
Kholil_PoV
*
Astagfirullah, mikir apa aku ini, bisa-bisanya berpikiran seperti itu lagi. Ingat dia hanya masa lalumu Kholil, dan sekarang kamu sudah mempunyai seorang istri, dia adalah Anna yang sedang menunggumu di rumah Kholil, tetdengar sisi lain dari dalam hatiku, memperingati.
Hingga hari sudahalam, akhirnya mobilku selesai di perbaiki. Sambil menunggu tadi aku dan Fera banyak mengobrol panjang lebar, membicarakan banyak hal, satu di antaranya adalah tentang dia yang menceritakan perihal masalah dengan kedua orang tuanya yang terus mendesak untuk menikah dengan pria yang tidak ia kenal, yang katanya usianya cukup matang, hampir seumuran dengan omnya—Adik dari Mamanya.
" Fera sekali lagi terima kasih banyak ya, sudah membantuku hari ini, aku nggak tahu harus dengan cara apa untuk membalasnya, kamu bilang saja jika ada masalah, siapa tahu aku bisa membantumu mencari jalan keluar, ya walau aku tidak berani janji." Ujarku dengan begitu serius. Fera terlihat ingin berbicara, namun terasa berat, entah apa yang akan ia bicarakan, aku masih terdiam menunggunya.
" Beneran kamu mau membantuku? Hmm, Lil, kalau begitu boleh aku minta tolong nggak? Ya anggap saja sebagai balsan agar kita tidak mempunyai hutang, gimana?" Tanyanya yang memperhatikanku.
" Ya kamu bilang aja, jika itu mudah, insya Allah aku akan membantumu." Jawabku begitu mantap.
" Beneran?" Aku langsung menangguk tanpa memikirkan hal yang lain." Kalau begitu besok siang kamu mau 'kan ikut aku ke rumah? Jadi kekasih palsuku agar pria itu tidak jadi melamarku, please, hanya ini satu-satunya cara agar aku terbebas dari perjodohan ini." Pintanya dengan wajah yang begitu memelas, membuatku tidak tega juga. Namun aku tak langsung menjawab permintaannya, sebab ini terlalu beresiko untuk rumah tanggaku, aku tidak ingin ada kesalapahan di antara aku dan Anna nantinya.
" Lil, kamu nggak mau ya? Ya sudah nggak apa-apa, aku nggak maksa kok." Lirihnya dengan wajah sendu, membuatku semakin tidak tega melihatnya.
" Baiklah insya Allah aku akan membantu, tapi aku tidak bisa menjajikan apapun, terlebih ini di luar kuasaku, niatku hanya ingin membantu saja." Jawabku akhirnya memberikan jawaban yang tentu saja langsung membuat wajahnya betseri-seri.
Detik berikurnya aku di buat terhenyak saat tiba-tiba Fera langsung memeluk tubuhku dengan erat, sungguh aku merasa jantungku bermasalah saat ini, ini tidak benar, aku sedikit mendorong tubuhnya ke belakang. Seolah baru sadar, ia cepat-cepat meminta maaf padaku. Ya aku bisa memaklumi mungkin karena tadi ia reflek saja saat merasa habagia, aku pun tak ingin mempermasalahkannya.
Hingga kami sama-sama pulang ke rumah masing-masing, setiba di rumah ternyata Anna tadi sudah menunggu kedatanganku hingga ia ketiduran di sofa panjang di ruang tengah. Ku kecup dahinya sekilas lalu berjalan ke kamar untuk bersih-bersih terlebih dahulu.
Tak lama aku kembali menghampiri istriku membawanya masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuhnya ke atas ranjang kami. Namun saat akan beranjak bangun Anna justru memeluk leherku hingga setengah badanku mengukungnya kembali.
" Eh sayang kok kamu bangun?" Tanyaku yang sedikit terkejur dengan tindakannya yang tiba-tiba itu. Bahkan jarak wajah kami hanya tersisa beberapa senti saja. pandangan kami saling mengunci.
" Kok kamu baru pulang Bang? Sedari tadi aku nungguin kamu lho, hingga samapai tidak sadar, aku pasti ketiduran ya tadi?" Ujarnya meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya. Suaranya yang serak-serak basah tentu saja membuatku meremang seketika.
" Iya, maaf tadi bannya bocor sayang, ponselku juga kehabisan baterai, kamu sudah makan belum?" Tanyaku dengan masih menatapi wajah cantiknya.
" Sudah tadi sore, kamu sendiri sudah makan belum, biar aku hangatkan makanannya, pasti sudah dingin." Anna melepaskan pelukannya akan beranjak bangun, namun aku tahan dengan cepat, membuatnya menatapku bingung." Kenapa Bang." Tanyanya.
" Abang sudah makan tadi sayang, tapi rasanya Abang mau makan lagi tapi makan yang lain, boleh?" Tanyaku yang berusaha menggodanya. Ya saat pandanganku terjatuh di bibir merekah itu, seketika aku langsung bergair4h, maklum sudah dua hati tidak mendapatkan jatah malamku.
" Makan yang lain? Contohnya apa?" Tanyanya balik menggoda dengan menurun, naikkan kedua alisnya tersebut.
" Nakal ya! Siapa yang ngajarin? Ya apa saja yang bisa di makan deh, yuk kita mulai ngadonnya, supaya bisa lamgsung tokcer." Ajakku yang mulai bersemangat. Kulihat istriku yang malu-malu.
" Issh,'kan kamu yang ngajarin aku. Minggir dululah aku mau buang air dulu." Ujarnya yang langsung mendorong d**aku hingga ia pun sedikit berlari saat sudah terlepas dariku, aku hanya bisa terkekeh melihat tingkahnya itu.
Tak lama istriku keluar, hanya dengan mengenakan pakaian tidur dengan kainnya yang tipis menerawang, hingga memperlihatkan segitiga emasnya, dan juga dua tonjolan puncak bukitnya yang memang tidak memakai pengaman seolah menantangku. Pasti dia mau godain aku ini? Tapi aku justru senang dia seperti ini.
" Kenapa Bang? Katanya lapar, makan sekarang atau nanti?" Tanyanya yang sengaja sekali menggodaku. Gair4hku langsung naik hingga ke ubun-ubun. Aku pun beranjak bangun dan berjalan menghampirinya, menghimpit tubuhnya hingga tubuh kami saling menempel.
" Ya, Abang sangat lapar sayang." Ucapku dengan suara mulai berat, hingga detik berikutnya bibir kami sudah saling bertaut, menyesap rasa yang selalu membuatku candu, sembari aku melucuti pakaian yang menempek di tubuh kami denhan getakan cepat.
Ku rebahkan tubuhnya ke atas ranjang, ku cumbu kembali dengan sanhat intens, hingga kurasa cukup lama pemanasan tak lama aku pun menyatukan tubuh kami, saling meliuk, mencari kenikmatan yang hakiki. berganti berbagai gaya yang kami sukai, sungguh tubuhnya bagaikan candu bagiku. Beberapa saat kemudian lemguhan panjang keluar dari kedua bubir kami, saling merasa puas.
" Terima kasih sayang, semoga cepat jadi." Ungkapku seperti biasa setelah ksmi memadu kasih, ya aku sengaja bicara begitu agar ia bisa mengerti jkka aku sangat memginginkan dirinya mengandumg anakku. Kulihat ia hanya tersenyum getir dengan kedua mata yang terpejam, kupeluk tubuhnya hingga kami sama-sama terlelap.
***
Keesokkan harinya seusai mandi pagi, Anna bertanya tentang Fera padaku, tentu saja aku terkejut bagaimana dia tahu tentang Fera? Hingga aku menyadari sedari tadi ia memegang ponselku ternyata, aku pun menjelaskan apa adanya, hanya saja aku tidak menjelaskan secra detail takut dia cemburu dan memikirkan hal yang tidak-tidak, lebuh baik aku tidak cerita, terlebih kami mempunyai janji yang tentu saja itu akan membuat Anna marah besar jika aku jujur, aku hanya merasa balas budi, setelah apa yang Fera lakukan tadi malam padaku.
" Nggak, baru datang juga kok, ayo sekarang saja, sebab jam satu nanti pria itu akan datang ke rumah, ini aku ijin bilangnya ke supermarket, tapi kita mampir dulu ke supermarket ya beli apa aja, agar kedua orang tuaku percaya." Jelasnya, aku hanya mengangguk mengikutinya.
Hingga sampailah kami di supermaket besar di kota ini, berharap tidak ada yang melihatku disini, sebab aku pergi bukan bersama Anna istriku. Namun sayang seribu sayang, bahaya tak bisa di cegah, tak lama ada seseorang yang memanggilku, dan suara itu sangat familiar sekali di telingaku.
" Eh, Anna, ka—kamu ngapain disini?" Tanyaku tergagap menatapnya. Aku tidak percaya istriku ada di tempat ini, aku seperti seorang suami yang kepergok telah selingkih dengan wanita lain, sia4l!!
" Seharusnya aku bertanya, ngapain Abang disini? Bersama wanita itu, dia wanita bernama Fera 'kan? Jawab jujur Bang!" Desisnya tajam, menahan amarah.
Tak menyangka istriku tahu semuanya, dan sepertinya aku harus jujur, yelebuh aku melihat istriku menangis, pasti dia sangat terluka. " Sayang dengar! Abang bisa jelaskan semuanya, ayo ikut Abang." Kutarik tangannya ke tempat lain, tentu saja aku sedikit malu, sebab banyak orang yang melihat kami bertiga. Ya walau Fera terdiam di tempat yang tak jauh dari kami tadi.
" Lepasin Bang sakit! Aku nggak mau! " Pekikknya yang semakin kencang, aku pun langsung melepaskannya.
" Dengar sayang, ini semua tidak seperti yang kamu lihat, Abang cuma berteman saja dengannya, dan—
" Dan apa? Dasar lelaki, kalau sudah kepergok banyak sekali alasannya! Silahkan Abang lanjutkan, jangan hubungi aku lagi." Desisnya kembali tajam, saat Anna akan melangkah pergi, dari sisi lsin kulihat Mbak Anniyah dan suaminya menghampiri kami berdua, Astagfirullah.. aku seperti suami yang ketangkap basah oleh istri dan keluarganya.
" Anna ayo kita pulang dulu, biar Abang jelaskan dulu." Ajakku kembali dan terus membujuk istriku.
" Mbak, Bang Kholil sudah selingkuh di belakangku, huhu.." Adunya kepada Mbak Anniyah iparku, kalau sudah begini aku semakin sulit untuk menjelaskan.
" Sudah-sudah, belum tentu yang kami lihat itu benat An, coba dengarin dulu penjelasannya." Ujat Mbak Anniyah yang berusaha membujuk istriku, mudah-mudahan Anna mendengar nasehat dari Mbaknya kali ini.
" Nggak! Pokoknya aku nggak mau denger, sudah sejak pagi aku curiga dengannya Mbak. Aku ikut pulang Mbak ya?" Tolak Anna yang tak ingin mendengarkan penjelasanku.
" Bang Kholil, biarkan Anna ikut dengan kami dulu ya, mungkin dia butuh ketenangan." Ujar Mbak Anna padaku, walau berat akhirnya aku hanya bisa mengangguk pasrah, semoga Mbak iparku ini bisa menasehati Adiknya.
" Aku titip Anna Mbak kalau begitu?" Ucapku lirih, mencoba memahami sikap keras kepalanya Anna. Ya ini juga salahku yangsudah tak jujur, tapi bagaimana nasi telah menjadi bubur.
Sepeninggalan mereka bertiga, Fera menghampiriku, " Lil, aku minta maaf ya, gara-gara aku, kamu dan istrimu salah paham. Aku pulang sendiri saja." Ujar Fera yang menyesal, namun sebelum dia melangkah pergi, aku sudah mencekal lengannya.
" Nggak apa-apa. Ayo aku antar pulang." Ajakku yang tetap ingin membantunya, aku merasa tidak enak jika aku membiarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri, sementara dia sudah menolongku tadi malam.
" Beneran? Apa nggak mending kamu susulin istrimu dulu. Sungguh aku tidak apa kok " Sesalnya lagi.
Tapi aku yang tidak enak padamu Fera, ucapku yang tentu saja dalam hati.
" Nggak apa-apa, istriku memang begitu kalau sedang marah, selalu menggemaskan." Ujarku yang justru tengah memuji istriku sendiri.
" Sepertinya kamu cinta banget sama, aku jadi iri—Eh maaf bukan bermaksud.."
" It's okay." Akhirnya aku pun mengantarkan Fera pulang je rumahnya, dan tentu saja membantunya sebisaku.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.