
Author_PoV
*
Akhirnya selesai sudah acara tujuh harinya Umma Salima, Aziz berniat akan pulang ke kampung istrinya malam ini juga. Sebab ia merasa sudah berdosa menelantarkan anak dan istrinya sendiri, walau sebenarnya bukan seperti itu kenyataannya tetapi tetap saja Aziz merasa sedikit menyesal, karena semuanya terjadi secera bersamaan. Dan baginya kehilangan Ibu yang melahirkan dirinya jauh lebih dulu di dahulukan ketimbang yang lainnya yang pasti masih bisa ia lakukan setelahnya.
Ke empat anaknya juga sudah pulang di jemput oleh Umi dan Ayah sambungnya kemarin sore, sebab paginya mereka sudah harus kembali ke sekolah. Sehingga membuat Aziz tidak kepikiran lagi dengan mereka, jika nanti akan pulang ke kampung ke halaman istrinya.
Tak lama motor yang di kendarai Aziz pun sudah hampir sampai di depan gang rumah mertuanya, ia pun mematikan mesin motor karena sadar diri hari sudah larut dan takutnya akan menganggu istirahat para tetangga.
Setelah memarkirkan motor di samping rumah, Aziz mengetuk pelan jendela kamar dari samping yang sudah pasti di dalamnya ada sang istri yang mungkin sudah terlelap tidur. Sebab tadi sempat menghubungi ponselnya, namun tidak mendapatkan respon, mungkin ponselnya tidak di beri suara pikirnya.
" Assalamulaikum..Sayang ini Abi." Ujarnya lirih karena takut kedengaran tetangga yang rumahnya tepat di sebelah.
Saat terdengar ada suara dari dalam rumah Aziz segera berjalan menuju ke pintu utama. Tak lama pintu pun terbuka dan terlihatlah Ibu mertuanya yang membukakan pintu untuknya.
" Eh, kamu toch Ziz, kirain siapa tadi." Tanya Ibu mertuanya menatap menantunya lega.
" Assalamulaikum Bu. Maaf mengganggu istirahat Ibu. Tadi Aziz sudah berusaha membangunkan Anni tapi tidak ada suara sahutan." Ujarnya sembari melangkah masuk.
" Waalaikum salam, iya Niyah baru saja tertidur beberapa jam, sepertinya dia kelelahan. Maklumlah Ibu yang sedang menyusui bayi pasti setiap hari begadang. Tunggu dia agak besar baru begadangnya berkurang." Sahut Titik sang mertua.
" Bu ini Aziz bawakan nasi goreng sama mie goreng buat Ibu dan Bapak. Maaf kalau pulangnya terlalu malam, tadi nunggu selesai tahlilan dulu di rumah." Ujarnya sembari menyodorkan satu bungkusan makanan kepada Ibu mertuanya.
" Oh, iya terima kasih, harusnya tidak perlu repot-repot beli makanan lho. Ibu dan Bapak juga turut berduka cita buat Ibumu ya, semoga khusnul khotimah, Aamiin." Ujar Titik menyampaikan bela sungkawanya.
" Aamiin, terima kasih banyak Bu. Kalau begitu Aziz masuk dulu ." Pamitnya, setelah mengucapkan demikian Aziz berniat akan melangkah masuk ke dalam kamar, namun langkahnya langsung terhenti mendengar panggilan dari Ibu mertuanya.
" Tunggu Ziz, sebaiknya kamu membasuh diri dulu di kamar mandi sebelum menemui istri dan anakmu." Tutur Ibu mertuanya memberi pesan.
" Ah, nggeh Bu. Maaf Aziz lupa." Pria dewasa itu pun langsung melangkah ke belakang setelah melwtakkan barang bawaannya di atas kursi panjang ruang tamu.
Tak lama ia sudah kembali dan berjalan menuju kamar, terlihatlah wajah letih sang istri yang sedang terpejam, terlelap dalam keadaan setengah duduk. Setelah mengecup kening istrinya ia pun membaringkan tubuhnya di samping putri kecilnya, tak lupa ia juga mengecup kening dan juga pipi bayinya yang masih merah tersebut kemudian menutup tudungnya kembali agar terhindar dari serangan nyamuk atau serangga lain.
Hanya melihat istri dan anaknya saja beban yang kemarin menghimpitnya seolah sirna begitu saja. Walau rasa kehilangan masih terasa, namun tersamarkan dengan kehadiran buah hatinya yang seolah-olah sebagai pengganti wanita pertama dalam hidupnya.
***
Tak lama pagi pun menjelang, Anni yang merasa tubuhnya tidak nyaman segera bangun, dan ia sedikit terkejut saat menyadari ada tangan yang melingkar di perutnya dan nampaklah sosom pria yang ia rindukan setiap harinya.
" Bi, kamu sudah pulang? Kapan datangnya? " Gumamnya lirih, namun maaih cukup terdengar di telinga Aziz, sehingga suaminya itu langsung terjaga.
" Ng,,Alhamdulillah.. Sayang! Kamu sudah bangun ya?" Tanyanya dengan suara serak dan berat, ia segera duduk dan mengecup kening istrinya, lalu mengulurkan tangan kanan yang langsung di sambut dengan kecupan di punggung tangannya tersebut.
" Maaf, Abi baru pulang sayang. Semalam begitu selesai tahlilan Abi langsung kemari, sangat merindukan anak dan istrinya juga." Bisiknya yang langsung memajukan wajahnya ke wajah sang istri.
Di kecupnya bibir tipis istrinya itu, lalu kemudian memang*tnya secara lembut, hingga berubah menjadi lum*tan-******n kecil, hingga napas keduanya memburu begitu Anni membalasnya. Namun tak begitu lama Aziz menarik diri agar tidak kebablasan, ia sadar diri istrinya belum bisa di ajak bercocok tanam, sehingga ia harus bersabar lagi menunggu hingga masa nifas istrinya selesai.
" A-anni mau mandi dulu Bi." Dengan jantung ynag berdebar Anni turun dari ranjang, berjalan keluar kamar. Entah rasanya masih saja berdebar jika sedang berc*mbu dengan suaminya.
" Cup,,cup aayangnya Abi, Zia sudah bangun ya? Haus ya sayang? Tunggu Ami bersih-bersih dulu ya." Aziz segera menggendong bayinya, ia ayun-ayunkan supaya tenang. Baru berapa detik, tangisan itu pun mereda." Anak Abi yang pinter." Ia pun merasa lega bisa menenangkan putri kecilnya.
Aziz keluar kamar, masih dengan mengayunkan bayinya. Sebentar lagi suara Adzan berkumandang. Ia pun berjalan ke belakang, ternyata istrinya masih di dalam kamar mandi. Ia pun sabar menunggu. Tak lama Ibu mertuanya masuk dari arah belakang rumah sembari membawa kayu bakar.
" Kamu mau pergi ke Mushola Ziz?" Tanya Ibu mertuanya menatapnya.
" Nggeh Bu, tapi nunggu Anni selesai mandi dulu saya juga mau bersih-bersih badan." Terlihat sang Ibu mertua mengangguk mengerti dan mulai menghidupkan api membakar kayu-kayu yang ia bawa tadi untuk memasak.
Hingga tak lama Anni keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terlilit handuk. " Sini Zia sama Ami ya sayang." Gantian dirinya yang menggendong bayinya, ia rengkuh ke dalam dekapannya. Bayi itu kembali menangis sebab memang merasa haus." Ayo-ayo kita ke kamar sayang." Ajaknya yang akan melangkah masuk.
" Ya sudah Abi mandi dulu." Pria itu pun ganti masuk ke dalam kanar mandi. Sementara Anni berjalan ke arah kamar untuk menyiapkan sarung bersih juga baju koko yang akan di kenakan suaminya nanti. Setelahnya menyusui bayinya yang terlihat sangat kehausan.
Beberapa saat saat Aziz kembali dari Mushola teelihat istrinya yang sedang berada di teras rumah sembari memangku bayi mereka, duduk di kursi rotan.
" Assalamulaikum..Hmm,, seger-segernya sayangnya Abi ini." Ujar Aziz sembari duduk di samping sang istri, yang padahal putrinya belum mandi. Tercium wangi parfum harum dari tubuh suaminya.
" Waalaikumsalam.. Abi gimana keadaan rumah? Abah dan yang lainnya juga gimana kabarnya?" Tanyanya menatap wajah tampan suaminya. Yang semakin hari semakin tampan saja.
" Alhamdulillah semuanya baik sayang. Kemarin anak-anak juga datang bersama Uminya." Sahut Aziz yng tak ingin menutupi apapun dari istrinya.
" Maksudnya Mbak Nikmah datang bersama anak-anak? Ya nggak apa-apalah Bi, mereka semua adalah cucu beliau." Sahut Anni yang sama sekali tidak mempermasalahkanya.
Aziz memang sudah menceritakan semuanya pada Anni, tidak ada yang di tutupi olehnya. Ia tentu saja berkata jujur apa adanya, tentang perselingkuhan mantan istrinya dengan sepupunya.
" Iya itu benar. Dia datang juga bersama Rojak. Mereka pada akhirnya sudah menikah sayang." Tutur Aziz yang entah mengapa bagi Anni ada rasa sedih di setiap kalimatnya.
" Mereka menikah? Ya Alhamdulillah dong Bi. Itu berarti mereka tidak akan melakukan hal yang tidak baik lagi. Kenapa? Abi cemburu? Abi masih sayang ya sama Mbak Nikmah mantan istrimu?" Tanya Anni, yang entah mengapa merasa suaminya itu masih mempunyai rasa terhadap mantan istrinya.
Anni sadar diri mereka sudah berumah tangga lebih dari sepuluh tahun, sudah pasti rasa sayang dan cinta jauh lebih besar di bandingkan dengan dirinya yang menikah belum ada satu tahun, tanpa cinta pula bahkan terpaksa mereka menikah pada saat itu.
" Kenapa Ami bicara seperti itu? Kami sudah bercerai, itu sudah menjadi masa lalu kami, bahkan hari kemarin pun sudah jadi masa lalu. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang buruk, pikirkan saja kebahagian rumah tangga kita dan putri kecil kita ini. hmm!" Sahut Aziz yang memang sudah tidak ingin membicarakan perihal masa lalunya bersama mantan istrinya.
Namun pertanyaan Anni sedikit menganggunya, apakah benar dia masih sayang dan cinta pada wanita yang telah melahirkan ke empat anaknya? Saat ia larut dalam pikirannya tiba-tiba terdengar suara seseorang dari ambang pintu.
" Siapa yang baru bercerai? "
Degh!!
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.