Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 53 - T A M A T


Setelah kepergian Mutiara ke Kalimantan, Anna berulangkali dirawat di rumah sakit. Wanita itu bahkan divonis mengidap kanker serviks stadium lanjut.


Dan satu tahun setelah kepergian Mutiara dan sang ibunda ke Kalimantan, mereka dikejutkan oleh sebuah berita.


“Pulanglah Mba. Ibu kangen Mba Rara,” lirih Arkana.


Mutiara pun kembali ke Ibukota. Gadis itu juga membawa sang ibunda turut serta karena Arkana mengatakan jika ibu tiri mereka ingin bertemu dengan Meyta.


Dan saat tiba di sana, betapa terkejutnya Meyta saat Anna memintanya untuk rujuk dengan Wirra.


“Dia tidak akan bisa tanpa wanita di sisinya, Mey. Kamu tau dia kan? Tua-tua begitu dia malah makin menjadi. Aku sudah tidak sanggup melayaninya.”


“Maaf An. Aku tidak bisa mengabulkan permintaan kamu. Akmu yang lebih berhak atas Wirra. Dan aku rasa, dia juga tidak akan mempermasalahkan hal itu. Dia pasti ingin terus merawat kamu. Sedangkan denganku yang terkena gangguan jiwa saja, dia masih mau mengurusi ku.”


Namun, Anna bersikeras. Dan kondisi wanita itu yang semakin memburuk, membuat Arkana juga meminta hal serupa dengan sang ibu tiri.


“Ibu tidak akan tenang kalau meninggal Arka dan papa hanya hidup berdua, Ma,” ucap Arkana.


“Tapi, mama tidak bisa kembali rujuk dengan papa kalian. Papa kalian juga belum tentu mau.”


“Justru karena Bu Anna sering melihat papa sesekali memandang foto mama, makanya Bu Anna meminta hal itu. Kata Bu Anna, saat menandatangani surat perceraian, papa menangis,” ucap Mutiara menambahi.


Meyta terdiam. Kepala wanita itu penuh akan pertanyaan. Benarkah? Benarkah Wirra masih mencintai dirinya? Benarkah pria itu masih menginginkan dirinya?


“Setidaknya lakukan ini sebagai ucapan terima kasih kepada ibu karena telah merawat kami, Ma,” ucap Arkana. “Apa mama tidak merasa berterima kasih karena ibu telah memberi kamu banyak kasih sayang saat mama tidak bisa memberikannya?”


Meyta meminta waktu beberapa hari pada kedua anaknya. Wanita itu bahkan pergi untuk mengunjungi dokter yang merawatnya sewaktu di rumah sakit jiwa. Dokter yang dengan suka rela membantunya untuk tinggal di rumah sakit walau kejiwaannya telah dinyatakan sehat. Dokter yang sudah dianggapnya sebagai sahabat.


“Kembalilah padanya kalau kamu memang masih mencintainya, Mey. Tapi ingat, kamu bukan istri satu-satunya. Jangan lagi merasa tamak dan ingin memiliki Pak Wirra hanya untuk dirimu sendiri.”


Anna tersenyum sumringah. Wanita itu bahkan melepas masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya.


“Aku tau kalau kalian berdua masih saling mencintai. Aku bahagia dengan keputusanmu, Mey. Dan aku tidak menyesal telah menjadikan kamu yang kedua bagi Wirra. Kamu memberiku banyak kebahagiaan, Mey. Semoga kamu dan Wirra bisa bahagia di sisa umur kalian.”


Dan beberapa hari kemudian, Wirra dan Meyta pun kembali menikah. Tak ada pesta mewah. Keluarga yang berkumpul pun hanya mereka. Kini, Meyta dan Wirra kembali resmi menjadi sepasang suami istri.


Wirra mengecup dahi Meyta setelah wanita itu kembali menjadi istrinya.


Dengan berjalan beriringan, Meyta dan Wirra memamerkan buku nikah mereka pada Anna.


Dan sehari setelah hari bahagia itu. Anna mengembuskan napas terakhir.


Semua orang menangisi kepergian wanita itu, tak terkecuali Meyta. Wanita itu benar-benar menyesal karena pernah menyakiti hati Anna berulangkali.


Andai dia punya keinginan untuk memonopoli Wirra, mungkin mereka semua bisa hidup bahagia bersama.


Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Waktu pun tak bisa terulang. Meyta hanya bisa bertobat dan memperbaiki diri.


Menjadi yang kedua adalah takdir yang dipilihnya. Mungkin itu sebagian dari rencana Tuhan agar dia bisa bertobat dan menjadi yang lebih baik. Walau penyesalan itu baru hadir saat usianya hampir senja, Meyta tetap mensyukurinya.


Karena berkat itu, dirinya tak menghabiskan masa tua seorang diri. Ada Wirra dan kedua anaknya di sampingnya.


Meyta merasa sangat bersyukur. Tuhan mengizinkannya untuk menjadi yang kedua.


...^^^T A M A T^^^...


...----------------...