
Sudah dua jam semenjak Natasya dan Bhara menghilang. Iya, mereka benar-benar dinyatakan menghilang. Johnathan dan Alan sudah pulang ke kediaman Adikusuma untuk meminta bantuan kepada sang ayah.
Anjani yang diberi tahu bahwa menantu dan cucunya menghilang tanpa kabar langsung terduduk lemas. Nyonya besar Adikusuma itu khawatir terjadi sesuatu pada mereka.
Hendry sudah memanggil pihak kepolisian agar datang ke rumahnya untuk membantu mencari Natasya dan Bhara. Para polisi berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai keberadaan terakhir Natasya dan Bhara.
“Permisi, Tuan Adikusuma,” ucap kepala kepolisian kepada Hendry.
Johnathan, Alan, dan Anjani langsung menghampiri mereka untuk mendengar kabar terbaru yang polisi dapatkan.
“Bagaimana, Pak?” tanya Johnathan berharap ada titik terang tentang keberadaan istri dan anaknya.
“Kami sudah melakukan pengecekan terhadap CCTV yang berada di jalan raya. Di salah satu rekaman CCTV, mobil yang dikendarai oleh korban terlihat dicegat oleh sebuah mobil berwarna hitam, dan salah satu pengendara mobil itu tampak memaksa masuk dan membajak mobil korban,” jelas polisi tersebut.
Keluarga Adikusuma yang mendengar itu pun langsung bertambah panik. Kini sudah jelas bahwa hilangnya Natasya dan Bhara dilakukan oleh seseorang yang memiliki niat jahat.
“Astaga… bagaimana ini, Ayah?” lirih Johnathan cemas.
Hendry mengusap punggung anak sulungnya itu agar lebih tenang, “jangan cemas, kita pasti bisa segera menemukan mereka.”
“Bagaimana kita bisa tenang sekarang? Astaga… menantu dan cucuku…,” lirih Anjani yang sudah menangis panik.
“Tenang, Ibu… Mereka pasti akan segera kembali,” ucap Alan berusaha menenangkan ibunya.
“Lalu, apakah mobil itu sudah berhasil dilacak?” tanya Hendry kepada polisi itu.
“Sayang sekali, kami belum berhasil melacaknya,” kata polisi tersebut, “mobil itu menggunakan plat palsu, sehingga sulit untuk mengetahui siapa pemiliknya.”
“Kira-kira mereka dibawa kemana, Pak?” tanya Johnathan.
“Mobil pelaku dan korban terakhir terekam kamera CCTV di Banten,” jawab polisi tersebut.
“Astaga! Jauh sekali!” seru Johnathan terkejut.
“Kami sudah menghubungi tim kepolisian Banten untuk bekerja sama mengurus kasus ini. Setelah ini, tim kami juga akan berangkat ke sana,” ucap polisi itu.
“Saya mau ikut!” sahut Johnathan.
Polisi itu mengangguk, “baik. Sebaiknya, beberapa anggota keluarga korban ikut pergi bersama dengan kepolisian.”
“Saya juga akan ikut!” seru Alan, lalu menoleh ke arah Hendry, “ayah di rumah saja, temani ibu.”
Hendry dan Anjani mengangguk setuju. Kemudian, mereka pun bersiap untuk berangkat ke Banten.
Grep!
Johnathan menoleh ke arah sang ibu yang baru saja menahan tangannya.
“Tolong bawa menantu dan cucuku pulang…,” mohon Anjani.
Johnathan mengangguk pelan, “pasti, Bu…”
...----------------...
Johnathan dan Alan berada di bangku belakang mobil polisi, bersama dengan dua orang polisi yang duduk di depan. Perjalanan ke Banten memerlukan waktu sekitar dua jam, tapi rasanya waktu berjalan begitu lambat untuk dua orang bermarga Adikusuma itu.
Mereka berdua merasa sangat cemas. Dalam hati, terus merapalkan doa supaya Natasya dan Bhara bisa segera ditemukan dalam kondisi baik-baik saja.
Drrtt… Drrtt…
Johnathan mengambil ponsel yang berdering di saku celananya. Dahinya mengernyit bingung saat melihat nomor tak dikenal meneleponnya.
“Siapa, Kak?” tanya Alan.
“Nomor tidak dikenal,” gumam Johnathan.
“Bisa jadi itu nomor penculiknya,” sahut salah satu polisi yang mendengar pembicaraan mereka.
“Jangan diangkat dulu!” seru polisi.
Panggilan itu pun berakhir, Johnathan semakin panik, “astaga! Kenapa, Pak?! Lihat! Saya jadi melewatkan telepon ini! Padahal ini kesempatan bagus untuk menemukan Natasya!”
“Tenang dulu, Tuan Johnathan,” ucap polisi tersebut, lalu memberi instruksi kepada polisi yang sedang menyetir, “matikan dulu sirine-nya.”
Polisi itu juga memberikan instruksi kepada mobil polisi yang lain untuk mematikan sirine. Polisi itu penuh pertimbangan. Jika Johnathan mengangkat telepon penculik dan sirine masih menyala, penculik itu akan tahu kalau Johnathan sudah memanggil polisi. Itu akan sangat membahayakan Natasya dan Bhara.
Drrrt… Drrrt…
Johnathan kembali mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal itu. Sekarang, polisi memberinya isyarat untuk mengangkat panggilan tersebut dan menyalakan mode loud speaker.
“Halo?” ucap Johnathan setelah panggilan itu tersambung.
“…” hanya ada keheningan di seberang sana.
“Halo? Ini siapa?” tanya Johnathan.
“Cabut tuntutanmu kepada Sabrina dan ceraikan Natasya, jika ingin istri dan anakmu selamat.”
Satu kalimat panjang, lalu panggilan itu langsung diakhiri secara sepihak. Johanthan berusaha untuk memanggil nomor itu lagi, tapi tidak bisa tersambung.
“Astaga! Apa-apaan ini?!” geram Johnathan.
“Sabrina? Wanita itu ada kaitannya dengan penculikan ini?” tanya Alan.
Mereka semua diam sebentar sambil terus memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.
“Sebentar lagi kita akan sampai di kepolisian Banten, kita akan mulai penyelidikan lagi di sana,” final salah satu polisi itu.
...----------------...
Di sisi lain, Natasya baru saja membuka matanya. Hal terakhir yang perempuan itu ingat adalah sebuah mobil menghadang mobilnya, dan dua orang asing memaksa masuk, lalu membius dirinya, Bhara, dan sopir mereka.
“Astaga! Anakku!” panik Natasya saat mengingat bahwa anaknya juga dalam bahaya.
Ia hendak berdiri, tapi tidak bisa. Ternyata kedua tangannya diikat ke belakang, serta kakinya juga diikat menggunakan tali yang tebal. Natasya berusaha menarik tangannya agar tali itu terlepas. Namun, bukannya terlepas, hal itu malah membuat kulitnya terasa panas karena terus bergesekan dengan permukaan tali.
“Dimana ini…,” lirih Natasya.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan ini tampak gelap dan tak terawat. Tidak adaa perabotan sama sekali di dalam ruangan ini. Hanya ada beberapa balok kayu using yang terletak di pojok ruangan.
“Dimana Bhara?” gumam Natasya cemas.
Natasya berada di ruangan itu sendirian. Ia sangat cemas dengan kondisi, serta keberadaan anaknya. Dimana Bhara? Apa dia baik-baik saja? Apa dia sedang ketakutan? Pikiran-pikiran itu terus menghantui Natasya.
“Aku harus segera pergi dari sini dan menyelamatkan anakku,” gumam Natasya.
Natasya berusaha untuk membuka tali itu. Awalnya memang agak perih, tapi ia tetap berusaha tenang dan melepaskannya pelan-pelan. Ia mengerahkan segala kemampuannya untuk melepaskan tali yang terikat erat di tangannya itu.
Dan akhirnya, Natasya berhasil! Tali yang mengikat tangannya sudah terlepas. Sekarang, tinggal melepas tali yang mengikat kakinya, dan ia bisa segera pergi dari sini. Namun, tiba-tiba…
Cklek!
Pintu ruangan itu dibuka dari luar. Natasya yakin itu adalah si penculik, ia pun segera menyembunyikan tangannya lagi ke belakang dan bersikap seolah-olah masih terikat.
“Hai, Sayang…”
Natasya mengernyit bingung mendengar suara itu, lalu ia pun mendongak untuk melihat siapa penculiknya. Alangkah terkejutnya dirinya saat melihat si penculik itu adalah orang yang ia kenal.
“Kak Haikal?!”
...----------------...
Beneran Haikal guys yang nyulik Natasya!!! Kesel juga author sama Haikal ini wkwk...