
Warning : terdapat adegan penyelewengan kekuasaan yang melanggar hukum. Tidak untuk ditiru!!!
Setelah mendapatkan tanda tangan persetujuan dari ibu panti, Natasya segera pergi untuk menemui kepala dinas sosial. Karena ini sudah larut malam dan jam kerja sudah berakhir, maka Natasya tidak menuju ke kantor dinas sosial, melainkan ke rumah dari pimpinan itu. Untung saja kepala dinas sosial adalah kenalan Hendry, jadi Natasya bisa lebih mudah untuk meminta surat izin adopsi.
Natasya sudah sampai di alamat yang tadi diberikan oleh Hendry. Ia langsung menuju ke pos satpam yang ada di gerbang rumah tersebut.
"Permisi, Pak," panggil Natasya kepada si satpam.
"Iya, Mbak. Mau mencari siapa?" tanya satpam itu.
"Apa benar ini rumahnya Pak Surya?" tanya Natasya.
"Benar. Mbak mau mencari Pak Surya?" balas satpam itu, yang dibalas dengan anggukan oleh Natasya.
"Mbak sudah membuat janji dengan Pak Surya?" tanya satpam itu.
"Sudah, Pak. Atas nama Natasya," jawab Natasya.
"Oh, Mbak Natasya. Mari Mbak, saya antar ke dalam," ajak satpam itu.
Setelah itu, Natasya mengekor pada satpam yang sedang mengantarnya untuk pergi ke ruang tamu rumah tersebut. Saat memasuki rumah, Natasya berdecak kagum dalam hatinya. Rumah kepala dinas sosial ini sangat luas dengan berbagai perabotan mahal di dalamnya, sebelas-dua belas dengan rumah keluarga Adikusuma.
Satpam itu mempersilahkan Natasya untuk duduk dulu di sofa ruang tamu sembari menunggu Surya datang. Natasya hanya menurut saja. Ia duduk di sana sambil mengeluarkan berkas-berkas yang ada di dalam map agar nanti bisa segera diurus oleh Surya.
"Natasya?" panggil seseorang.
Natasya menoleh ke arah suara pria yang memanggilnya. Gadis itu menebak kalau orang yang menghampirinya adalah si pemilik rumah. Maka dari itu, ia pun berdiri dari duduknya.
"Pak Surya?"
Pria itu mengangguk sambil tersenyum, "silahkan duduk."
"Hendry sudah menyampaikan kepada saya maksud dari kedatangan kamu," ucap Surya saat mereka berdua sudah duduk.
"Jadi, kamu mau mengadopsi seorang anak, ya?" imbuh Surya.
Natasya menganggukkan kepalanya, "benar sekali, Pak. Saya mau mengadopsi anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya."
Surya menghela napas panjang, "niat kamu mulia, Natasya, sayang sekali kamu tidak memenuhi syarat. Kamu tahu itu, kan?"
Senyum Natasya memudar mendengar ucapan Surya. Apakah ia akan gagal kali ini? Dalam hati, ia terus berdoa agar proses ini segera dilancarkan.
Surya tertawa kecil, "tenang saja, Natasya. Itu sebabnya Hendry melakukan semua ini untuk kamu. Dengan koneksi dan jabatannya, dia bisa melakukan semua ini."
Natasya menghela napas lega, "astaga, Pak. Saya kira bapak tidak akan memberi persetujuan."
"Haha... Tidak, Natasya. Bahkan, saya sudah membuat surat rekomendasi pengangkatan anak untuk kamu," ucap Surya sambil meletakkan selembar kertas di meja.
Natasya membelalakkan mata terkejut, "hah?! Secepat ini?! Bapak bahkan belum menilai berkas-berkas yang saya bawa."
Surya terkekeh, "berkas-berkas itu untuk kamu ajukan ke pengadilan, Natasya. Saya tidak perlu repot-repot melihatnya. Kamu tidak lupa kan kalau kita tidak melakukan ini sesuai prosedur hukum?"
Natasya diam dan mencerna apa yang dikatakan oleh Surya. Benar, sejak awal mereka sudah melakukan kecurangan dalam proses adopsi ini. Hanya pengajuan ke pengadilan saja yang cukup sulit untuk dicurangi.
"Ya sudah, ini suratnya. Besok kamu pergi ke pengadilan negeri untuk mengajukan berkas-berkas ini," ucap Surya sambil menyerahkan surat itu dan diterima oleh Natasya.
"Terima kasih, Pak."
Setelah itu, Natasya berpamitan dan segera kembali menuju firma hukum Adikusuma. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tetapi Hendry pasti belum pulang dan masih berada di kantor.
...----------------...
Tok tok tok
Tapi, Natasya tidak mendengar jawaban dari dalam. Ia pun langsung membuka pintu dan masuk begitu saja. Ternyata ruangan itu kosong, Hendry tidak berada di sana.
"Loh, Pak Hendry kemana? Apa beliau sudah pulang, ya?" gumam Natasya.
Ia pun mengambil ponsel yang ada di tasnya dan berniat untuk menghubungi Hendry. Ternyata kepala pengacara itu sudah mengiriminya pesan terlebih dahulu sejak pukul 7 tadi.
Pak Hendry
/Saya pergi menemui pimpinan KUA untuk mengurus pemalsuan riwayat pernikahan kamu.
/Nanti kalau sudah selesai menemui Surya, kamu letakkan saja berkas-berkas itu di meja saya.
/Jangan pulang terlalu larut, Natasya. Besok kamu harus pergi ke pengadilan.
Natasya tersenyum kecil membaca pesan terakhir Hendry. Ia merasa sangat berterima kasih kepada pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu.
"Pak Hendry baik banget sih. Udah bantuin aku buat urus pengadopsian Bhara, beliau juga masih khawatirin aku," gumam Natasya memuji Hendry.
Kemudian, gadis itu pun melangkahkan kakinya menuju meja kerja Hendry. Ia meletakkan map berisi berkas-berkas pengadopsian itu di tengah-tengah meja. Saat hendak berbalik, ia tidak sengaja menyenggol tumpukan map yang ada di pinggir meja Hendry hingga map-map tersebut jatuh dan isinya berserakan.
"Astaga, Natasya! Kamu ceroboh banget sih!" marah Natasya kepada dirinya sendiri.
Ia pun segera bersimpuh dan memasukkan kertas-kertas itu ke dalam map. Tangannya bergerak lihai karena ia ingin segera pulang. Ngomong-ngomong, ia juga was-was jika tiba-tiba ada orang yang masuk dan melihatnya seperti itu, duh pasti malu sekali. Namun, gerakan tangan Natasya terhenti ketika melihat sebuah map dengan isi yang hampir keluar. Yang menyita perhatiannya adalah foto Bhara yang ada di salah satu kertas di dalam map tersebut.
"Hah, apa ini?" ucap Natasya bertanya-tanya.
Sebenarnya, ia tidak ingin lancang untuk melihat berkas yang bukan menjadi urusannya. Tapi itu tentang anaknya, maka ia merasa berhak tahu. Natasya mengambil selembar kertas itu untuk diperiksa isinya. Bola mata Natasya membelalak lebar setelah membaca isi surat tersebut.
"Apa-apaan ini?!"
Itu adalah surat keterangan identitas Bhara yang digunakan untuk keperluan adopsi. Surat itu sama persis dengan surat yang ada di map milik gadis itu tadi. Tapi bedanya, nama calon orang tua asuh yang tertera di sana bukanlah namanya, melainkan Johnathan Adikusuma.
Natasya masih belum mengerti apa maksud dari surat itu. Ia pun segera mengambil map tersebut untuk melihat isi semua berkas yang ada di dalamnya. Tangan Natasya gemetar, ia bisa merasakan ada hal buruk yang telah terjadi.
Ia melihat satu per satu kertas-kertas tersebut. Gadis itu sangat syok dan tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Hiks... Kenapa?... Kenapa Pak Hendry tega bohongin aku dan ngelakuin ini?...," lirih Natasya sambil terisak pelan.
Berkas-berkas itu sama persis dengan miliknya, kecuali surat persetujuan dari ibu panti. Semua berkas itu menyatakan kalau Johnathan yang akan menjadi ayah angkat Bhara. Natasya tidak mengerti apa tujuan Hendry dan keluarganga melakukan ini. Tapi yang jelas, keluarga Adikusuma telah mempermainkan dirinya.
Gadis itu mengusap air matanya dengan kasar. Mata yang memancarkan kesedihan tadi seketika berubah menjadi pancaran amarah.
"Aaaaaaa!!!"
Srett!!
Natasya berteriak marah, lalu merobek semua berkas pengadopsian Bhara atas nama Johnathan. Setelah itu, ia pun berdiri dan bergegas keluar dari ruangan itu. Meninggalkan kertas-kertas yang masih berserakan di bawah meja kerja sang kepala pengacara.
Tujuannya kini adalah kediaman Adikusuma. Tidak peduli malam yang sudah semakin larut, ia tetap menuju ke sana. Hatinya sudah dilingkupi amarah dan berbagai pertanyaan. Rasa hormatnya kepada keluarga Adikusuma lenyap begitu saja.
...----------------...
Info : proses mengajukan izin adopsi ke dinsos gak semudah itu ya (kalau pakai prosedur yang sesuai), butuh waktu berbulan-bulan.
Terima kasih buat para pembaca yang udah ngasih like, komen, dan vote ♥♥
Author sangat menghargai bentuk apresiasi dari kalian 😊😊