
Drrrt… Drrrt…
Ponsel Johnathan kembali berdering dengan layar bertuliskan ‘Nomor Tidak Dikenal'. Johnathan buru-buru mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?” ucap Johnathan setelah telepon tersambung.
Terdengar kekehan pelan di sana, “sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan istri dan anakmu, ya?”
Johnathan menahan emosi mendengar suara penculik itu, “jangan sakiti mereka… atau kamu akan tahu sendiri akibatnya.”
“Hahaha… kamu tidak sedang dalam posisi yang tepat untuk mengancamku, Tuan Johnathan,” ucap penculik itu, “kenapa kamu belum juga melakukan apa yang kuminta?”
Johnathan hanya diam mendengar si penculik meneruskan kalimatnya.
“Cepat cabut tuntutan terhadap Sabrina, serta ceraikan Natasya malam ini juga. Atau… anakmu tidak akan selamat.”
“Jangan!” panik Johnathan, “tolong jangan sakiti anakku.”
“Kalau begitu, cepat lakukan yang aku perintahkan,” kata si penculik.
Johnathan mengeraskan rahangnya karena geram, lalu berucap pelan, “baiklah… akan segera aku lakukan.”
“Bagus,” ucap si penculik itu puas dengan keputusan Johnathan.
Setelah itu, panggilan pun terputus. Para polisi dengan sigap bergerak melanjutkan pekerjaan mereka. Dan tentu saja, Johnathan tidak akan menuruti perintah dari si penculik.
“Kami sudah menemukan titik koordinat lokasi penelepon itu!” seru polisi yang bertugas melacak lokasi penculik melalui telepon Johnathan.
“Baik, kita bergerak sekarang!” perintah komandan polisi, lalu komandan polisi itu menoleh kea rah Johnathan dan Alan, “Tuan Johnathan dan Tuan Alan, mari ikut dengan mobil saya.”
Kemudian, mereka semua segera meluncur ke lokasi penculik Natasya dan Bhara. Ada total 4 mobil milik kepolisian, bukan mobil resmi polisi, karena mereka masih harus melakukan penyelamatan secara diam-diam. Selain itu, ada dua mobil ambulance juga.
“Apakah lokasinya jauh?” tanya Johnathan yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri dan anaknya.
“Tidak begitu jauh, hanya sekitar tiga puluh menit dari sini,” jawab komandan polisi.
Johnathan dan Alan menghela napas (sedikit) lega. Mereka terus berdoa agar upaya penyelamatan ini berjalan dengan lancar.
...----------------...
Di sisi lain, Natasya terus menunggu dengan sabar. Ia berharap agar Haikal atau siapapun segera datang ke ruangannya, sehingga Natasya bisa melarikan diri dari sana.
Kalau dibilang takut, tentu saja Natasya merasa takut. Ia tidak tahu sejauh apa Haikal akan bertindak buruk kepadanya. Namun, perempuan itu harus mengesampingkan rasa takutnya agar bisa segera menyelamatkan sang anak.
Cklek
Akhirnya, penantian Natasya pun berakhir…
Natasya mendongak untuk melihat siapa yang datang. Dan benar saja, saat ini, Haikal sedang berjalan menuju ke arahnya sambil membawakan sepiring makanan.
‘Cih! Berusaha terlihat manusiawi, huh?’ cibir Natasya dalam hati.
Haikal mendekati Natasya, lalu menunduk di hadapan perempuan yang ia cintai itu. Emm… bukan cinta, tentu saja, melainkan obsesi.
“Kamu pasti lapar ya, Sayang,” ucap Haikal berlagak sedih, “sini aku suapi ya.”
Natasya menatap sinis laki-laki di hadapannya itu. Haikal hanya membalas tatapan itu dengan senyum manis, yang justru terlihat semakin menyebalkan untuk Natasya.
Haikal menyamankan posisi duduknya di depan Natasya, lalu mengarahkan sesendok nasi ke mulut perempuan itu, “ayo buka mulutmu, Aaaa~”
Bukannya membuka mulut, Natasya malah mengalihkan wajahnya ke arah lain. Haikal yang merasa ditolak pun menjadi geram.
“Natasya, jangan membuat aku emosi. Cepat buka mulutmu dan makan!” perintah Haikal dengan suara meninggi.
Natasya menatap tajam Haikal, “aku tidak sudi!”
Alis Haikal menukik tajam mendengarnya, “dasar keras kepala! Terserah kamu mau makan atau tidak!”
Duakk!!
Tubuh Haikal langsung ambruk ke tanah setelah kepalanya dihantam menggunakan benda keras dari belakang. Tidak, Haikal tidak pingsan, hanya saja kepala belakangnya saat ini terasa sangat sakit.
Dalam keadaan berbaring di lantai dingin sambil memegangi kepalanya, Haikal bisa melihat Natasya yang samar-samar mendekatinya dari belakang sambil membawa sebuah balok kayu.
“Seharusnya ini tidak perlu terjadi, jika sejak awal kamu tidak macam-macam denganku,” ucap Natasya dengan nada dingin.
Haikal yang masih merasa pusing itu pun hanya bisa terdiam kesakitan saat Natasya keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya dari luar. Laki-laki itu terus mengumpat saat mendengar suara kunci diputar dari luar.
...----------------...
Setelah keluar dari ruangan tempat ia disekap, serta mengunci Haikal di dalam ruangan itu, Natasya memindai ke sekeliling untuk memastikan keadaan. Sepi, tidak ada siapapun di sana, hanya ada lorong yang ujungnya berbelok ke kiri.
Natasya juga tidak melihat ruangan lain di Lorong ini selain ruangan ia disekap tadi. Jadi perempuan itu berasumsi bahwa ruangan tempat Bhara disekap ada di lorong yang lain.
Ia pun berjalan mengendap-endap menyusuri lorong. Tangannya terus siaga memegang balok kayu untuk melindungi diri. Jantung Natasya berdegup kencang, ia ketakutan sekarang.
‘Ya Tuhan, tolong lindungi aku… semoga aku tidak ketahuan dan bisa segera menyelamatkan anakku,’ doa Natasya dalam hatinya.
Setelah sampai di ujung lorong, Natasya tidak langsung berbelok. Perempuan itu mengintip sedikit untuk memastikan apakah ada orang di lorong yang lain.
Dan benar saja, di lorong itu, ada seorang pria berbadan besar yang sedang berjaga di depan sebuah ruangan. Pria itu adalah salah satu orang yang disewa oleh Haikal untuk melancarkan aksi penculikannya.
‘Sepertinya, Bhara ada di dalam ruangan itu,’ batin Natasya.
Ketika pria itu bergerak membelakanginya, Natasya langsung berjalan cepat ke arah pria itu, dan…
DUAKK!!
Natasya memberi pukulan yang sangat keras di kepala belakang pria itu hingga jatuh pingsan.
‘Dia tidak akan tewas, kan?’ batin Natasya saat melihat orang yang baru saja ia pukul langsung tumbang.
Natasya pernah membaca tentang titik lemah manusia. Dan ia mengetahui kalau memukul tengkorak belakang seseorang dengan keras bisa membuat orang itu kehilangan kesadaran, atau bahkan menyebabkan kematian.
Perempuan itu sedikit khawatir, tapi ia langsung mengabaikan kekhawatirannya yang tidak penting itu. Ia pun langsung membuka pintu ruangan yang untungnya tidak dikunci itu.
Cklek
Dugaan Natasya benar, anaknya ada di dalam sana. Hati Natasya terasa ditusuk-tusuk saat melihat Bhara yang sedang tertidur, atau mungkin pingsan, dalam kondisi kedua tangan terikat.
Natasya tidak bisa menahan air matanya lagi, ia langsung menangis dan berlari menghampiri anaknya.
“Hiks… Bhara!” panggil Natasya.
Bhara pun membuka matanya terkejut mendengar suara teriakan Natasya, anak itu langsung menangis melihat mamanya datang.
“Huaaa… mama! Bhala takut,” ucap anak itu diiringi tangisannya.
Natasya langsung melepas ikatan di tangan anaknya itu. Ia sangat miris melihat tangan lembut milik bayi kecilnya itu menjadi merah dan sedikit lecet akibat ikatan tali.
Setelah ikatan itu terlepas, Natasya langsung memeluk Bhara dengan erat, “ssst… Bhara jangan takut ya, Nak. Mama sudah datang… mama akan melindungi Bhara.”
“Hiks… mama… ayo kita pulang,” lirih Bhara.
Natasya mengangguk sambil menangis tanpa suara. Perempuan itu terus mendekap tubuh mungil anaknya yang bergetar ketakutan. Ia tidak bisa membayangkan betapa takutnya anak kecil itu Ketika dikurung selama berjam-jam di ruangan ini sendirian.
...----------------...
Natasya sudah bertemu Bhara tuh... Kira-kira, bisa kabur dari sana gak ya???
...🚨 cek konten POV di instagram dan tiktok @cacalavender 🚨...