech Tin." Ajakku masuk ke dalam rumah.


Kulihat Anna dan Mas Anton sudah duduk di ruang tamu bersama pacarnya masing-masing. Namun masih menjaga jarak, entah bagaimana jadinya jika Bapak sampai melihat mereka nanti, mau alasan apalagi mereka, terlebih Kolil yang sudah pernah datang kemari.


" Eh Yah, ada tamu ya?" Bisik Tini yang sepertinya merasa tidak enak hati.


" Nggak apa-apa kita langsung ke belakang saja. Itu tamu mereka, bukan tamuku aku nggak kenal mereka." Ku ajak Tini berjalan ke arah dapur, sempat ku anggukkan sedikit kepalaku pada kedua tamu saudaraku itu.


" Lho ada si cantik ini." Celetuk salah satu Ibu tetangga menatapku, " Ini Tini toch? Mbak Yu ada si Tini ini lho." Serunya kembali memanggil Ibunya Tini yang sedang membungkus makanan dengan daun pisang.


" Eh, sini Nduk. Bantuin ini bungkus makanan, kenapa baru datang? Suamimu sudah pulang?" Tanya Ibunya Tini pada putrinya.


" Sudah Bu, lagi bantuin Bapak benerin kandang Ayam di belakang rumah." Balas Tini lalu duduk di samping Ibunya.


" Eh, cucu Mamak yang cantik. Belum bangun dia dari tadi?" Tanya Ibuku yang mengambil alih Zia, lalu menggendongnya. Aku pun duduk di samping Tini, namun duduk di atas lebih tinggi.


" Ya belumlah Bu, orang baru di kasih ASI. Amit Ibu-Ibu semua," Ucapku permisi karena duduk di kursi atas. Mereka semua hanya tersenyum.


Akhirnya kami semua di disibukkan dengan banyaknya macam olahan yang akan dii masak untuk hari ini, selain memasak daging kambing, ada juga sambal goreng, Mie kuning dan macam sayur mayur. Semuanya berkutat pada tugas masing-masing.


Tak lama aku kembali masuk ke depan bersama Zia, sebab putriku sudah rewel ingin minta Asi-nya. Aku berjalan melewati ruang tamu akan masuk ke dalam kamarku sendiri. Kulihat tak ada mereka semua, sepertinya mereka sedang berkumpul di samping rumah.


Sesampainya di kamar, aku segera memberikan Zia Asi, dengan cepat ia mengulum salah satu nipl* gunung kembarku. Ah, kuat sekali dia hisapnya, " Kayanya putri Ami sedang kehausan ya sayang." Pelan-pelan tidak ada yang akan merebutnya darimu sayang." Ujarku tersenyum geli padanya.


Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah siang hari. Kudengar semuanya sedang berkumpul di depan untuk makan siang. Bang Aziz juga baru saja pulang dari Mushola setelah menunaikan kewajibannya.


" Sayangnya Abi, sedang apa sayang? Hmm,, nen*n lagi. Abi minta hang satunya ya? Bolehkan?" Seloroh Bang Aziz yang sedang menggoda putrinya. Padahal itu percuma saja, putrinya tidak akan meresponnya. Aku hanya bisa tertawa geli, mendengar perkataan konyolnya tersebut.


" Eh, kenapa tertawa? Abi serius lho. Waktunya buka puasa ini, sudah berapa lama Abi bertapa dan berpuasa. Sudah bersihkan sayang?" Tanya suamiku yang tahu kemana arah pembicaraannya itu.


" Isshh,, Kok jadi mes*m gitu sih! Geli tau.. Sudah sana Abang makan siang dulu, itu bareng-bareng pasti seru, sudah di siapin oleh Anna itu di meja ruang tamu." Titahku yang tak segera di respon olehnya.


" Ya, habis. Abi bicaranya menjurus ke sana terus sih! Aku geli dengernya." Sungutku, bisa-bisanya seorang anak kiyai berbicara mes*m begitu. Ya walau aku sadar diri, suamiku juga manusia biasa, yang tak jauh dari khilaf.


" Ya sudah Abi makan dulu ya." Sebelum melangkah keluar kamar, Bang Aziz mengecup keningku sejenak dan berakhir di bibir, ia ******* juga menyes*pnya sedikit lama, aku pun membalas ciumannya yang selalu memabukkan. Aku akui aku pun merindukan cumb*annya padaku." Tuh 'kan kamu juga pengen sayang." Bisiknya setelah ciuman kami terlepas.


Aku segera mendorong tubuhnya ke depan, agar ia segera keluar dari kamar. Bisa-bisanya ya! Yang padahal aku sudah menahan malu tadi. " Baiklah-baiklah Abi akan keluar, tapi berikan satu ciuman sekali lagi okay." Belum sempat aku menjawab ia kembali memang*t bibirku, tak hanya meluklm*t tapi ia juga menghisapnya, bahkan sengaja menggigit bibir bawahku agar terbuka, dan benar saja lid*hnya segera mengeksplor masuk ke rongga mulutku, mengapsen deretan rapi gigiku, aku pun tak mau ketinggalan, lid*h kami saling membelit ikut membalasnya membuat sesuatu di bawah sana sedikit basah.


" Mmpp." Lenguhku tertahan saat suamiku melepaskan ciuman kami. Setelah membersihkan sisa saling di bibirku, Bang Aziz segera melangkah mundur, aku sempat mendengarnya terkekeh walaupun pelan sebelum ia menghilang di sebalik gorden pintu.


" Isshh! Membuatku kesal saja." Kesalku, tapi juga langsung tersenyum saat mengingat ciuman kami barusan, selalu menggebu membuatku melayang.


***


Beberapa saat kemudian akhirnya acara selapanan juga Aqiqahnya Zia pun tiba, acara di gelar pada sore hari, sebab banyak para santri yang datang dari lain desa. Rumah kami sudah di penuhi begitu banyaknya orang-orang yang datang.


Tak hanya Santri, dan para tetangga, ada sanak saudara juga teman-teman. Bang Aziz dan Mas Anton berdiri di depan menyambut tamu yang hadir, sebab semua para tamu adalah para laki-laki. Sementara aku, Zia dan Tini di dalam kamar, sebab aku yang memanggilnya untuk menemaniku. Sementara Anaa dan temannya ikut membantu Ibu di belakang.


Acara berlangsung dengan lancar dan khidmat, suara lantunan ayat-ayat suci terus berkumandang, lalu tak lama Bang Aziz masuk ke kamar untuk menggendong Zia, bermaksud akan mencukur rambutnya itu, ku minta Tini untuk merekam acaranya.


Hingga berakhirlah acara tersebut sebelum Adzan Magrib berkumandang, yang di tutup dengan doa yang terbaik untuk Zia —putri kami. Aamiin... Terima kasih Ya Allah Engkau telah memberi kemudahan dan kelancaran demi acara kami sore hari ini, sebelum mereka pulang, kami sudah menyiapkan bingkisan untuk di bawa pulang oleh mereka semua, sekitar lima puluhan orang lebih yang datang.


Kami semua pun kini tengah duduk di ruang rmtamu, seperti biasa aku duduk di dipan dekat jendela, yang kali ini di temani oleh suamiku. Sebab Ibu dan yang lainnya masih terlihat sibuk di belakang sana.


" Astagfirullah.." Terdengar suara lirih dari suamiku samar-samar, membuatku menoleh menatapnya heran, sebab ia tengah memejamkan kedua matanya.


" Ada apa Bi?" Tanyaku yang juga berbisik, mencondongkan sedikit badanku ke arahnya, yang semakin membuatku heran melihatnya, sebab ia tak kunjung membuka kedua matanya.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.