Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Di Salahkan!


Aziz_PoV


*


Pagi itu setelah di hubungi oleh pihak rumah sakit aku langsung menuju ke ruang ICU, Dokter menjelaskan dimana Abah tiba-tiba kondisinya drop, membuat para Dokter dan perawat pun kalang kabut.


Tak begitu lama salah satu Dokter keluar memberi kabar bahwa Abah telah menghembuskan napas terakhirnya di saat usaha para Dokter menyelamatkan beliau.


Sekali lagi aku merasa hancur, orang paling terdekatku kembali berpulang. Abah orang yang paling aku hormati ternyata menyerah kepada kondisinya yang memang cukup parah, walau tidak sebanding dengan Cacak yang hampir semua alat vitalnya sudah tidak lagi bekerja.


Dan Dokter juga mengatakan jika Jantung Abah-lah faktor besar yang memicu, sebab selain kondisinya yang mengalami penurunan, jantungnya juga melemah, sebab mempunyai riwayat sakit jantung sebelumnya.


Innalillahi wa'innailaihi roji'un. Semoga Khusnul Khotimah Abah. Seruku dalam hati. Sekuat tenaga aku menahan kesedihan, agar tidak membuatku terlihat lemah sebagai pria, sekarang sudah tidak ada pria dewasa lagi selain aku di dalam keluarga.


Siapa lagi yang akan di andalkan, anak-anak masih kecil, ya walau Aidan sudah mau lulus sekolah menengah atas, tetap saja bagiku mereka masih kecil, aku merasa gagal jika mereka ikutan menanggung beban orang tua.


Walau Aidan sudah di ajarkan untuk melanjutkan bisnis Uminya di waktu senggang. Aku tidak masalah, kalau itu demi masa depannya kelak apalagi anak laki-laki yang mempunyai tanggung jawab besar, sebelum menikahi anak orang.


Dengan berjalan gontai, aku masuk ke dalam kamar yang di dalamnya sudah ada Abah yang terbaring kaku di atas sana. Tadi sebelummya Abah sudah di pindahkan ke ruang lain, agar aku bisa masuk ke dalam.


" Maafkan Aziz Bah, Aziz sudah melukai hati Abah. Tidak ada cinta setulus dan semurni cinta Abah pada kami. Terima kasih untuk semua hal indah dan terbaik yang telah Abah berikan untuk anakmu ini. Mulai sekarang Aziz akan melindungi dan menjaga semua anggota keluarga kita." Lirihku seraya menyalami tangan beliau untuk yang terakhir kalinya.


Beberapa saat kemudian, Abah akan di mandikan sekalian di rumah sakit, aku pun juga ikut serta. Setelah itu kami di antar oleh ambulan ke rumah, sepeda motor sengaja kutinggal disana. Aku tidak tahu lagi, harus berkata apa, rasanya suaraku ini tertahan di tenggorokan sebelum keluar.


Sesampainya di rumah, terlihat semua tetangga sedang berada di luar rumah, mungkin menyambut kepulangan Abah yang sudah sehat, yang padahal kabar dukalah yang akan mereka lihat sebentar lagi.


Begitu Jenazah Abah di turunkan dari pintu belakang, terlihat semua warga dan para tetangga shock melihatnya. Tepat seperti apa yang aku pikirkan tadi, pasti mereka mengira keadaan Abah tidak terlalu buruk.


" Innalillahi wa'innailaihi roji'un. Pak Abdullah... Yang sabar ya Ziz saya sekeluarga turut berbela sungkawa, atas berpulangnya Abah kita semua, kamu dan keluarga semoga sabar, iklhas dan tabah menghadapi cobaan ini, Aamiin.." Ujar salah satu tetanggaku yang rumahnya tepat di samping rumah kami di sebelah kiri.


" Aamiin,, terima kasih banyak Cak atas do'anya, Allah yang akan membalas doa kalain semua, Aamiin.."


" Ya sudah ayo mari kami bantu." Tawarnya dengan berteriak memanggil yang lainnya, begitu tubuh Abah sudah mulai di dorong oleh para perawat pria.


Karena tadi sudah di sucikan, kami langsung meletakkan jenazah Abah di dalam Mushola untuk di sholatkan dan di kebumikan segera. Salah satu warga memberi kabar duka lewat pengeras suara di Mushola ini.


Aku hanya melantunkan doa di sebelah jenazah Abah. Tak lama terdengar suara Aidan dan anak-anakku yang lain. ternyata mereka semua ada disini pasti dengan Umminya.


" Assalamualaikum, Abi." Seru mereka, menyalamiku bergantian.


" Wa'alaikumsalam, Nak. Apa kalian bersama Ummi kalian?" Tanyaku yang segera di angguki oleh mereka bertiga, ya sebeb Hilda tengah ada di luar kota.


Tak lama Mus pamit ingin masuk ke dakam rumah untuk menemani Neng Atin, dia memang sangat dekat dengan Budhenya. Lalu Aidan dan Zikri sama-sama membacakan dia untuk Mbah Kakungnya.


Aku mendengar dari anak-anak jika Neng Atin sangat terpukul mendengar kabar ini, aku pun menghampirinya dan menemani menemui Abah untuk yang terakhir kalinya.


" Neng Atin yang sabar, semua sudah menjadi takdir dariNya. Kita harus ikhlas." Ujarku memberinya pengertian dan juga menenangkannya yang masih terisak. Aku pun menyuruh Nikmah untuk membawa Neng Atin kembali ke dalam.


Tadi saat di dalam dia sempat menyalamiku, dan aku hanya meletakkan tangan kanan di puncak kepalanya lalu menatapnya datar tanpa ekpresi. Entah apa yang ia pikirkan tentangku.


Karena sudah banyak orang yang berdatangan, aku pun akan segera memulai shalat Jenazah agar tidak terllau lama menahan si mayit, yang langsung aku pimpin. Aidan, Zikri dan Zayyan terlihat ikut serta di belakangku, dan langsunglah aku mulai..


Begitu sampai di rumah aku berwudhu di Mushola, namun begitu akan masuk ke dalam rumah aku di kejutkan oleh kedatangan dari keluarga besar istriku Anni.


" Assalamualaikum," Aku segera menyalami Bapak, Mas Anton dan tidak ketinggalan Pak RT yang ikut serta.


" Wa'alaikum salam. Yang sabar ya Aziz." Mereka semua mengucapkan bela sungkawanya, yang ku balaskan dengan rasa terima kasih. Ku lihat Anni duduk paling belakang dekat pintu penghubung seraya menggendong Zaheera dan ada Zia duduk di sampingnya.


Ya Allah padahal sudah aku larang datang kesini, pasti Zefa di tinggal bersama Ibu di rumah. Aku pun mendekat ke arah mereka bertiga, ku salami bergantian istri dan anak-anakku.


" Maafkan Aku, tapi Bapak yang mendesak mengajak kami semua." Cicitnya yang mungkin merasa bersakah karena tidak mendengarkan perintahku.


" Ya sudah tidak apa-apa, semua sudah pada makan. Kamu ke belakang saja minta sama Bibi, agar di siapkan makanan untuk semuanya." Ujarku, agar dia tidak merasa sungkan di rumahku, yang juga sudah menjadi rumahnya sendiri, mungkin dia takut bertemu dengan Neng Atin.


" Kami sudah makan kok Bi, Abi sendiri—


" Beneran? Ayo aku antar ke belakang." Ajakku sedikit memaksanya, karena aku sudah lebih dulu beranjak bangun dan akan berjalan masuk.


" Maaf permisi saya tinggal ke dalam sebentar Mas, Bapak, Pak RT." Pamitku.


" Ya-ya silahkan."


" Aziz!"


Baru akan masuk ke dalam kamar yang dulu aku tempati, terdengar suara Neng Atin yang memanggilku. Dan suaranya cukup kencang, mungkin terdengar sampai ke depan sana.


" Ada apa Neng, nanti saja ya, Aziz mau bersih-bersih dulu ini." Balasku, pakaianku memang kotor karena masuk ke dalam lubang kubur tadi.


" Kenapa kamu mengundang perempuan ini!" Desisnya pelan seraya menunjuk ke arah Anni. Kulirik Anni yang sedikit ketakutan, juga Nikmah yang menunduk tidak berani menatapku.


" Memang apa salahnya, dia juga 'kan istriku." Sahutku jengah. Di saat seperti ini bisa-bisanya beliau membahas masalah yang lain.


" Usir dia dan keluarganya! Neng nggak mau tahu! Karena datang ke kampung dia, keluarga kita mengalami kecelakaan 'kan, dan sejak kamu menikahi wanita nak4l ini satu persatu kita harus kehilangan anggota keluarga kita, Ummi, Arga, lalu sekarang Abah, setelah ini siapa lagi, aku atau kamu duluan?! Seharusnya kamu mikir itu!" Desisnya pelan namun sangat tajam, bahkan sangat menusuk.


Aku yakin Anni sangat kecewa atau bahkan sakit hati setelah mendengar perkataan Neng Atin barusan. Aku mengusap wajah dnegan kasar.


" Astagfirullah, tidak baik Neng menuduh atau bahkan menyalahkan orang lain. Kejadian yang menimpa keluarga kita semua ini sudah takdir dariNya, ikhlas Neng, ikhlas!." Desisku tak kalah tajamnya, siapa yang tidak tersulut emosi jika istrinya terus di sudutkan juga terus di pancing-pancing dalam keadaan yang seperti ini pula.


Astagfirullah...Astagfirullah..


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.