
“Pemiliknya adalah… Tuan Samudra, ayah dari saudara Sabrina.”
Suasana ruang sidang menjadi gaduh karena pernyataan mengejutkan dari Hendry. Termasuk Natasya. Ia sama sekali tidak mengetahui hal ini.
“Apa maksud anda?! Jangan sembarangan memfitnah!” teriak seseorang dari bangku pengunjung.
“Yang di sana harap tenang!” tegur hakim ketua.
Orang yang berteriak tadi adalah seorang DPR bernama Mario Samudra, tidak lain dan tidak bukan adalah ayah Sabrina. Tidak lama kemudian, beberapa petugas menangkap ayah Sabrina itu atas perintah hakim.
“Apa-apaan ini?! Lepaskan saya! Saya ini seorang DPR! Berani-beraninya kalian main-main dengan saya!” berontak Mario ketika hendak dibawa pergi oleh para petugas.
“Tuan Mario Samudra, anda ditahan karena terbukti sebagai pemilik senjata dalam kasus penculikan ini,” jelas hakim.
Ayah Sabrina itu tidak bisa mengelak lagi saat dibawa secara paksa sebagai tahanan.
“Baiklah. Karena muncul tersangka baru sehingga banyak yang perlu dipertimbangkan, maka sidang ini akan dilanjutkan dua jam lagi,” ucap hakim, “dan untuk saudara Natasya, anda dinyatakan bebas karena perbuatan anda terbukti sebagai pembelaan diri berdasarkan pernyataan para saksi.”
Seluruh keluarga Adikusuma merasa lega dengan keputusan hakim tersebut. Akhirnya, Natasya bisa kembali pulang dengan mereka.
Brak!
Sabrina menggebrak meja membuat semua orang menoleh ke arahnya, “lalu, bagaimana dengan saya?! Kami datang sebagai tersangka bersama-sama, tapi kenapa hanya dia yang dibebaskan?! Saya juga tidak bersalah!”
Tok tok tok
“Tolong tenang!” hakim mengetuk palu dan berteriak karena mulai kesal, “saudara Sabrina! Tolong jangan bersikap tidak sopan di pengadilan!”
“Anda berbeda dari saudara Natasya yang datang sebagai tahanan. Anda adalah narapidana!” imbuh hakim ketua.
Sabrina hanya bisa diam menahan marah sekaligus malu karena disebut sebagai narapidana. Wanita licik itu menatap tajam Natasya yang kini sedang tersenyum mengejek dirinya.
‘Kamu pantas mendapatkannya, Sabrina,’ batin Natasya puas.
...----------------...
Natasya sudah mengganti pakaian tahanannya menjadi pakaian biasa. Kemudian, ia pun segera keluar untuk menemui keluarganya yang sedang menunggu persidangan selanjutnya di ruang sidang.
Ketika memasuki ruang sidang, ia langsung disambut dengan sang suami yang tengah berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya. Natasya membalas senyuman itu dengan senyumannya yang tak kalah manis.
‘Haah… aku merindukan senyuman hangat itu,’ batin Natasya sambil berlari kecil menghampiri sang suami tercinta.
Brukk
“Woah… pelukanmu sangat kuat!” ucap Johnathan sambil berusaha menjaga keseimbangannya saat sang istri tiba-tiba menerjang tubuhnya.
Natasya mendongak dengan wajah ceria, “saya sangat rindu dengan Dokter John.”
Johnathan terkekeh pelan, “saya juga rindu kamu, Natasya.”
Pasangan itu berpelukan sambil menyelam ke dalam manik mata masing-masing di siang bolong. Mereka benar-benar Bahagia karena bisa berkumpul lagi tanpa beban.
“Ekhm! Dunia serasa milik berdua, ya?”
Johnathan dan Natasya menoleh ke arah Alan yang duduk sambil memperhatikan mereka dengan muka masam. Sementara itu, Hendry yang berada di kursi sebelahnya sudah terkikik geli karena interaksi mereka.
“Jangan mengumbar kemesraan dulu. Kita masih berada di pengadilan, kalau kalian lupa,” sinis Alan.
“Kenapa kamu yang kesal?” goda Johnathan kepada adiknya.
Alan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya jengah tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan kakaknya. Natasya hanya tertawa melihatnya.
“Oh iya, kapan ayah menyiapkan bukti tentang kepemilikan senjata itu?” tanya Natasya yang sudah penasaran sejak tadi.
Hendry tampak berpikir sebentar, “pagi ini.”
Natasya cukup terkejut, “wah… mendadak sekali. Tapi, kenapa tidak memberitahuku?”
“Hei, ayah terlalu sibuk menyiapkan bukti untuk sekedar memberitahumu,” jawab Hendry dengan santai.
“Apa? Terlalu sibuk? Tapi tetap saja ayah harus memberitahu saya, saya ini kan klien ayah,” protes Natasya dengan nada yang sangat kesal.
“Yang penting kan ayah bisa menangani kasusmu dengan baik,” balas Hendry yang tampak tidak terganggu dengan kekesalan Natasya.
Natasya menatap tidak percaya kepada ayah mertua sekaligus dosennya ini. Bisa-bisanya menyembunyikan hal penting seperti itu dari kliennya sendiri.
“Waah… tidak bisa dipercaya,” gumam Natasya.
“Kejutan kecil?!” seru Natasya tak percaya, ia pun terus menggerutu kesal karena hal ini.
Sedangkan Alan dan Johnathan sudah tertawa dari tadi karena melihat perdebatan itu.
“Apa kamu akan terus memarahi ayah karena hal ini, Natasya?” tanya Johnathan diiringi dengan kekehannya.
Natasya hanya diam sambil menatap kesal Hendry yang justru terlihat senang karena berhasil membuatnya marah. Apa-apaan dengan keluarganya sekarang? Menyebalkan sekali.
“Sudah sudah, persidangan akan segera dimulai lagi,” ucap Hendry.
Tidak lama kemudian, hakim pun memasuki ruangan dan melanjutkan sidang yang tadi sempat dijeda selama dua jam.
...----------------...
Sementara itu, di rumah keluarga besar Adikusuma, para pekerja sibuk untuk menyiapkan makan siang dengan berbagai menu special untuk menyambut kedatangan Natasya.
“Yeay! Mama pulang! Mama pulang!” seru Bhara sambil lari-larian di rumah.
Anjani tertawa kecil melihat tingkah ceria cucunya, “Bhara sangat senang ya karena mama pulang hari ini?”
Bhara berhenti berlari dan memandang neneknya dengan mata memancarkan binar semangat, “iya! Bhala cenang cekali! Nanti Bhala bica main, makan, tidul cama mama lagi.”
Anjani senang karena Bhara kembali ceria, ia pun ikut tersenyum bahagia. Kemudian, seorang ART memasuki rumah dan menghadap Anjani.
“Tuan Hendry dan yang lain sudah datang, Nyonya,” lapor ART itu.
Bhara yang mendengarnya langsung berlari keluar rumah.
“MAMAAA!!!!”
Natasya yang baru saja keluar dari mobil pun terkejut mendengar teriakan Bhara.
Bruk!
“Ugh!” tubuh Natasya terhuyung ke belakang ketika kakinya ditubruk oleh sang anak.
Natasya tertawa melihat anaknya yang begitu antusias dengan kepulangannya. Perempuan itu pun mengangkat tubuh Bhara ke dalam gendongannya.
“Celamat datang, Mama!” seru Bhara.
Natasya tersenyum lebar, “hai, Sayang. Rindu mama, ya?”
Bhara mengangguk antusias, “ayo makan belcama, Ma.”
“Ayo! Pasti menu makan siang hari ini sangat spesial,” sahut Alan yang langsung berlari ke dalam rumah untuk makan siang.
Kini, seluruh anggota keluarga Adikusuma berkumpul di meja makan. Suasana hangat meliputi makan siang hari ini.
“Jadi, apa hukuman yang didapatkan oleh para pelaku?” tanya Anjani di sela acara makannya.
“Dua orang anak buah Haikal dijatuhi hukuman enam tahun penjara,” jawab Hendry, “Sabrina dikenakan pasal berlapis karena menjadi dalang penculikan ini, jadi hukumannya ditambah menjadi 20 tahun penjara.”
“Huh! Dasar wanita kriminal! Banyak sekali kejahatannya,” umpat Anjani.
“Ibu… jangan mengatakan hal-hal buruk di depan Bhara, nanti jadi kebiasaan,” tegur Johnathan.
Padahal anak itu sedang menikmati suapan makanan lezat dari mamanya. Bhara tidak peduli dengan yang lain, ia hanya ingin bermanja-manja dengan sang mama. Tapi tetap saja, tidak baik berbicara buruk di hadapan anak kecil.
“Oh iya, lalu ayah Sabrina, dia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena penyalahgunaan senjata api,” imbuh Hendry, “entah apa yang pria itu lakukan sampai bisa mendapatkan pistol secara legal padahal tidak memenuhi syarat.”
“Benar-benar keluarga tidak bermoral,” gumam Anjani.
“Sudahlah, yang penting kita bisa berkumpul bersama lagi sekarang,” ucap Johnathan mencoba memperbaiki suasana.
Anjani setuju dengan ucapan Johnathan dan melihat ke arah Natasya dan Bhara yang Tengah berbahagia di dunia mereka sendiri. Nyonya besar itu pun tersenyum lembut karena rumah besarnya kembali diliputi dengan kebahagiaan.
...----------------...
Hai all 😊😊 gimana nih kabarnya?? Semoga selalu happy di tengah kesibukan dunia yang makin menjadi-jadi 😭😂
...FYI, persidangan biasanya gak akan secepat itu ya, sidang yang asli biasanya sampai berbulan-bulan. Apalagi kalau ada tersangka baru, pasti butuh waktu lama buat ngumpulin bukti....
...Tapi karena ini adalah novel, dan author berkehendak agar sidang cepat selesai, jadi... Harap maklum ♥♥♥...