Mama Untuk Bhara

Mama Untuk Bhara
27 : Undangan


Natasya melamun di depan meja rias kamarnya. Ia baru saja selesai berdandan, dan kini gadis itu mulai merenungi tentang apa yang telah terjadi.


"Haah~ jadi, aku benar-benar udah mau nikah nih?" gumam Natasya.


Gadis itu menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya yang terlihat lelah berhasil ditutupi oleh make-up tipis.


"Aku masih terlalu muda buat bangun rumah tangga," lirih Natasya, "tapi ini semua demi Bhara, anakku."


Tes...


Setetes air mata Natasya lolos begitu saja. Selama ini, ia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun dan tidak pernah berpikir tentang pernikahan. Namun, ia tetap seorang perempuan yang memiliki impian indah untuk menikah dengan orang yang ia cintai kelak.


Ting tong...


Natasya tersentak, "itu pasti Dokter Johnathan."


Gadis itu segera menghapus air matanya, lalu bergegas menuju pintu depan.


Cklek!


Pintu rumah Natasya pun terbuka. Dan benar saja, itu adalah Johnathan yang memakai pakaian formal berwarna merah.



Jantung Natasya tiba-tiba berdegup dengan kencang melihat Johnathan malam ini. Pria itu terlihat sangat tampan dan memancarkan aura mahal, membuat Natasya menjadi semakin tidak percaya diri.


'Huuh~ apa aku pantas jadi istrinya? Orang mahal ini harusnya juga bersanding sama yang mahal juga,' batin Natasya.


Padahal, tanpa gadis itu sadari, Johnathan juga menatap Natasya dengan tatapan kagum.



Natasya yang memakai gaun panjang berwarna putih membuat pria itu terpana dengan kecantikannya yang entah mengapa semakin menguar malam ini.


"Dokter John," panggil Natasya.


"Eh, iya, Natasya," jawab Johnathan yang tersadar dari lamunannya.


"Eum... Kita langsung berangkat sekarang?" tanya Natasya.


Johnathan menganggukkan kepalanya, "iya, kita langsung berangkat aja, keluarga saya udah nungguin. Lagipula, kita juga harus jemput Bhara dulu di panti asuhan."


"Kalau begitu, saya mau ambil hp sama dompet dulu di dalam," ucap Natasya.


Johnathan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah itu, gadis itu pun berjalan cepat ke dalam rumah untuk mengambil ponsel dan dompetnya.


"Haah~ kenapa jantungku jadi deg-degan parah gini sih," ucap Johnathan pelan, sambil memegangi dada kirinya, "udahlah, kayaknya aku cuma gugup gara-gara mau nikahin dia."


Tak lama kemudian, Natasya keluar sambil membawa tas selempang berukuran kecil.


"Udah siap?" tanya Johnathan.


Natasya menganggukkan kepalanya, "udah, Dokter John."


Johnathan tertawa pelan mendengarnya, "gimana kalau kita ngomongnya santai aja, Natasya? Kita kan udah mau nikah, panggil aku 'Kak John' aja, jangan pakai embel-embel 'dokter'."


"Eh?" Natasya masih merasa canggung, ia tidak pernah bertemu Johnathan sebelumnya kecuali di situasi formal seperti di rumah sakit. Jadi, ia sudah terbiasa berbicara formal kepada calon suaminya itu.


"Natasya?" panggil Johnathan yang tidak kunjung mendapat jawaban dari Natasya.


"Eh... I-iya, Kak John," cicit Natasya membuat Johnathan tersenyum gemas.


Kemudian, mereka berjalan beriringan menuju mobil Johnathan yang terparkir rapi di halaman rumah Natasya. Sebelum Natasya sempat membuka pintu penumpang, Johnathan sudah berlari kecil dan membukakan pintu untuknya.


"Silahkan," ucap Johnathan sambil tersenyum manis.


"Eh, i-iya, terima kasih," gugup Natasya.


Ini adalah hal baru untuk gadis itu. Pertama kalinya ia diperlakukan bak seorang putri. Eum... Sebenarnya, dulu Alan pernah melakukan itu kepadanya. Tapi Alan kan sahabatnya, jadi ia tidak merasakan apa pun.


Natasya duduk manis di kursi penumpang. Gadis itu memperhatikan Johnathan yang berlari kecil memutari mobil, lalu masuk di kursi pengemudi.


Natasya terus memperhatikan pahatan wajah Johnathan yang tampak begitu sempurna saat dilihat dari samping. Tiba-tiba dokter muda itu menoleh ke arah Natasya. Hal itu membuat Natasya mengalihkan pandangannya ke arah lain dan salah tingkah karena tertangkap basah memerhatikan pria itu.


"Ada apa? Kenapa kamu lihatin wajahku kayak gitu?" tanya Johnathan.


"Hah?" Natasya menoleh, lalu menggeleng pelan, "ng-nggak ada apa-apa."


Natasya membelalakkan matanya, "eh? Gak usah!"


Kemudian, gadis itu buru-buru memakai sabuk pengamannya. Ia tidak siap jika harus menerima perlakuan spesial dari pria di sampingnya itu lagi. Johnathan hanya tertawa pelan melihat tingkah Natasya yang menurutnya cukup menggemaskan.


Setelah itu, Johnathan mulai melajukan mobilnya menuju panti asuhan Bhara. Selain mengundang Natasya, keluarga Adikusuma juga mengundang Bhara untuk makan malam bersama.


...----------------...


Mobil yang dikendarai oleh Johnathan dan Natasya sudah sampai di halaman panti asuhan. Mereka bisa melihat Bhara sudah menunggu mereka di teras panti. Anak itu kini sedang duduk dipangku oleh ibu panti. Mereka berdiri saat melihat mobil itu berhenti di depan mereka.


"Mama!"


Bhara langsung memanggil Natasya dengan suara kencang sesaat setelah gadis itu turun dari mobil.


"Hai, Sayang!" balas Natasya sambil merentangkan kedua tangannya.


Bhara segera berlari dan menerjang Natasya. Mama dan anak itu saling berpelukan hangat. Pemandangan ini membuat seorang pria di sebelah mereka tersenyum lembut. Natasya melepas pelukannya, lalu memandangi anak manis di depannya ini.


"Waah~ ganteng banget sih anak mama," puji Natasya.



"Bunda yang mendandani Bhala," seru anak itu dengan nada ceria.


Bunda adalah sebutan dari anak-anak panti asuhan kepada ibu panti. Natasya menoleh ke arah ibu panti yang berada agak jauh di belakang Bhara dengan senyum terima kasih.


"Eh, papa?" ucap Bhara yang bari saja menyadari kehadiran Johnathan.


"Iya, Bhara. Ini papa," balas Johnathan.


Bhara langsung beralih dari hadapan Natasya, lalu anak itu memeluk kaki pria dewasa yang ia panggil papa. Johnathan merunduk agar ia bisa berpelukan dengan anaknya, lalu mengangkat anak itu ke dalam gendongannya.


"Yeay! Papa juga datang jemput Bhala!" seru Bhara dengan ceria.


Johnathan terkekeh, "iya dong, papa udah kangen banget sama anak papa yang lucu ini."


Bhara terkikik senang karena mendengar ucapan Johnathan. Natasya melihat mereka sambil tersenyum haru. Gadis itu mengingat masa-masa awal pertemuannya dengan Bhara. Dulu, anak itu terlihat seperti anak yang tidak terurus dan selalu murung, tapi sekarang, Bhara sudah berubah menjadi anak yang sehat dan ceria.


"Bu Natasya," panggil ibu panti yang berjalan mendekati mereka.


"Eh, iya, bu," jawab Natasya.


"Nanti tolong jangan pulang lebih dari jam 10, ya. Kasihan Bhara kalau pulang terlalu malam," ujar ibu panti.


Natasya mengangguk sambil tersenyum, "baik, Bu. Saya akan mengantar Bhara kembali ke panti tepat waktu."


Ibu panti mengangguk dan tersenyum lega. Kemudian, wanita itu berjalan mendekati Natasya dan memegang bahu gadis itu.


"Semoga pernikahan kalian dilancarkan dan bisa membangun keluarga yang bahagia nanti," ucap ibu panti dengan lembut.


Natasya tersenyum kikuk. Di satu sisi, ia masih canggung jika membahas tentang pernikahan. Tapi di sisi lain, ia juga terharu karena ibu panti sangat baik terhadap dirinya.


"Terima kasih doanya, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Natasya.


"Oh... iya, hati-hati di jalan ya," ucap ibu panti kepada Johnathan dan Natasya.


"Bhara, pamit dulu sama ibu panti," kata Johnathan kepada Bhara yang sedang ia gendong.


"Bunda, Bhala pelgi dulu, ya," pamit anak itu.


Ibu panti tersenyum, "iya, Sayang. Hati-hati, ya."


Setelah selesai berpamitan, 'calon' keluarga kecil itu pun segera masuk ke dalam mobil untuk bergegas pergi ke kediaman Adikusuma.


...----------------...


Haloo semuanya....


Author mau menyampaikan terima kasih yang sebsar-sebesarnya kepada para pembaca tercinta yang sudah mendukung novel ini. 😊😊


Dan sebagai wujud rasa terima kasih author, author akan 🚨 update 3 episode sekaligus hari ini 🚨


Minta tolong like, komen, dan vote yaa supaya author semangat dan bisa terus up untuk menghibur kalian ♥♥